Panglima TNI Bersama KSAL Tinjau Pendaratan Pasukan Amfibi

Laporan Khusus: Septiawan/Muhammad Hidayat
Pantai Todak, IDM - Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa bersama prajurit Korps Marinir TNI AL dan Prajurit Marinir US melakukan penyergapan terhadap musuh saat operasi pendaratan di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir di Pantai Todak, Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Kamis (4/8).
Operasi pendaratan tersebut merupakan bagian dari Latihan bersama gabungan Super Garuda Shield 2022 yang bertujuan untuk mempererat hubungan bilateral antar negara sekaligus berbagi ilmu tentang taktik pertempuran, khususnya antara pasukan Marinir TNI AL dan pasukan Marinir AS.

Di tengah guyuran hujan yang turun, Panglima dan KSAL bersama di atas tank LVT meninjau pasukan yang tergabung dalam Latgabma Super Garuda Shield 2022 .
Latihan bersama gabungan Super Garuda Shield (SGS) 2022 diikuti 4.337 personel dari 13 negara peserta yakni Indonesia, Amerika Serikat, Australia, Jepang, Malaysia, Singapura, Papua Nugini, Korea Selatan, India, Timor Leste, Kanada, Prancis dan Inggris.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































