AS & Filipina Gelar Latihan Gabungan Skala Besar 2022

Amerika Serikat (AS) dan Filipina sepakat kembali menggelar latihan militer gabungan skala besar pada 2022. Keduanya berencana mengundang Australia dan Inggris sebagai observer. Proyeksi ini mempertegas upaya pemerintah Joe Biden mempererat bilateral dengan negara-negara di Indo-Pasifik, sekaligus sebagai langkah antisipasi menghadapi sikap asertif Tiongkok.
“AS ingin meningkatkan kompleksitas dan ruang lingkup latihan militer denfan Filipina, dan berencana menggandeng mitra baru untuk bergabung dalam latihan gabungan ini,” ungkap Laksamana John Aquilino, Komandan ke-26 Komando Indo-Pasifik Amerika Serikat, di Manila, seperti dinukil dari Bloomberg, Sabtu (16/10).
Inggris, Australia, dan Jepang adalah nama-nama negara yang muncul dan ditengarai bakal ambil bagian dalam latihan. Demikian disampaikan Kepala Militer Filipina Jose Faustino.
Menanggapi hal ini, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian menyatakan, pihaknya tidak keberatan bila negara lain menggelar latihan militer. “Asalkan mereka tidak menjadikan pihak ketiga sebagai targetnya,” cetusnya.
Proyeksi kerja sama militer ini dibeberkan setelah AS, Inggris dan Australia mengumumkan kerja sama keamanan bulan lalu. Di bawah klausul kemitraan baru ini, Canberra dapat mengembangkan teknologi kapal selam berkekuatan nuklir.
Sementara sejumlah negara di Asia Tenggara khawatir bahwa pakta tersebut akan mengarah pada kompetisi regional di bidang senjata, Filipina secara umum mendukung langkah itu sembari menegaskan, Manila tetap menginginkan hubungan pertahanan yang baik dengan semua negara di Indo-Pasifik.
Sebelumnya dalam masa jabatannya, Presiden Filipina Rodrigo Duterte ingin mengakhiri latihan militer dengan AS. Saat itu, ia berusaha membangun hubungan dengan China. Latihan gabungan dibatalkan pada tahun 2020 dan secara skala diperkecil tahun ini karena pandemi.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, Filipina telah bergerak kembali ke aliansi lamanya dengan AS, di tengah ketegangan dengan Beijing di Laut Cina Selatan. Aquilino juga menegaskan komitmen Amerika bahwa mereka bersama Filipina melawan setiap ancaman.
“AS juga telah mengalokasikan US$ 12,5 juta untuk mengimplementasikan kesepakatan yang memungkinkan proyek-proyek Amerika di pangkalan militer Filipina,” katanya.
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































