INTERVIEW

Peran Strategis Koarmada I Jaga Stabilitas Wilayah Barat Perairan Indonesia

Haris Bima Bayuseto
Panglima Komando Armada (Koarmada) 1, Laksamana Muda TNI Haris Bima Bayuseto. (IDM/Muhammad Hidayat)

Laksamana Muda Haris Bima Bayuseto Panglima Komando Armada I

Sebagai komando utama operasional di bawah jajaran Komando Armada Republik Indonesia, Komando Armada (Koarmada I) memegang peran vital dalam menjaga kedaulatan maritim di kawasan barat Nusantara. Wilayah tanggung jawabnya mencakup jalur laut paling sibuk dan strategis, mulai dari Sabang dan perairan Sumatra, Selat Malaka dan Selat Singapura, Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, hingga Laut Natuna Utara yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan. Berkedudukan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, satuan ini menjalankan beragam tugas mulai dari operasi intelijen maritim, operasi tempur laut, operasi militer selain perang (OMSP), hingga pembinaan kesiapan operasional. Semua itu diarahkan untuk memastikan keamanan sekaligus menegakkan kedaulatan negara di perairan barat Indonesia. Dalam wawancara eksklusif bersama Indonesia Defense Magazine, Panglima Koarmada I Laksamana Muda Haris Bima Bayuseto menegaskan pentingnya peran strategis jajarannya. Ia mengakui, menjaga stabilitas di kawasan barat bukan perkara mudah. Pola ancaman yang semakin beragam menuntut peningkatan kemampuan armada dan personel, terutama dalam mencegah aktivitas ilegal. Peran intelijen, menurutnya, menjadi kunci keberhasilan setiap operasi. Selain tugas tempur, Koarmada I juga aktif melaksanakan OMSP. Salah satu contohnya adalah misi kemanusiaan di Aceh dan Sumatra pada akhir November 2025, ketika banjir dan longsor melanda wilayah tersebut. Berikut petikan wawancara lengkap bersama Indonesia Defense Magazine.

Jakarta, IDM – Koarmada I mengawal perairan paling krusial di gerbang barat Nusantara. Apa yang menjadi prioritas operasi Anda dalam memelihara stabilitas?

Fokusnya itu, tentunya sesuai tugas kita. Angkatan Laut memiliki tiga pilar utama, yaitu stabilitas keamanan laut, jaminan keselamatan pelayaran, serta tegaknya kedaulatan hukum. Kami menggelar operasi berkelanjutan lewat patroli rutin dan spionase maritim. Selain itu, kolaborasi lintas instansi menjadi krusial demi menyumbat segala celah pelanggaran di perairan kita.

Jadi fokus kita ya memastikan bahwa wilayah-wilayah ini aman, aman daripada pelanggar kedaulatan maupun aman daripada pelanggar-pelanggar keamanan. Sehingga apa yang melintas di kawasan ini mereka merasa nyaman dan aman. Itu fokusnya di situ, intinya di situ.

Fokus utama adalah memastikan wilayah ini aman untuk dilalui, sejauh ini apakah tantangan bagi Koarmada I?

Tantangannya banyak. Yang jelas kita ini kan wilayahnya strategis. Kita saja berbatasan dengan Vietnam, India, Thailand, Malaysia, Singapura. Tentunya ini sangat membutuhkan perhatian ekstra. Karena di dalam di laut sendiri, ada batasan-batasan hukum nasional. Jangan sampai ini kita bersinggungan dengan mereka. Tantangannya itu yang pertama. Yang berikutnya adalah karena kita dekat dengan negara-negara ini, tentu masalah keamanan jadi hal yang utama untuk kita perhatikan. Keamanan ini lebih kepada banyaknya model-model atau gangguan-gangguan atau kejahatan-kejahatan yang selalu bertransformasi.

