Lompatan Teknologi: Perkembangan Scorpene, Ekspor Lpd ke Filipina hingga Ksot

PT PAL Indonesia diberi mandat untuk mengerjakan proyek pembangunan alat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis, salah satunya adalah kapal selam Scorpene Evolved, yang bekerja sama dengan Naval Group dari Prancis. Bagi Kaharuddin Djenod, Direktur Utama PT PAL Indonesia, ini merupakan lompatan teknologi untuk kemampuan insinyur-insinyur mereka, terutama dalam pembangunan kapal selam, setelah membangun kelas Nagapasa dengan Korea Selatan. Selain itu, PT PAL juga sedang memproduksi kapal selam tanpa awak atau KSOT untuk mengisi blank spot perairan Indonesia. Tak hanya itu, dalam waktu dekat, galangan kapal dalam negeri ini juga akan mengekspor landing platform dock (LPD) ke Filipina untuk digunakan Philippine Navy. Lewat kepemimpinan Kaharuddin Djenod, PT PAL menyatakan siap memproduksi berbagai jenis kapal untuk mendukung kedaulatan nasional dan keamanan maritim. Berikut perbincangan lengkap bersama Indonesia Defense Magazine.
Jakarta, IDM – Kapal selam Scorpene sudah memasuki tahap pra-produksi, apa saja yang akan dikerjakan PT PAL?
Jadi, program kapal selam Scorpene ini adalah kelanjutan dari program kapal selam Nagapasa Class yang sudah pernah dijalankan oleh pemerintahan Indonesia melalui PT PAL Indonesia.
Ini merupakan program kelanjutan. Kenapa saya sampaikan bahwa ini adalah program kelanjutan? Karena ketika kita melakukan berbagai kerja sama pembangunan seperti ini, target yang kita ingin dapatkan adalah bagaimana membangun kemandirian, baik dari sisi fasilitas infrastruktur, maupun dari sisi sumber daya manusia (SDM) dan kemampuan teknologinya. Maka, ini menjadi kelanjutan karena tentunya teknologi kapal selam Scorpene adalah teknologi yang jauh lebih canggih dibandingkan dengan Nagapasa Class.
Sehingga harapannya adalah kita mampu meningkatkan kemampuan SDM, penguasaan teknologi dan manufaktur teknologinya. Ketiga hal ini, ini menjadi target kita, sehingga ini disebut dengan kelanjutan daripada program Nagapasa Class.
Dari sisi teknologi, apa perbedaan antara Nagapasa Class dengan Scorpene?
Ada perbedaan yang cukup mencolok atau signifikan. Dari sisi teknologi, kalau di kapal selam kelas Nagapasa masih menggunakan diesel dan elektrik motor, maka di kapal selam Scorpene ini disebut dengan Evolved. Ini menunjukkan yang akan kita bangun sekarang ini adalah Scorpene dengan teknologi yang paling mutakhir, terutama dengan penggunaan baterai litium.
Ini menjadi satu lompatan teknologi, dan dari tipe Scorpene, Indonesia yang pertama. Indonesia yang pertama kali akan membangunnya tipe Evolved ini, dan Indonesia juga akan pertama kali menggunakan itu.
Berapa insinyur PT PAL yang dikirim ke Prancis untuk belajar tentang kapal Scorpone?
Kalau di program sebelum-sebelumnya, baik itu program untuk kapal selam maupun program untuk kapal permukaan lain, kita selalu menggunakan Transfer of Technology (ToT) itu dengan metode pembangunannya di sana, dan kemudian kita mengirim tim besar untuk belajar proses pembuatannya.
Tapi di program Scorpene ini sangat berbeda. Program Scorpene ini ToT-nya adalah dengan 100 persen dibangun di Indonesia. Jadi sesuatu yang sangat berbeda. Kalau dulu kita mengirim tim besar ke negara pembangunnya, kemudian tim besar itu belajar di sana, kembalike Indonesia menerapkan atau tidak (ilmunya), ya itu tergantung dari program selanjutnya.
