Israel dan Hizbullah Kembali Sepakati Gencatan Senjata

Jakarta, IDM – Israel dan Hizbullah telah menyepakati gencatan senjata dan menghentikan pertempuran di Lebanon Selatan pada beberapa waktu lalu. Kesepakatan ini dicapai setelah dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) dan Qatar.
Baca Juga: Swiss: Perundingan AS-Iran Hari Ini Batal
Melansir AP, Sabtu (20/6), kesepakatan itu tercapai setelah baku tembak antara kedua pihak menewaskan 47 orang di Lebanon dan empat personel Pasukan Bersenjata Israel (Israel Defense Forces/IDF).
Penghentian serangan Israel di Lebanon menjadi salah satu prasyarat Iran dalam Nota Kesepahaman (MoU) dengan AS, yang telah ditandatangani secara elektronik. Delegasi AS-Iran awalnya dijadwalkan untuk bertemu di Swiss guna merundingkan kesepakatan lebih lanjut, tetapi dibatalkan tanpa penjelasan lebih lanjut.
Baca Juga: Satgas Kizi TNI Konga XX-V Terima Medali Kehormatan PBB dari Komandan MONUSCO
Sejak ditandatanganinya MoU secara elektronik, Selat Hormuz kembali dibuka dan harga minyak dunia turun secara signifikan. AS juga telah menghentikan blokade angkatan laut atas Iran.
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































