INTERVIEW

Membangun Jiwa, Mengawal Samudra: Strategi Operasi Senyap Kopaska di Era Peperangan Berteknologi Tinggi

Komandan Komando Pasukan Katak (Dankopaska) Komando Armada (Koarmada) RI, Laksamana Pertama TNI Sadarianto.
Komandan Komando Pasukan Katak (Dankopaska) Komando Armada (Koarmada) RI, Laksamana Pertama TNI Sadarianto. (IDM/Muhamad Hidayat)

Komandan Komando Pasukan Katak Komando Armada Ri, Laksamana Pertama TNI Sadarianto

Menyandang status sebagai satuan elite bukan sekadar perkara kepemilikan alutsista mutakhir, melainkan ketangguhan mental yang melampaui batas fisik. Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut kini tengah memacu modernisasi perangkat tempur sekaligus memperkokoh integritas prajuritnya melalui pendekatan yang humanis namun tetap disiplin.
Dalam bincang mendalam bersama Indonesia Defense Magazine pada Mei 2026, Komandan Komando Pasukan Katak (Dankopaska) Komando Armada (Koarmada) RI, Laksamana Pertama TNI Sadarianto membedah visi strategisnya, mulai dari tantangan pemenuhan kapal cepat, kesiapan menyambut kapal selam kelas Scorpene, hingga taktik pertempuran jarak dekat di objek vital nasional yang didukung perangkat robotika terbaru.

Jakarta, IDM – Laksamana, sebelum membedah aspek strategis, bolehkah Anda menceritakan rekam jejak karier Anda? Kami dengar proses menjadi seorang “Manusia Katak” tidaklah sederhana.

Saya meyakini seluruh perjalanan ini terjadi atas izin Tuhan. Saya lahir di Pulau Kampai, Sumatra Utara, dan menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Laut (AAL), dan lulus pada tahun 2000. Di Akademi Angkatan Laut, terdapat lima korps: Pelaut, Teknik, Elektro, Suplai, dan Marinir. Sebagai Korps Pelaut, saya mengawali dinas di KRI Sura-802 dan KRI Multatuli-561.

Momen krusial terjadi saat saya menjabat sebagai perwira divisi navigasi di KRI Karel Satsuitubun-356. Untuk menjadi pasukan katak, jalannya berliku; saya harus meminta izin berjenjang mulai dari perwira divisi, perwira pelaksana, hingga Komandan KRI. Saat kapal tersebut menjalani pemeliharaan besar (repowering), saya akhirnya menempuh pendidikan selama sepuluh bulan. Pascapelantikan, saya banyak bertugas di Surabaya, termasuk menjabat Kepala Seksi Utak-Atik Teknik Pertempuran. Saya bahkan sempat “bersilaturahmi ke semesta lain” dengan menempuh pendidikan Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat (Seskoad) guna memperluas wawasan antarmatra. Secara akumulatif, saya telah mendedikasikan 22 tahun pengabdian di korps baret merah marun ini.

Saat menjabat sebagai Komandan Sekolah Kopaska (Dansekopaska) untuk angkatan 42 dan 43, nilai mendasar apa yang Laksamana tanamkan kepada para calon prajurit?

Filosofi saya adalah “Bangunlah jiwanya, baru badannya.” Fisik prajurit sejatinya hanya mengikuti kekuatan mentalnya. Kopaska adalah satuan volunteer (sukarelawan). Saya ingat betul saat awal menjabat Dansekopaska, ada enam siswa yang sedang dirawat di Tempat Penginapan Sementara (TPS). Saya tantang mereka, “Kamu mau lanjut atau tidak? Kalau lanjut, ayo bangkit bersama saya.” Empat di antaranya berhasil lulus. Jika jiwa sehat, fisik yang sakit pun mampu bangkit.

Terkait target kepemimpinan, bagaimana Laksamana menentukan standar kompetensi prajurit di tengah era High-Tech Warfare?

Fokus utama saya adalah menyelaraskan profesionalisme prajurit dengan perkembangan teknologi tempur terkini. Pertama, kami memprioritaskan pemenuhan kebutuhan material khusus dan persenjataan yang sesuai dengan kebutuhan tempur Kopaska saat ini, yang tentunya disesuaikan dengan kebijakan anggaran pemerintah.

Kedua, saya berkomitmen meningkatkan profesionalisme prajurit melalui pola latihan yang bertahap, bertingkat, dan berlanjut. Prajurit harus dibekali wawasan mengenai peperangan era terkini, sehingga mereka memiliki pemahaman mendalam baik tentang peperangan konvensional maupun asimetris. Terakhir, kami melaksanakan pembaruan (update) software terkait taktik pertempuran pasukan khusus, dalam hal ini Kopaska, yang disesuaikan dengan evolusi teknologi serta peralatan tempur yang kami miliki. Intinya, sinkronisasi antara alat dan operator harus sempurna.