Tetapi di sini ToT sudah langsung 100 persen dibangun di Indonesia. Ini transfer teknologi yang sebenarnya. Kalau sebelumnya mungkin boleh dikatakan masih sedikit abal-abal mungkin, kalau boleh dibilang.
Maka transfer teknologi dengan metode yang seperti sekarang ini adalah yang sebenarnya. Kemudian, untuk bisa mencapai target itu, maka kita melakukan persiapan-persiapan pra-produksi.
Ini kami mengirim SDM langsung ke Cherbourg, Prancis, galangan kapal Naval Group yang memang khusus untuk kapal selam Scorpene maupun Barracuda.
Kami mengirim ke sana beberapa orang, 20 (insinyur) dalam dua tahap, sehingga totalnya 40 orang kami kirim. Yang mana 40 orang ini dididik di sana, dan kemudian kembali ke sini untuk mendidik tim yang lain, beserta dengan supervisor tentunya. Dan tenaga ahli dari Prancis datang ke sini melakukan pelatihan-pelatihan. Proses ini hampir selesai dilaksanakan, sehingga kami sudah bisa memasuki nanti pada Juli, ini kami sudah akan (melaksanakan) first steel cutting. Jadi secara timeline di dalam kontraknya itu harusnya pada Oktober, tetapi ini kami bisa percepat. Jadi pada Juli kami sudah bisa melakukan first steel cutting.
Dari segi infrastruktur, apakah ada penyesuaian dari PT PAL untuk membangun kapal selam Scorpene?
Tentunya ada. Yang pertama adalah dari sisi ukuran. Ukuran Nagapasa Class dengan Scorpene ini berbeda. Sehingga dengan perbedaan ukuran ini, membutuhkan tambahan infrastruktur yang harus disiapkan.

Kedua adalah (pembangunan Scorpene dibanding Nagapasa Class) sangat berbeda dalam hal metode manufakturnya. Kalau sebelumnya di program Nagapasa Class itu dengan Korea Selatan, ini dengan Prancis. Jadi perbedaannya cukup signifikan dari dalam hal metode manufakturnya.
Apa perbedaan dari segi manufakturnya?
Secara filosofi pembangunan kapal selam sama, tidak ada bedanya. Kalau Korea Selatan itu lebih menitikberatkan pada teknologi manufacturing dari Jerman. Sementara Prancis membuat metodologi sendiri pembangunannya. Secara filosofi sama, tetapi metode dan urutan untuk membuatnya itu yang berbeda.
Jadi misalnya, dalam membangun frame bulatan dengan diameter tertentu, di mana material daripada kapal selam ini adalah material yang khusus. Kalau dari Korea Selatan dulu menggunakan (baja) HY80 dan HY100, maka Prancis ini menggunakan tipe yang berbeda. Meskipun secara karakteristik materialnya boleh dikatakan hampir sama. Ada perbedaan, tapi sedikit.
Maka material yang khusus ini dalam proses untuk melakukan bending, pengelasan, dan sebagainya, ini dibutuhkan treatment khusus dibandingkan dengan baja lain. Jadi material baja, untuk misalnya kapal fregat atau kapal-kapal perang permukaan lain, ini sangat berbeda.
Jadi material khusus ini harus dipanaskan pada suhu tertentu, baru kemudian bisa dilakukan proses-proses selanjutnya, baik itu bending maupun welding dan sebagainya. Nah ini urutan-urutannya berbeda.
Lini masa pembangunan Scorpene, ada target tertentu?
Jadi memang secara kontrak, delivery daripada Scorpene unit pertama ini adalah pada 2032. Jadi total pembangunan itu tujuh tahun. Total pembangunan tujuh tahun. Nah, target kami adalah mempercepat itu.
Naval Group juga sudah mendapatkan pesan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Ketika itu Naval Group, CEO nya bersama dengan saya, langsung mendapatkan pesan dari Presiden Prabowo Subianto agar (pembangunan Scorpene) harus dipercepat.