Contohnya, dulu mungkin penyelundupan orang itu pakai kapal pompong, sekarang pakai speed boat kecepatan tinggi, dia memanfaatkan satelit dan sebagainya. Ini tantangan-tantangan yang harus kita hadapi. Jadi kita harus update kekuatan, update sumber daya manusia, termasuk yang paling penting adalah intelijen.

Bagaimana Anda memosisikan Koarmada I sebagai benteng terdepan di wilayah barat?

Kami berperan sebagai first responder. Artinya, personel harus senantiasa tangkas dan adaptif menyongsong dinamika ancaman, baik serangan militer maupun gangguan nonmiliter. Kehadiran KRI di tengah laut adalah representasi nyata negara dalam mengamankan kepentingan nasional.

Koarmada I sempat menerjunkan satgas bencana di Aceh hingga Sumatra Barat. Apa bentuk dukungan konkret di lapangan dan apa rintangan tersulitnya?

November 2025, malam hari kami langsung dapat perintah untuk mengerahkan kekuatan. Nah, dari Panglima Armada RI saat itu langsung sigap membentuk sebuah organisasi tugas dengan kami sebagai Gugus Tugas. Kami mengerahkan kapal perang, menyalurkan logistik, mengevakuasi korban, hingga membuka akses daerah terisolasi. Alhamdulillah Koarmada I punya KRI-KRI yang sudah siap untuk melaksanakan perintah tersebut.

Haris Bima Bayuseto
(IDM/Muhammad Hidayat)

Sementara untuk kendala utamanya adalah cuaca ekstrem dan medan yang sukar ditembus. Akibat sulitnya akses pengiriman logistik sempat terkendala, namun, distribusi bantuan tetap berjalan berkat koordinasi yang solid antarinstansi.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari misi kemanusiaan tersebut untuk memperkuat mitigasi bencana ke depan?

Kecepatan pengambilan keputusan dan interoperabilitas antarlembaga adalah kunci. Kami melihat mobilisasi bantuan melalui jalur laut terbukti sangat mangkus. Ke depan, kami bakal mengintensifkan latihan bersama guna mempertajam kesiapsiagaan unsur laut.

Selat Malaka dan Natuna adalah urat nadi pelayaran dunia. Bagaimana cara Koarmada I meredam potensi gangguan di tengah padatnya lalu lintas internasional?

Kita lakukan operasi rutin. Operasi rutin di wilayah kita sendiri. Kita ada beberapa KRI yang selalu operasi, baik di Selat Malaka maupun kearah Natuna. Berikutnya adalah kita kolaborasi, kita berteman atau kita berkawan dengan negara perbatasan di mana mereka juga menggunakan wilayah itu. Harapannya mereka juga bisa memberikan informasi ke kita, kalau ada hal-hal yang tidak benar, begitu juga sebaliknya.

Pada dasarnya kami menerapkan strategi patroli berlapis dan operasi terpadu. Pemanfaatan sistem pemantauan maritim berbasis teknologi juga kami optimalkan. Tujuannya jelas, memastikan pelayaran internasional tetap aman tanpa memberi ruang bagi kejahatan transnasional maupun pelanggaran kedaulatan.

Seberapa sering dilakukan, Panglima?

Kita patroli rutin 365 hari, sepanjang tahun. Dengan dibedakan hanya sektor-sektornya saja. Misalnya sektor A, ini sektor B, nanti change. Ada juga patroli bersama, namanya patkor, patroli terkoordinasi.

Haris Bima Bayuseto
(IDM/Muhammad Hidayat)

Patkor itu, per triwulan ada. Jadi satu tahun itu dibagi per triwulan, nanti kita patkor sama Singapura, sama Thailand. Bahkan sama India pun kita ada, di Laut Andaman sana, kita punya. Ini yang harus kita laksanakan, operasi dengan mereka dan kita sepakat mengamankan tadi kejahatan-kejahatan nontradisional. Tidak mungkin kita bisa patroli sendiri.

