HISTORY

Komisi I DPR: Evakuasi WNI dari Iran Harus Lewati Jalur Aman agar Tidak jadi Sasaran Serangan

Anggota Komisi I DPR RI Oleh Soleh.
Anggota Komisi I DPR RI Oleh Soleh. (Foto: Dok. DPR RI)

Jakarta, IDM – Anggota Komisi I DPR RI Oleh Soleh menekankan pentingnya langkah cepat sekaligus terukur dari pemerintah dalam mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Iran menyusul eskalasi perang antara Israel-Amerika Serikat melawan Iran yang terus meningkat.

Menurutnya, konflik bersenjata tersebut kini telah memasuki hari ke-6 dengan intensitas serangan yang semakin meluas. Situasi ini dinilai semakin membahayakan keselamatan warga sipil, termasuk WNI yang masih berada di wilayah Iran.

“Perang Israel-AS melawan Iran sudah memasuki hari ke-6 dan skalanya semakin meluas serta memanas.

Baca Juga: Uji Materi UU TNI di MK, Ahli DPR Sebut Pengisian Jabatan Sipil Prajurit Berbasis Konstitusi

Karena itu, Kementerian Luar Negeri melalui KBRI harus bergerak cepat melakukan langkah-langkah evakuasi bagi WNI, khususnya yang berada di Iran,” ujar Oleh Soleh.

Ia menyebut laporan terbaru menunjukkan bahwa serangan militer Israel-AS telah menjangkau sekitar 150 kota di Iran. Kondisi tersebut dinilai sangat berisiko bagi keselamatan warga sipil.

“Dengan serangan yang sudah menjangkau sekitar 150 kota di Iran, situasi ini sangat membahayakan keselamatan WNI. Negara harus hadir memastikan perlindungan maksimal bagi setiap warga negara,” katanya.

Baca Juga: TB Hasanuddin Sarankan Evaluasi Keterlibatan Indonesia dalam BoP demi Konsistensi Politik Bebas Aktif

Oleh Soleh menilai proses evakuasi tidak selalu harus berujung pada pemulangan langsung ke Indonesia. Pemerintah dapat mempertimbangkan opsi pemindahan sementara WNI ke negara-negara tetangga Iran yang relatif lebih aman.

“Evakuasi tidak harus selalu membawa pulang WNI ke Indonesia. Mereka bisa dipindahkan sementara ke negara tetangga Iran yang relatif aman dari konflik. Kita juga harus memahami bahwa tidak semua WNI ingin langsung pulang ke Indonesia,” jelasnya.

Ia juga menilai jalur darat dapat menjadi opsi paling realistis untuk proses evakuasi di tengah ketidakpastian kondisi ruang udara akibat konflik militer. Salah satu jalur yang dinilai memungkinkan adalah melalui Azerbaijan.

Baca Juga: DPR Kutuk Agresi Israel-AS ke Iran, Desak Perang Segera Diakhiri

“Evakuasi melalui darat harus melalui jalur yang tepat agar tidak menjadi sasaran serangan Israel-AS. Jalur darat menuju Azerbaijan menjadi salah satu opsi paling realistis,” ungkap legislator dari Dapil Jawa Barat XI itu.

Di sisi lain, ia juga mengimbau para WNI yang berada di kawasan konflik untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan serta terus menjalin komunikasi dengan perwakilan pemerintah Indonesia.

“Saya meminta para WNI untuk tetap tenang dan waspada. Terus berkoordinasi dengan perwakilan Indonesia di sana serta mengikuti setiap arahan resmi yang diberikan,” pungkasnya. (Ykb)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.