T.D. Kundan, Pedagang India yang jadi Penengah di Revolusi Surabaya 1945

Jakarta, IDM – Nama T.D. Kundan mungkin tak banyak dikenal orang. Tapi di tengah hiruk-pikuk Surabaya pasca-proklamasi 1945, pedagang kain asal India ini justru ikut terlibat dalam pusaran sejarah besar, yakni mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kundan datang ke Surabaya pada awal 1930-an. Ia membuka toko tekstil “Kundandas Brothers” di kawasan Pasar Turi, hidup sebagai saudagar perantau dari Sindh. Namun, setelah 17 Agustus 1945, kota yang semula ramai perdagangan itu berubah jadi medan revolusi.
Ketegangan antara pejuang Indonesia dan pasukan sekutu memuncak. Pasukan Inggris mendarat di Surabaya untuk melucuti tentara Jepang dan mengurus tawanan perang. Dalam pasukan itu ikut ribuan serdadu India di bawah komando Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, perwira Inggris yang kala itu memimpin Brigade 49 Divisi India.
Baca Juga: Jejak Letnan Sergey Khokhlov, Pelaut Rusia yang Gugur di Sabang
Kundan, yang fasih berbahasa Inggris dan dikenal di kalangan komunitas India, diminta menjadi penghubung. Ia tergabung dalam kelompok kecil bernama Kontak Biro, tim yang berusaha menengahi perundingan antara pihak Inggris dan para pemuda Surabaya.
Di masa-masa genting itulah Kundan sering menjadi jembatan komunikasi. Ia keluar masuk markas pasukan Inggris di Darmo dan bertemu para pemuda republik di berbagai titik. Lewat bahasa dan kepercayaan yang ia bangun, Kundan berupaya mencegah salah paham dan menenangkan situasi, agar bentrokan tak pecah lebih besar. Ia menjadi semacam “juru damai tak resmi” antara dua pihak yang sama-sama tegang.
Pada 30 Oktober 1945, Kundan ikut hadir di Gedung Internatio, Jembatan Merah, tempat pertemuan penting antara dua pihak yang saling curiga. Di sinilah insiden besar terjadi. Setelah perundingan gagal dan suasana memanas, baku tembak pecah di luar gedung. Mallaby tewas dalam mobilnya yang terbakar, insiden yang kemudian memicu pertempuran besar 10 November.
Beberapa saksi menyebut, Kundan sempat keluar dari gedung sebelum tembakan pertama terdengar. Ia mencoba menenangkan massa dan menghindari pertumpahan darah yang akhirnya tak terelakkan.
Meski bukan pejuang bersenjata, peran Kundan penting. Ia menjembatani komunikasi di masa-masa paling genting revolusi Surabaya. Setelah pertempuran, ia tetap aktif lewat jalur diplomasi dan komunitas. Sebagai Ketua Kaum India di Jawa, Kundan menggalang dukungan moral dan logistik bagi Republik yang baru berdiri.
Baca Juga: The Hostage’s Hero: Dari Selat Malaka ke Layar Lebar, Kisah Letkol ‘Gila’ Penyelamat 36 Sandera
Ia juga terlibat dalam kerja sama kemanusiaan antara India dan Indonesia, termasuk saat India dilanda kelaparan hebat pada 1946. Indonesia, yang juga masih serba terbatas, justru mengirim beras ke India, sebuah solidaritas yang turut ia bantu fasilitasi.
Setelah Perang Dunia II, Kundan dianugerahi medali oleh pemerintah Inggris atas jasanya sebagai penerjemah. Bertahun-tahun kemudian, pada 1977, ia menerima Bintang Jasa Nararya, salah satu penghargaan sipil tertinggi dari Republik Indonesia.
Kundan tetap tinggal di Surabaya hingga akhir hayatnya pada 1980. Sebagian abunya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Surabaya, namanya terukir di Wall of Heroes berdampingan dengan para pejuang Indonesia. (at)
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.















































