Jenis ancaman apa yang paling menonjol di kawasan tersebut saat ini?

Saat ini ancaman nontradisional lebih mendominasi, mulai dari penyelundupan, pencurian ikan (illegal fishing), hingga kejahatan lintas negara. Meski begitu, kami tidak boleh lengah sedikitpun terhadap potensi ancaman militer konvensional.

Bagaimana strategi pengamanan untuk pulau-pulau terluar seperti Sabang hingga Natuna?

Strateginya adalah “kehadiran permanen”. Kami menempatkan unsur TNI AL secara terus-menerus, melakukan pembinaan potensi maritim, dan bersinergi dengan masyarakat pesisir. Kami ingin rakyat di perbatasan merasakan rasa aman yang nyata.

Presiden Prabowo Subianto menaruh atensi besar pada pemberantasan penyelundupan timah. Bagaimana impak kebijakan tersebut bagi personel di lapangan?

Instruksi Presiden memberikan suntikan moral dan legitimasi yang kuat. Dampaknya terasa pada eskalasi intensitas operasi dan terciptanya efek gentar bagi para pelaku. Koordinasi penegakan hukum di laut kini juga menjadi jauh lebih cair.

Haris Bima Bayuseto
(IDM/Muhammad Hidayat)

Apakah intensitas penindakan penyelundupan timah meningkat secara signifikan? Lalu, benarkah aktivitas ilegal tersebut mulai menyusut?

Benar, intensitas operasi kami lipat gandakan. Berdasarkan evaluasi di lapangan, aktivitas para penyelundup mulai melandai. Namun, kami tetap waspada karena mereka kerap mengubah modus operandi untuk mengelabui petugas.

Baca Juga: Membangun Jiwa, Mengawal Samudra: Strategi Operasi Senyap Kopaska di Era Peperangan Berteknologi Tinggi

Aspek apa yang menurut Anda mendesak untuk diperkuat di internal Koarmada I saat ini?

Modernisasi alutsista adalah keharusan. Namun, harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia serta penguatan sistem intelijen berbasis teknologi. Ketiga komponen ini merupakan instrumen vital dalam menghadapi kompleksitas keamanan laut masa kini.

Melihat dinamika di Indo-Pasifik, bagaimana Anda memproyeksikan peran Koarmada I dalam beberapa tahun mendatang?

Koarmada I akan bertransformasi menjadi penjaga stabilitas regional di kawasan Indo-Pasifik bagian barat. Orientasi kami tidak melulu soal pertahanan, tetapi juga memperkuat diplomasi maritim dan kerja sama internasional untuk menangkal ancaman global yang kian cair.

Apa pesan Anda bagi para prajurit yang tengah bertugas mengawal kedaulatan bangsa?

Saya menginstruksikan seluruh prajurit Koarmada I untuk senantiasa memegang teguh prinsip SIGAP. Pertama, mereka harus memiliki kesiapan atau Siap, yang berarti bermental baja dengan kesiapan total pada setiap lini, mulai dari personel, alutsista, hingga sistem komando demi operasi yang prima. Kedua adalah Integritas, yakni senantiasa bersikap jujur, bermoral, dan konsisten dalam menjalankan hal-hal yang benar. Prajurit juga harus Gigih, memiliki semangat juang yang tidak pernah luntur dan pantang menyerah meski berada di bawah tekanan yang hebat. Selain itu, mereka wajib bersikap Adaptif, yakni piawai membaca situasi dengan cepat dan mengambil tindakan yang tepat, karena keunggulan kita di laut sangat ditentukan oleh kecepatan beradaptasi terhadap perubahan. Terakhir adalah Profesional, di mana disiplin, kompetensi, dan kehormatan harus menjadi napas utama kekuatan maritim kita dalam menjaga kedaulatan bangsa. (Nurhidayat Nasution dan Aini Tirtania)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.