Mengingat Satuan Kopaska Koarmada III di Sorong masih tergolong baru, bagaimana strategi pimpinan dalam mempercepat pemenuhan personel di sana agar kekuatannya setara dengan Koarmada I dan II?

Pemenuhan personel di wilayah Timur menjadi prioritas strategis kami. Langkah pertama adalah dengan meningkatkan asupan (intake) siswa dalam setiap gelombang pendidikan Kopaska. Kedua, kami melakukan strategi rotasi dan mutasi personel dari Satuan Kopaska Koarmada I dan Koarmada II untuk mengisi pos-pos di Koarmada III. Dengan memindahkan personel yang sudah berpengalaman ke Sorong, kami berharap terjadi percepatan transfer ilmu sehingga standar profesionalisme dan kekuatan tempur di sana segera setara dengan satuan yang sudah lebih dulu mapan.

Komandan Komando Pasukan Katak (Dankopaska) Komando Armada (Koarmada) RI, Laksamana Pertama TNI Sadarianto.
Komandan Komando Pasukan Katak (Dankopaska) Komando Armada (Koarmada) RI, Laksamana Pertama TNI Sadarianto. (IDM/Muhamad Hidayat)

Pada Maret 2023, KSAL menyebutkan Kopaska masih kekurangan unit Sea Rider. Bagaimana progres pemenuhannya saat ini? Apakah jumlahnya sudah ideal untuk menunjang operasi khusus kita?

Jumlah Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB) atau perahu karet cepat berlambung kaku di satuan Kopaska Koarmada saat ini memang belum memenuhi kebutuhan standar. Namun, kami melakukan beberapa langkah strategis untuk mengatasinya. Pertama, kami melakukan perawatan yang sangat baik terhadap unit RHIB yang sekarang masih ada sehingga memiliki masa pakai yang maksimal. Kedua, kami melakukan perbaikan yang optimal terhadap unit yang rusak sehingga bisa segera digunakan kembali.

Ketiga, terkait pengadaan unit baru, kami menyesuaikannya dengan kebijakan anggaran pertahanan pemerintah saat ini. Meski secara kuantitas belum ideal, Kopaska berusaha sebaik mungkin mengoptimalkan seluruh kemampuan yang ada untuk mendukung setiap penugasan yang masuk. Kami memastikan keterbatasan unit tidak menghambat efektivitas operasional di lapangan.

Bagaimana Anda melihat peran para sesepuh atau purnawirawan dalam pengembangan taktik Kopaska di masa depan?

Sangat vital. Kopaska ada di titik sekarang adalah hasil dari mimpi, pengorbanan, dan didikan mereka. Seperti pada rangkaian HUT Kopaska kemarin, saya menginstruksikan para direktur untuk mengundang para purnawirawan. Tujuannya adalah untuk “belanja masalah”.

Kami duduk bersama dan menyerap masukan dari mereka mengenai situasi zaman ini. Apa yang bisa kita lanjutkan dan teruskan dari fondasi yang mereka bangun? Pengabdian seorang Pasukan Katak itu tidak berhenti saat pensiun, tapi sampai mereka meninggalkan dunia ini. Saran-saran mereka, dikombinasikan dengan teknologi modern, menjadi modal kami untuk terus menyempurnakan tugas ke depan.

Dengan melihat tren peperangan siber dan asimetrik yang semakin kompleks, bagaimana Laksamana menyesuaikan kurikulum pendidikan agar prajurit tetap relevan?

Fokus utama kami adalah dengan memberikan materi tambahan di luar materi utama dalam pendidikan Kopaska. Dengan begitu, generasi baru Kopaska sudah mengenal lebih awal tentang karakteristik peperangan siber dan asimetrik. Kami juga aktif menggali kerja sama dengan satuan-satuan terkait untuk mengkaji peran apa yang dapat didukung oleh Kopaska terhadap peperangan siber untuk memperkuat operasi TNI AL secara keseluruhan.

Untuk peperangan asimetris atau peperangan dengan kekuatan yang tidak seimbang, salah satu bentuk nyatanya adalah peperangan laut khusus yang merupakan tugas utama Kopaska. Oleh karena itu, kami mempertajam peran prajurit dalam latihan Maritime Interdiction Operations (MIO), gerilya laut, dan sabotase. Kami membekali mereka agar tidak hanya tangguh secara fisik, tapi juga memiliki pengetahuan yang komprehensif menghadapi dinamika medan tempur modern.

