INTERNASIONAL

Pakar Energi Nuklir Sipil AS ke Jakarta, Ada Apa?

Pakar komunikasi
Pakar komunikasi dan pelibatan publik di bidang nuklir AS Kelle Barfield mendorong dialog konstruktif mengenai energi nuklir sipil di Indonesia. (Foto: Dok. Kedubes AS)

Jakarta, IDM – Amerika Serikat (AS) mendukung masa depan energi khususnya program energi nuklir Asia Tenggara termasuk Indonesia. Komitmen ini diwujudkan melalui kunjungan Kelle Barfield, pakar komunikasi dan pelibatan publik di bidang nuklir dari AS ke Jakarta pada beberapa waktu lalu.

Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Jakarta mengatakan bahwa misi Barfield bagian dari inisiatif 'Freedom 250: American Leadership in Energy Security', yang mendorong dialog konstruktif mengenai energi nuklir sipil guna menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal, memperkuat ketahanan energi, dan menjaga kualitas udara.

Pada Selasa (23/5), Barfield memimpin diskusi mengenai reaktor modular kecil (small modular reactor/SMR) bersama perusahaan-perusahaan energi Indonesia dan pejabat senior pemerintah Indonesia.

Baca Juga: Lebih dari 11.000 Pelaut Terdampar di Selat Hormuz, PBB Mulai Evakuasi

Digelar pula diskusi panel bertajuk "Powering the Future: American Leadership in Clean Nuclear Energy" di @america, Pusat Kebudayaan AS di Pacific Place Mall. Panel ini turut menampilkan anggota DEN Dr. Ir. Sripeni Inten Cahyani dan Pejabat Senior ASEAN Centre for Energy (ACE) Rully Hidayatullah.

Tujuannya untuk mendorong dialog mengenai energi nuklir sipil sebagai masa depan ketahanan energi. "Indonesia tidak memulai dari nol. Negara ini memiliki pengalaman puluhan tahun dengan reaktor riset, serta sumber daya manusia dan keahlian untuk terus mengembangkannya," ujar Barfield.

"Dalam hal nuklir, bukan hanya soal apakah teknologinya berhasil atau berapa biayanya tetapi apakah masyarakat mendukungnya. Di sinilah kerja sama dengan AS memberikan perbedaan nyata: rekam jejak yang panjang dan berhasil dalam bersikap transparan kepada publik serta melibatkan komunitas lokal mengenai manfaat energi nuklir," sambungnya.

Keesokan harinya, ia menggelar diskusi bersama awak media regional mengenai bagaimana negara-negara anggota ASEAN dapat membangun kepercayaan publik dalam mengembangkan energi nuklir canggih guna memperkuat ketahanan energi dan memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat.

Baca Juga: Resmikan Destroyer 5.000 Ton, Presiden Korut Ingin Bangun Kapal Perang Lebih Besar

Ia juga menjajaki perspektif regional dalam mendukung ketahanan energi ASEAN melalui teknologi SMR yang aman dalam pertemuan dengan pejabat dari Sekretariat ASEAN, jaringan sub-sektor Energi Nuklir ASEAN, dan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia.

"AS bangga bermitra dengan Indonesia dan ASEAN dalam memajukan solusi energi nuklir yang aman, transparan, dan berstandar tinggi. SMR merupakan peluang nyata untuk memperkuat ketahanan energi di seluruh kawasan," ujar Juru Bicara Kedutaan Besar AS Jamie Ravetz.

Selain di Jakarta, Bandung menjadi lokasi program ini dilakukan. Barfield bertemu dengan para dosen dan pakar di Institut Teknologi Bandung (ITB) serta para peneliti nuklir di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia juga mendiskusikan lanskap sumber daya energi Indonesia bersama pejabat dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.