AS-Arab Saudi Tandatangani Kerja Sama Nuklir

Jakarta, IDM – Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi menandatangani perjanjian kerja sama energi nuklir, yang dikenal sebagai 'Perjanjian 123' pada beberapa waktu lalu.
Baca Juga: ASEAN-AS Tekankan Komitmen Dorong Stabilitas Kawasan
Penandatanganan oleh Menteri Energi AS Chris Wright dan Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman itu akan membuka akses bagi Arab Saudi untuk membangun reaktor nuklir menggunakan teknologi AS. Keduanya juga menandatangani pakta pengamanan bilateral.
"Bersama-sama, kedua perjanjian ini meletakkan dasar hukum untuk kemitraan bernilai miliaran dolar selama beberapa dekade yang memajukan beberapa tujuan ekonomi dan strategis prioritas, termasuk nonproliferasi nuklir," tulis Kementrian Energi AS melalui laman Energy.gov, Kamis (23/7).
Kedua perjanjian itu dirancang untuk memperkuat hubungan bilateral sekaligus kesejahteraan bersama, dengan menjunjung tinggi standar keselamatan serta nonproliferasi nuklir.
Baca Juga: AS Peringatkan Dampak Kendali Iran atas Hormuz
Perjanjian ini pun menjadi awal kerja sama nuklir damai, yang telah dibahas selama bertahun-tahun. Tujuan Arab Saudi mengembangkan energi nuklir diyakini untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