Komandan Komando Pasukan Katak (Dankopaska) Komando Armada (Koarmada) RI, Laksamana Pertama TNI Sadarianto.
Komandan Komando Pasukan Katak (Dankopaska) Komando Armada (Koarmada) RI, Laksamana Pertama TNI Sadarianto.(IDM/Muhamad Hidayat)

Mengenai rencana pengadaan kapal selam kelas Scorpene Evolved, apakah akan ada revisi pada doktrin infiltrasi Kopaska?

Kami akan menyesuaikan taktik dengan alutsista tersebut, terutama terkait teknik Submarine Torpedo Lock Out, yaitu infiltrasi bawah permukaan melalui peluncur torpedo maupun pintu samping kapal selam. Ini merupakan hasil pemikiran matang dari Staf Perencanaan TNI AL yang kami tindak lanjuti di lapangan.

Terkait maraknya temuan drone bawah air asing di jalur strategis seperti ALKI II, bagaimana Kopaska memperkuat fungsi underwater surveillance dan intelijen maritim untuk memproteksi wilayah kita?

Terkait temuan drone bawah air tersebut, Kopaska siap mendukung semua tugas TNI AL dalam melaksanakan kegiatan underwater surveillance. Untuk hal ini, Kopaska sudah terlibat aktif dalam beberapa satuan tugas (satgas) di bawah kewasgiatan staf operasi dan juga staf intelijen TNI AL. Mengingat sifat operasinya yang rahasia, saya tidak dapat menyebutkan rincian kegiatannya secara detail. Namun yang pasti, kami bergerak senyap memantau titik-titik krusial tersebut guna memastikan kedaulatan wilayah bawah laut kita tetap terjaga dari penyusupan teknologi asing.

Tema HUT Kopaska kemarin menekankan pada “Indonesia Maju”. Bagaimana Anda menerjemahkan peran operasi senyap menjadi kontribusi nyata bagi stabilitas ekonomi maritim?

Kopaska mendukung peran TNI AL dengan segenap kemampuannya meski bergerak di bawah radar. Kami memiliki peralatan khusus yang dapat digunakan untuk kepentingan nasional dalam kegiatan teritorial yang bersifat Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Dengan menjamin keamanan jalur pelayaran dan objek vital maritim dari ancaman sabotase, kami memastikan aktivitas ekonomi maritim berjalan tanpa gangguan. Rasa aman adalah kontribusi nyata kami bagi kemajuan bangsa.

Baca Juga: Lompatan Teknologi: Perkembangan Scorpene, Ekspor Lpd ke Filipina hingga Ksot

Terkait simulasi di Bandara Juanda, mengapa lokasi ini dipilih dan seberapa krusial penguasaan teknik Close Quarter Battle (CQB) di kabin pesawat?

Bandara Internasional Juanda merupakan Objek Vital Nasional (Obvitnas) yang berada di wilayah kerja kami. Ancaman di wilayah tersebut menjadi tanggung jawab TNI AL untuk mengatasinya. Penguasaan teknik CQB atau pertempuran jarak dekat di kabin pesawat sangatlah krusial karena ruang yang sangat sempit menuntut presisi tinggi demi keselamatan sandera.

Latihan penanggulangan teror ini kami laksanakan secara intensif selama dua minggu penuh, mulai dari pembekalan materi hingga simulasi puncak. Tantangan tersulit bagi tim Penjinak Bahan Peledak (Explosive Ordnance Disposal/EOD) adalah menjinakkan bom di area publik dengan risiko kerusakan ikutan (collateral damage) yang tinggi. Oleh sebab itu, kami mengerahkan Matsus terbaru, yaitu Robot EOD L3Harris buatan Inggris. Teknologi robotika ini menjadi kunci untuk mengevakuasi bahan peledak secara presisi tanpa mempertaruhkan nyawa personel secara langsung.

Bagaimana koordinasi taktis dengan otoritas bandara dalam merespons situasi krisis terorisme ini?

Koordinasi taktis terjalin sangat solid karena Bandara Juanda merupakan aset TNI AL. Hingga saat ini, Tim Kopaska masih terlibat langsung dalam pengamanan harian di sana. Dalam situasi krisis, alur komunikasi menjadi jauh lebih cepat dan akurat karena kami sudah menguasai medan setiap harinya. Kami juga rutin mengundang para purnawirawan untuk “belanja masalah” guna menyelaraskan pengalaman historis mereka dengan teknologi masa kini.

Apa pesan Anda bagi para prajurit dan generasi muda yang ingin bergabung?

Siapkan mentalmu. Fisik bisa dilatih, tapi niat dan mental baja itu datangnya dari dalam diri sendiri. Jangan pernah menyerah sebelum mencapai garis finis. Tetap semangat mengawal kedaulatan NKRI.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.