HISTORY

Mengintip Koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala

Mengintip Koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala
Diorama pesawat Dakota VT-CLA yang ditembak jatuh oleh P-40 Kittyhawk Belanda pada 29 Juli 1947 yang terdapat di Ruang Diorama Muspusdirla. (IDM/Umamah)

Yogyakarta, IDM - Perasaan takjub tak dapat dihindari ketika tim Indonesia Defense Magazine (IDM) berkesempatan menyambangi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla), Jumat (26/8). Bersama rombongan peserta Airmen Gathering dan Press Tour 2022, Dinas Penerangan TNI AU (Dispenau) mengajak tim IDM mengelilingi museum yang terletak di lingkungan Pangkalan Udara (Lanud) Adisutjipto, Yogyakarta.

Kedatangan pengunjung disambut oleh deretan pesawat beragam tipe hingga radar dan rudal yang berada di halaman Muspusdirla. Pesawat tipe Cessna 401, Sky Hawk, dan OV-10 Branco menjadi bagian dari pesawat yang terpampang di depan museum.

Kepala Muspurdirla Kolonel Sus Yuto Nugroho mengatakan, museum yang digagas oleh TNI Angkatan Udara tersebut memang berisi benda koleksi sejarah, di mana sebagian besarnya berupa pesawat terbang yang pernah mengabdikan diri di lingkungan TNI AU.

Yuto menyebut, khusus untuk koleksi pesawat asli dengan ukuran sebenarnya alias bukan replika atau miniatur, Muspusdirla merawat sekitar 61 pesawat terbang. Ia mengungkap, sebagian pesawat tersebut merupakan peninggalan negara yang pernah menjajah Indonesia. Kemudian pesawat tersebut digunakan untuk menjalankan misi operasi hingga pensiun dan diabadikan di Muspusdirla.

"21 pesawat berada di depan museum, 40 (pesawat) lagi ada di dalam museum," katanya.

Tak hanya mengoleksi pesawat, Muspusdirla juga memiliki ribuan koleksi lain yang terdiri dari miniatur pesawat terbang dari berbagai negara, diorama-diorama, foto-foto, lukisan, dan tanda kehormatan. Semua koleksi tampak ditata secara rapi berdasarkan kronologi peristiwa.

Menurut pantauan tim IDM, di ruang utama saat memasuki Muspusdirla juga terdapat koleksi foto yang disertai cerita sejarah tentang berdirinya TNI AU hingga makna dibalik lambang TNI AU. Di sana juga terdapat susunan foto Kepala Staf TNI AU (KSAU) dari masa ke masa, mulai dari Marsekal TNI (Purn.) Soerjadi Soerjadarma hingga Marsekal TNI (Purn.) Yuyu Sutisna.

Yuto mengatakan, Muspusdirla merupakan destinasi wisata yang lengkap. Karena selain menyuguhkan kisah masa lampau, museum ini juga dilengkapi dengan fasilitas yang mumpuni. Taman yang luas dan menenangkan, kantin, jam operasi yang panjang, hingga akses masuk yang mudah.

Untuk mengunjungi Muspusdirla, para pengunjung hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp6.000 dengan jam buka pukul 08.30 hingga 15.00 WIB setiap hari. (un/yas)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.