Mengenang Sejarah Operasi Jembatan Udara

Jakarta, IDM – Pada 31 Januari 1980, TNI AU pernah menjalankan Operasi Jembatan Udara. Dilansir dari unggahan instagram resmi milik Dinas Sejarah TNI AU operasi ini digelar saat Krisis Garuda mengguncang penerbangan domestik.
"Tahun 1980, saat Krisis Garuda mengguncang penerbangan domestik, masyarakat beralih ke maskapai lain, namun terkendala keterbatasan kapasitas. Pemerintah bergerak cepat, menugaskan TNI AU melalui Operasi Jembatan Udara untuk memastikan mobilitas masyarakat tetap terjaga," tulis akun @sejarah_tniau seperti dikutip Minggu, (1/2).
Dalam operasi tersebut, TNI AU menurunkan empat Fokker F-27 Skadron Udara 2 dan empat C-130 Hercules Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Baca Juga: Unhan Kirim Kadet 2 Fakultas ke UEA, Ikuti Program Pertukaran Pelajar
"Meski pesawat militer, armada ini tetap mengikuti aturan penerbangan sipil dengan registrasi PK," jelas akun @sejarah_tniau.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa seluruh pesawat TNI AU tiba di Bandara Kemayoran dua hari setelah Krisis Garuda, tepatnya 31 Januari 1980, dan langsung melayani rute-rute ke berbagai kota di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, bersama dengan armada sipil lainnya.
Selama operasi berlangsung, KSAU Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi secara langsung memantau kesiapan pesawat dan jalannya penerbangan di Halim Perdanakusuma dan Kemayoran.
"Walau hanya berlangsung lima hari, kehadiran TNI AU terasa nyata bagi masyarakat. Di tengah keterbatasan penerbangan sipil, penumpang tetap dapat melakukan perjalanan. Bahkan media nasional kala itu mencatat tingginya apresiasi publik atas operasi ini," tulis akun @sejarah_tniau.
Baca Juga: Markas Yon TP 861 Wanam Merauke, Direncanakan Punya Bandara dan Diapit PSN Sawah Satu Juta Hektare
Berikut rute penerbangan saat Operasi Jembatan Udara
- 31 Januari 1980 total 11 Penerbangan
C-130 Hercules melayani penerbangan ke Ujung Pandang, Pekanbaru, dan Surabaya, sementara Fokker F-27 menjangkau Bangka, Tanjung Karang, Talang Betutu, Semarang, dan Pontianak.
- 1 Februari 1980 total 5 Penerbangan
Hercules ke Ujung Pandang dan F-27 ke Tanjung Karang, Pontianak, dan Semarang.
- 2 Februari 1980 total 12 Penerbangan
F-27 melayani Bangka, Semarang, Pontianak, dan Tanjungkarang, sedangkan Hercules menghubungkan Pekanbaru, Ujung Pandang, Ambon, dan Surabaya.
Baca Juga: Sejarah Kowal: 12 Perwira Pionir yang Membuka Jalan ke Kancah Dunia
- 3 Februari 1980 total 6 Penerbangan
Untuk memastikan konektivitas tetap terjaga hingga hari terakhir operasi.
Berikut total jam penerbangan dan jumlah penumpang serta bagasi
- C-130 Hercules - 97 jam 10 menit terbang, 1.727 penumpang dan 53.179 kg kargo
- Fokker F-27 Troopship - 68 jam 20 menit terbang, 993 penumpang dan 35.968 kg kargo
- Total (5 hari) - 165 jam 30 menit terbang, 2.720 penumpang dan 89.147 kg kargo. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.















































































