Sejarah Kowal: 12 Perwira Pionir yang Membuka Jalan ke Kancah Dunia

Jakarta, IDM – Korps Wanita TNI AL (Kowal) lahir untuk menghadirkan perempuan dalam angkatan laut yang selama ini didominasi pria. Perayaan HUT Kowal setiap 5 Januari mengingatkan perjalanan panjang para prajurit perempuan, dari 12 perwira pionir hingga kiprah di kancah internasional.
Gagasan awal terbentuknya Kowal muncul dari Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) R.E. Martadinata pada akhir 1950-an. Ia ingin angkatan laut memiliki personel profesional dan sistem organisasi lengkap, termasuk tenaga perempuan. Gagasan ini ditindaklanjuti Komodor Yos Sudarso, yang mengusulkan pembentukan “Korps Perawat” di angkatan laut, setara korps wanita di Amerika Serikat dan Inggris.
Surat keputusan menteri/panglima nomor 5401.24 tanggal 26 Juni 1962 resmi membentuk Kowal. 12 perwira pertama dilantik pada 5 Januari 1963, Kapten Pinarti; Kapten Christina Logiani Semiartin; Kapten Siti Dahlia; Letnan Syamsiar; Letnan Suryati Rasdan; Letnan An Go Lian Lie; Letnan Ide Rope Darina Tampubolon; Letnan Elly Hanifah; Letnan Louise Elisabeth Coldenhoff; Letnan Wayan Widja; Letnan Sri Wiyati; dan Letnan Suprapti.
Baca Juga: Markas Yon TP 861 Wanam Merauke, Direncanakan Punya Bandara dan Diapit PSN Sawah Satu Juta Hektare
Para perwira pertama mengikuti pendidikan dasar kemiliteran selama 12 minggu di Malang dan Surabaya, mencakup dasar-dasar militer, orientasi angkatan laut, perjalanan studi, dan persiapan materi. Beberapa anggota kemudian dikirim ke Irian Barat untuk pengibaran bendera Merah Putih dan ke Amerika Serikat untuk mempelajari organisasi wanita militer setara korps perawat militer.
Setelah pendirian Kowal, dibentuk sekolah dasar perwira (Sedaspa) Kowal. Sedaspa I dilaksanakan 1964, menghasilkan 38 perwira baru, sedaspa II 1964–1965 bernama Sedaspa Kowal Dwikora karena konfrontasi dengan Malaysia, dan Sedaspa III 1966 setelah vakum karena situasi politik 1965–1966. Kepala Pusat Pendidikan Kowal pertama adalah Letkol Soebandi, sementara Komodor F. Sumantri menjadi Komandan Makowal pertama.
Kowal awalnya bertugas dalam bidang tertentu yang cocok untuk perempuan, termasuk administrasi, kesehatan, dan hubungan masyarakat. Namun seiring waktu, beberapa anggota menunjukkan kemampuan operasional. Isra Maria Oscar Vivizion menjadi anggota komando pendidikan dan terlatih menggunakan senjata berat, sedangkan Serda Kowal Multriyani, Olga Saironsong, Hanifah, Rahmadani Nasution, Yetty Alfiana, dan Rita Hermadhila menjadi penyelam pertama Kowal.
Baca Juga: Unhan Kirim Kadet 2 Fakultas ke UEA, Ikuti Program Pertukaran Pelajar
Prestasi lain termasuk misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon dan Kongo, serta terobosan Letda Laut (P) Siti Ariftini Sutji Hidayati sebagai perempuan pertama yang menjadi komandan kapal angkatan laut (KAL Kangean) pada 1995.
Pada HUT Kowal ke-40, Laksamana Pertama Christina M. Rantatetana menjadi perempuan pertama Kowal yang meraih pangkat perwira tinggi. Saat itu, KSAL Laksamana Bernard Kent Sondakh menegaskan tidak ada lagi perbedaan kesempatan antara prajurit pria dan perempuan untuk menduduki jabatan strategis, asalkan kemampuan dan moralitas pribadi terus ditingkatkan. 20 tahun kemudian, Rantatetana dipercaya sebagai staf ahli bidang ideologi dan konstitusi di Kemenko Polhukam.
Hingga awal 2000-an, Kowal tetap dominan di bidang administrasi, kesehatan, keuangan, komputer, dan protokoler. Namun wacana agar Kowal bisa bertugas di kapal perang muncul kembali pada masa KSAL Laksamana Ade Supandi, terinspirasi keberhasilan perempuan di angkatan Laut Belanda dan Prancis. Meski hingga kini belum ada Kowal yang ditempatkan secara rutin di kapal perang, peluang bagi perempuan angkatan laut terbuka, menunjukkan perubahan peran dari sekadar pendukung menjadi potensial penggerak operasional. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.















































































