ANALISA

Analis Sebut Pakta Pertahanan Makkah Wujud Kebangkitan Multipolar

diplomatic course
(kiri) Atase Pendidikan Kedubes Turki di Jakarta, Selman Özdan dan Pengamat Hubungan Timur Tengah, Pizaro Gozali Idrus saat diplomatic course di Yunus Emre Enstitüsü—Pusat Kebudayaan Pemerintah Turki , Jakarta, Sabtu (24/10). (IDM/Bunga Permata)

Jakarta, IDM – Pakta Pertahanan Makkah yang ditandatangani oleh Turki, Pakistan, dan Qatar pada Agustus lalu merupakan wujud dari bangkitnya multipolar dan upaya membangun integrasi keamanan yang tidak bergantung pada kekuatan besar.

Menurut Pengamat Hubungan Timur Tengah, Pizaro Gozali Idrus dalam diplomatic course di Yunus Emre Enstitüsü—Pusat Kebudayaan Pemerintah Turki, Jakarta, Sabtu (24/10), aliansi ketiga negara itu muncul karena dinamika geopolitik khususnya keamanan sekaligus didorong kebutuhan untuk memperkuat kapasitas yang lebih mandiri.

Baca Juga: Analis Sebut ‘Project Badr’ Wujud Komitmen Membangun Kemandirian Industri Pertahanan

Dengan keunggulan masing-masing negara, aliansi Makkah berpotensi menjadi kekuatan yang solid. Turki kini merupakan salah satu negara yang memiliki industri pertahanan canggih dan battle proven. Lalu, kapasitas nuklir Pakistan dapat memberi payung keamanan yang disegani dunia. Tidak kalah penting, perkembangan aliansi dapat disokong kekuatan ekonomi Qatar.

Sementara, menurut Atase Pendidikan Kedubes Turki di Jakarta, Selman Özdan, Pakta Pertahanan Makkah dapat dipandang lebih luas, bahwa kekuatan politik bukan segalanya. "This not only about political power [Ini bukan sekadar soal kekuasaan politik]," katanya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dalam Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York bulan lalu mengatakan bahwa "Dünya besten büyüktür" atau "Dunia lebih besar dari lima", yang mengkritik Hak Veto lima negara anggota Dewan Keamanan PBB. Kewenangan itu dipandang tidak mencerminkan kesetaraan antarnegara anggota.

Mengutip pernyataan Erdogan tersebut, Özdan menuturkan bahwa aliansi Makkah dapat menjadi awal dari bentuk persatuan yang mencerminkan kesetaraan. Ia juga menyatakan, sudah saatnya negara-negara semakin bersuara untuk membela ketidakadilan, kekerasan dan korban penyelewengan kewenangan pihak tertentu.

Baca Juga: Analis Pertahanan Sebut Dua Pos Wamenhan Berfokus pada Strategi dan Logistik

Bagi Indonesia, momentum bangkitnya multipolar ini perlu dimanfatkan dengan baik. Pizaro menilai, Indonesia dapat memperluas diplomasi multilateral dan mendorong pendekatan keamanan yang inklusif, dengan tetap menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif, sentralitas ASEAN, dan penghormatan terhadap hukum internasional.

Adapun, diplomatic course bertemakan 'Studi Analisis: Pakta Pertahanan Makkah dan Dampaknya Terhadap Dunia' ini diselenggarakan oleh Yayasan Persahabatan Islam Utsmani, yang mempertemukan analis, pelajar hingga masyarakat sipil. Turut hadir Ketua Majelis Umum Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim dan Direktur Yunus Emre Enstitüsü—Pusat Kebudayaan Pemerintah Turki Cemal Şahin.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.