Meskipun sampai saat ini kami masih terus melakukan adjustment untuk bisa melakukan percepatan, tapi adjustment ini belum selesai. Sehingga yang kami lakukan adalah di setiap milestone atau tahapan, ini kami harus percepat. Dengan cara tadi, seperti first steel cutting, dari Oktober kami percepat menjadi Juli. Sembari secara paralel, adjustment ini kami lakukan.
Sehingga mudah-mudahan dalam waktu tidak lama lagi, berapa bulan ke depan, kami sudah bisa membuat perkiraan delivery Scorpene tahun berapa. Tapi kami menargetkan jauh lebih cepat daripada (pembangunan) tujuh tahun tadi.
Selain kapal selam Scorpene, PT PAL membangun KSOT. Bagaimana perkembangannya? Apakah sudah teken kontrak dengan Kementerian Pertahanan RI?
Sekarang sedang persiapan kami dalam hal infrastruktur untuk mass product, sudah siap, sudah selesai, dan kami sedang masuk dalam tahapan produksi massal saat ini.
Cuma memang kami tidak bisa menyampaikan beberapa jumlah yang sedang dibangun dan sebagainya. Tapi yang jelas sudah masuk dalam tahapan mass product.
Kemudian, sekali lagi saya ingin menyampaikan bagaimana hubungan antara KSOT dengan Nagapasa Class maupun Scorpene. Jadi kalau di Nagapasa Class, kami masih bekerja sama dengan Korea Selatan, kemudian kalau Scorpene kami bekerja sama dengan Prancis. Maka KSOT ini kami tidak bekerja sama dengan siapa pun. Kami sudah mandiri, full PT PAL, full Indonesia. Kami juga melibatkan industri-industri dan perusahaan-perusahaan lain di luar PT PAL, tetapi semuanya masih Indonesia. Jadi ini full Indonesia.

Yang kedua adalah, antara KSOT dengan Scorpene maupun Nagapasa Class, ini meskipun sama-sama kapal selam, dari sisi ukuran tentunya kalah jauh, tetapi tidak dari sisi teknologi. Dari sisi teknologi, ini KSOT atau kapal selam lain yang nirawak, memiliki teknologi yang sebenarnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kapal selam yang berawak. Baik itu dari sisi kontrol, apalagi sekarang kalau nirawak itu harus menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dan ini yang tidak ada di kapal selam berawak. Ini semuanya ada di dalam KSOT.
Sehingga sebenarnya, kalau di program Scorpene itu kami ingin membangun tim yang kuat, untuk membangun satu kapal selam berawak dengan teknologi safety untuk anak buah kapal (ABK) atau awaknya, itu yang tertinggi targetnya, maka di KSOT adalah kami membangun tim untuk bisa mencapai teknologi kontrol dan operasional yang tertinggi. Jadi kedua hal ini akan kita dapatkan dalam program ini.
Untuk sistem command and control KSOT dari PT PAL sendiri?
Iya, semuanya dari PT PAL sendiri.
Dengan pencapaian sampai saat ini, apakah PT PAL siap membangun kapal selam atau kapal lain untuk melindungi laut Indonesia?
Jadi persiapan dilakukan oleh PT PAL untuk mencapai di level teknologi safety yang tertinggi itu dengan program Scorpene. Dan level persiapan untuk teknologi kontrol dan operasional yang tertinggi adalah program KSOT. Maka ketika ini yang kami dapatkan, PT PAL sudah siap untuk bisa memenuhi kebutuhan angkatan laut kita.
Mau tipe kapal selam apa pun, kita sudah akan siap. Mulai dari desain sampai penggunaan akhir (full combat). Jadi sebenarnya langkah-langkah ini dimulai dari program Nagapasa Class, kemudian KSOT, dan terakhir di Scorpene. Ini adalah persiapan kami untuk mandiri, dan kami sudah akan bisa mencapai itu dalam waktu dekat.
