Marinir Unjuk Kekuatan Senjata Roket MLRS Vampire di Super Garuda Shield 2025

Jakarta, IDM – Korps Marinir kembali menampilkan kekuatan alutsista strategisnya melalui penembakan Multiple Launch Rocket System (MLRS) Vampire dalam latihan Super Garuda Shield 2025 di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Martapura, Baturaja, Sumatra Selatan, Jumat (29/8).
Penembakan dipimpin oleh Komandan Baterai A Batalyon Roket 1 Marinir Lettu (Mar) Fahruri. Latihan ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan multinasional Super Garuda Shield 2025 yang digelar setiap tahun untuk meningkatkan kerja sama pertahanan antar-negara.
Komandan Batalyon Roket 1 Marinir Mayor (Mar) Baron Habibi, menegaskan latihan penembakan roket memiliki nilai strategis untuk mengasah kemampuan tempur prajurit sekaligus menunjukkan kapasitas kesenjataan Marinir.
Baca Juga: KRI Balongan-908 Latihan Pendaratan Helikopter saat Operasi di Samudra Pasifik
“Tujuan latihan ini adalah memelihara dan meningkatkan profesionalisme serta naluri tempur prajurit dalam menghadapi latihan maupun tugas operasi sekaligus kita juga menunjukkan kemampuan yang kita miliki kepada negara sahabat,” ungkapnya, dikutip dari keterangan Pasmar 1, Sabtu (30/8).
Ia menambahkan, sistem roket yang dimiliki Marinir berperan penting dalam mendukung operasi tempur gabungan.
“Penembakan roket merupakan bagian dari kemampuan kesenjataan artileri medan (Armed) dalam membantu tugas pokok satuan manuver yang didukung,” ujarnya.
Baca Juga: Rotasi Jabatan, KSAU Lantik Empat Kepala Dinas TNI AU
Sekilas tentang MLRS Vampire
Senjata roket Vampire mulai memperkuat jajaran Korps Marinir sejak 2003. Alutsista ini didatangkan dari Kroasia untuk melengkapi kemampuan tempur Batalyon Roket 1 Marinir. Vampire dirancang sebagai sistem peluncur roket ganda yang dapat memberikan daya gempur besar terhadap sasaran musuh dalam waktu singkat.

MLRS Vampire dipasang pada kendaraan truk militer 6x6 buatan Tovarna Avtomobilov Maribor (TAM) yang dimodifikasi untuk kebutuhan tempur. Sistem ini mampu menembakkan 12 roket kaliber 128 mm sekaligus dengan jarak jangkau efektif hingga 20 kilometer. Kecepatan peluncuran yang tinggi memungkinkan satu baterai roket memberikan efek penghancuran area dalam hitungan detik.
Selain itu, MLRS Vampire juga memiliki keunggulan pada mobilitas karena dipasang di atas kendaraan roda ban, sehingga mudah bermanuver di berbagai medan. Fungsinya yang strategis adalah memberikan dukungan tembakan tidak langsung bagi satuan manuver darat, terutama dalam operasi amfibi dan pertempuran darat yang melibatkan pasukan Marinir.
Baca Juga: Latihan Bersama Sea Garuda 22B-25 Tingkatkan Kepercayaan Maritim di Kawasan
Perbandingan dengan RM-70 Grad
Selain Vampire, Korps Marinir TNI AL juga mengoperasikan RM-70 Grad, sistem peluncur roket buatan Ceko yang lebih berat dan berdaya hancur lebih besar. RM-70 mampu meluncurkan 40 roket kaliber 122 mm sekaligus, dengan jarak jangkau hingga 30 kilometer.
Jika Vampire unggul dalam mobilitas karena ringan dan cepat digerakkan di medan sulit, maka RM-70 lebih menekankan volume tembakan besar untuk menghancurkan area sasaran yang luas. Kehadiran kedua jenis MLRS ini membuat Yonroket 1 Marinir memiliki fleksibilitas: Vampire untuk serangan cepat dan mobile, sedangkan RM-70 untuk daya gempur masif jarak menengah.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































