Aliansi Pertahanan Makkah Aktifkan Komitmen Pertahanan Kolektif

Jakarta, IDM – Turki, Pakistan, dan Arab Saudi sepakat untuk mengaktifkan "komitmen pertahanan kolektif" berdasarkan pakta pertahanan bersama dan mengerahkan pasukan ke Saudi, yang tengah menghadapi ancaman Houthi.
Keputusan itu diumumkan setelah para menteri pertahanan dan luar negeri ketiga negara menggelar pertemuan darurat Komite Strategis-Politik dan Pertahanan Aliansi Pertahanan Makkah di Riyadh pada 5 Oktober lalu, untuk membahas perkembangan situasi keamanan dan ancaman yang dihadapi oleh Arab Saudi.
Ketiga negara pertama kali menandatangani pakta pertahanan bersama pada 7 Agustus lalu. Berdasarkan kesepakatan, serangan terhadap salah satu dari mereka akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya, yang mencerminkan Pasal 5 NATO.
Baca Juga: Selat Hormuz jadi Isu Utama dalam Perundingan Damai Iran dengan AS
"Komite memutuskan untuk segera beralih ke tahap pelaksanaan praktis dari komitmen pertahanan kolektif serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menyediakan kekuatan dan kemampuan militer yang telah disepakati, sekaligus memastikan pengerahan cepat pasukan tersebut ke wilayah Kerajaan [Arab Saudi]," tulis pernyataan bersama melansir laman Kementrian Luar Negeri Pakistan Mofa.gov.pk, Selasa (6/10).
"Hal ini dilakukan sesuai dengan pengaturan yang telah disetujui dan hukum nasional masing-masing pihak, sehingga dapat meningkatkan kesiapsiagaan, integrasi militer, serta kapasitas kolektif dalam menghadapi dan menangkal ancaman," jelasnya.
Lebih lanjut, dikatakan bahwa keamanan masing-masing negara merupakan bagian tak terpisahkan dari keamanan kolektif ketiga negara.
"Perwujudan Pakta Pertahanan Bersama Makkah ke dalam langkah-langkah praktis menunjukkan kredibilitas komitmen pertahanan kolektif, memperkuat efektivitas pencegahan, serta menegaskan kembali persatuan dan tekad ketiga negara untuk mempertahankan keamanan, kedaulatan, dan integritas wilayah mereka, sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam kesepakatan tersebut," pungkasnya.
Baca Juga: Trump Ungkap Alasan Tarik Mundur Pesawat Pengebom B-1 dari Inggris
Keputusan itu diambil di tengah perang saudara yang kembali berkecamuk di Yaman antara koalisi pasukan militer pemerintah Yaman, yang diakui secara internasional, dengan Houthi sejak Juli lalu.
Pasukan pemerintah Yaman yang didukung oleh Arab Saudi itu berkomitmen untuk melancarkan operasi militer guna merebut kembali wilayah dari Houthi sekaligus memulihkan otoritas negara di seluruh wilayah. Kini, mereka mengklaim telah merebut kembali Kota Pelabuhan Mocha di Laut Merah dan menguasai selat strategis Bab al-Mandeb.
Sementara, Houthi mengklaim telah menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan kilang minyak Aramco di wilayah pesisir Rabigh. Namun, belum ada pernyataan dari pihak Arab Saudi terkait klaim tersebut.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