Untuk pembangunan Fregat Merah Putih (FMP), target kapan sampai bisa full combat?
FMP unit pertama sudah kita launching ya, Desember 2025, kemudian kami akan delivery di September (2026), sehingga 5 Oktober (HUT ke-81 TNI) nanti bisa melakukan sailing pass bersama-sama, sembari itu persenjataan satu per satu akan dilengkapi tentunya.
Karena boleh dikatakan persenjataan kita masih tergantung dari luar, sehingga memang kita tidak bisa melakukan kontrol secara penuh untuk terkait dengan timeline pengadaannya. Tetapi ini akan dipenuhi terus, bertahap ya.
Terus kemudian untuk FMP unit kedua kami juga akan launching tahun depan, dan enam bulan setelah itu kami akan delivery.
Jadi secara timeline, kami sudah menjaga agar ini bisa lebih cepat daripada kontrak. Kami bisa melakukan lebih cepat lagi.
Dan ini yang paling penting, dari sisi equipment dan persenjataan, sama juga seperti program kapal selam, kami sedang melakukan upaya-upaya untuk bisa membangun equipment dan persenjataan itu secara mandiri. Jadi equipment di FMP unit pertama saja itu sudah beberapa peralatan yang kami bangun sendiri.
Peralatan apa saja yang dibangun sendiri?
Kemarin itu kami sudah di tahap V-bracket, I-bracket, terus kemudian yang tadinya itu sudah akan pesan (peralatan) dari luar, membutuhkan waktu enam bulan, harganya juga lumayan, kemudian kami kerja sama dengan PT Barata Indonesia (Persero). Kami coba kondisikan Barata, BUMN kita, kami kondisikan bagaimana agar Barata ini mampu membuat itu, di bawah advice dari PT PAL dan Lloyd’s Register sebagai perusahaan yang melakukan sertifikasi, dan ternyata kita mampu.
Yang tadinya itu pesan dari luar negeri membutuhkan enam bulan, PT Barata itu mampu membangun dalam waktu dua bulan. Dua bulan itu sudah dengan sertifikasi dari Lloyd’s Register Inggris.
Jadi bukan sekadar bisa membuat, tapi kualitasnya pun juga bisa (bersaing). Dua bulan dibandingkan dengan enam bulan buatan luar negeri. Dan lagi harganya 50 persen dari harga luar negeri.

Nah, hal-hal seperti ini yang harus kita terus tingkatkan. Di Fregat Merah Putih 2 akan lebih banyak lagi yang kami buat. (Penguasannya) sudah lebih banyak lagi, apalagi nanti Fregat Merah Putih 3 dan 4 sudah akan lebih banyak lagi (penguasaannya). Dan dari sisi teknologi manufacturing, itu lebih sophisticated, lebih canggih dan sebagainya, itu kami sudah akan bisa membuat.
Satu lagi, di persenjataan juga demikian. Mudah-mudahan nanti di pertengahan tahun depan, kami sudah bisa membuat main gun untuk kapal fregat dan sebagainya. Jadi meriam dengan kaliber yang besar, kami sudah bisa membuat itu. Nah ini yang terus kami kejar. Proses pembangunan yang selama ini, PT PAL sudah melakukan perbaikan dalam hal proses pembangunan, desain, kinerja SDM dan sebagainya, kita sudah bangun. Tetapi kita masih tergantung.
Equipment utama kita dan persenjataan kita tergantung dari luar. Sementara dari pabrik-pabrik luar negeri ini, mereka memiliki tiga prioritas. Prioritas pertama itu adalah prioritas yang akan diberikan kepada kebutuhan dalam negeri mereka. Prioritas kedua diberikan untuk kebutuhan untuk negara-negara yang satu blok dengan mereka. Satu aliansi. Sementara kita tidak berada dalam aliansi mana pun.
Sehingga kita berada di prioritas ketiga. Maka kemudian, sebagai contoh, kalau kita pesan multifunction radar misalnya. Kalau untuk negara mereka, mereka bisa selesaikan dalam waktu 10 bulan, 12 bulan, selesai. Kita? Bisa 28 bulan. Karena kita masuk dalam prioritas ketiga. Tapi ini bukan kita jadikan sebagai alasan untuk kita terlambat dalam pembangunan. Maka, kita akan bangun semua itu secara mandiri. Sehingga kedepannya pembangunan alutsista, ini akan jauh lebih cepat.
Kemampuan atau teknologi apa lagi yang ingin dicapai PT PAL untuk mencapai tahap selanjutnya?
Pertama dari sisi infrastruktur. Infrastruktur di sini terkait juga dengan kecepatan dalam proses pembangunan. Kalau sebelumnya, kapal-kapal sekelas fregat, itu proses pembangunan di dalam dock-nya itu 22 sampai 24 bulan. Maka kami sekarang sudah bisa mempercepat menjadi delapan bulan. Bahkan kita bisa lihat LPD Filipina, yang unit pertama, kami launching di 30 Juni (2026). Ini artinya pembangunannya enam bulan.
Jadi pemampatan-pemampatan ini dari 24 bulan menjadi enam bulan, ini sudah menunjukkan bagaimana transformasi di PT PAL telah menghasilkan sesuatu yang luar biasa besar. Itu yang pertama
Kedua adalah tentang kinerja. Sekarang, semua sudah berbeda dengan PT PAL yang dulu. Kinerja sekarang luar biasa. Mereka bisa mengukur kinerja itu dari ponsel mereka, handphone (HP) yang kami bagikan ke seluruh pegawai. Ini bukan HP biasa, tapi HP kerja memang. HP ini kami bagikan dan mereka bisa melihat kinerja mereka sehari-hari. Ini yang membuat mereka bisa memacu diri mereka sendiri untuk menjadi jauh lebih efektif dan efisien dalam bekerja.
Ketiga adalah dari sisi kemampuan finansial. PT PAL dulu, hampir 20 tahun itu dikekang dengan kolektibilitas 5, maka tahun 2024, semester I kemarin, kami sudah bisa menormalkan kembali PT PAL menjadi kolektibilitas 1. Nah ini dari sisi kemampuan finansial, sehingga sekarang sudah cukup banyak lembaga keuangan yang kemudian menawarkan diri bahkan untuk bisa berinvestasi di PT PAL. Apalagi grade dari investasi PT PAL saat ini sudah BBB. Tahun ini akan menjadi triple BBB+. Ini sangat-sangat menarik bagi para investor untuk bisa investasi.
Kemudian dari sisi teknologi. Dari sisi teknologi, kemampuan desain PT PAL ini sudah akan berubah. Yang tadinya penggunaan gambar, drawing dan sebagainya itu masih 2D, dengan dicetak di kertas dan sebagainya, ini sudah berubah menjadi 3D. Jadi semua sudah bekerja dengan dimensi 3D. Ini akan jauh lebih cepat lagi. Itu dari sisi teknologi dan penguasaan teknologi untuk berbagai jenis kapal. Mulai dari kapal selam, kapal permukaan dan sebagainya, kita sudah menguasai semuanya.
Jadi kalaupun sekarang ditantang, PT PAL bisa tidak membuat kapal selam sendiri dengan desain sendiri? Kami sudah siap. Bahkan kapal induk pun, desain sendiri dan kami (bisa) bangun, kami sudah siap semuanya. Kapal induk kami siap.
Sekarang tinggal bagaimana strategi dari pada pemerintah, strategi bagaimana TNI kita untuk membangun itu semuanya. Dari sisi kesiapan, PT PAL telah menyiapkan diri untuk bisa memenuhi semua kebutuhan daripada TNI Angkatan Laut.
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.



















































































