HISTORY

Pertempuran Selat Sunda: Kisah Dua Kapal Sekutu Dikepung Armada Jepang

Peringatan pertempuran Selat Sunda
Peringatan pertempuran Selat Sunda oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat, delegasi Australia, dan TNI AL di atas KRI John Lie-358, Kamis (26/2). (Foto: Dok. Kedubes AS)

Jakarta, IDM – Gelap malam menyelimuti perairan Selat Sunda pada 28 Februari 1942. Dua kapal perang Sekutu, kapal penjelajah Amerika Serikat USS Houston (CA-30) dan kapal penjelajah ringan Australia HMAS Perth, membelah ombak dengan sisa-sisa tenaga.

Mereka baru saja lolos dari neraka pertempuran Laut Jawa yang menghancurkan armada gabungan sekutu (ABDACOM). Kehabisan amunisi dan menipisnya bahan bakar memaksa kedua kapal ini mengambil langkah nekat, menerobos Selat Sunda untuk melarikan diri ke Australia.

Namun, takdir berkata lain. Di mulut Teluk Banten, bukan laut lepas yang mereka temui, melainkan mimpi buruk.

Tanpa sengaja, Houston dan Perth memergoki iring-iringan armada invasi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang tengah mendaratkan pasukan ke Pulau Jawa. Situasi berubah mencekam. Dua kapal Sekutu yang "sekarat" itu tiba-tiba harus menghadapi puluhan kapal perang Jepang, mulai dari kapal penjelajah berat hingga kapal perusak yang bersenjata lengkap.

Baca Juga: Monumen Ngoto, Mengenang Gugurnya Perintis TNI AU dalam Tragedi Pesawat Dakota 1947

Bertempur Hingga Peluru Terakhir

Kapten Hector Waller dari HMAS Perth dan Kapten Albert Rooks dari USS Houston tidak memilih mundur. Mereka memerintahkan awaknya bertempur habis-habisan. Malam itu, langit Selat Sunda menyala oleh ledakan meriam dan kilatan torpedo.

Meski kalah jumlah dan persenjataan, kedua kapal Sekutu memberikan perlawanan sengit. Mereka bermanuver liar menghindari kepungan, bahkan sempat menenggelamkan dan merusak beberapa kapal pengangkut Jepang.

Namun, kekuatan musuh terlalu masif. HMAS Perth menjadi korban pertama. Empat torpedo Jepang merobek lambung kapal. Kapten Waller memerintahkan "abandon ship" sebelum kapal itu karam ke dasar laut.

USS Houston pun sendirian. Kapal yang dijuluki "The Galloping Ghost of the Java Coast" ini terus memuntahkan peluru ke segala arah. Ketika meriam utama macet dan peluru habis, para kelasi menembakkan suar ke arah kapal Jepang, mencoba apa saja untuk bertahan.

Peringatan pertempuran Selat Sunda
(Foto: Dok. Kedubes AS)

Dini hari 1 Maret 1942, sebuah torpedo menghantam ruang mesin. USS Houston lumpuh. Kapten Rooks tewas terkena serpihan ledakan. Tak lama kemudian, kapal kebanggaan Amerika Serikat itu berguling dan tenggelam, membawa ratusan awaknya ke peristirahatan abadi.

Sebanyak 696 pelaut dan marinir Amerika Serikat gugur dalam pertempuran sengit tersebut. Dari 368 awak USS Houston yang selamat dari tenggelamnya kapal, penderitaan belum berakhir. Mereka harus bertahan hidup sebagai tawanan perang Jepang di Jawa, Singapura, hingga jalur kereta maut di Thailand dan Myanmar.

Baca Juga: Mil Mi-6, Helikopter ‘Raksasa’ TNI Angkatan Udara

Tabur Bunga Mengenang Pahlawan

Kini, 84 tahun berlalu. Laut yang dulu merah oleh darah dan api, sekarang menjadi saksi bisu persahabatan antarnegara.

Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Peter M. Haymond, bersama perwakilan angkatan laut Indonesia dan Australia, kembali mendatangi lokasi bersejarah tersebut pada Kamis (26/2).

Di atas geladak kapal TNI AL, yakni KRI John Lie-358, mereka menundukkan kepala. Para pejabat maritim melakukan upacara tabur karangan bunga di perairan Teluk Banten, tempat bersemayamnya bangkai kapal USS Houston dan HMAS Perth yang kini berstatus sebagai "makam perang" (war grave).

"Pada hari ini kita mengenang para pelaut USS Houston dan HMAS Perth yang gugur dalam Pertempuran Selat Sunda," ujar Peter Haymond, dikutip dari keterangan Kedubes Amerika Serikat, Selasa (3/3).

Haymond menekankan, peristiwa masa lalu ini mengajarkan nilai mahal sebuah kebebasan.

"Bersama mitra Indonesia dan Australia, kita diingatkan bahwa kebebasan dapat tetap terus terjaga melalui kemitraan, pengorbanan, dan komitmen bersama untuk merawat warisan sejarah ini bagi generasi mendatang," tambahnya.

Baca Juga: Kisah Mitsuyuki Tanaka, Eks Tentara Jepang yang Menjadi TNI

Indonesia Penjaga Kedaulatan Situs Sejarah

Upacara ini sekaligus mempertegas peran vital Indonesia. Sebagai tuan rumah, TNI AL dan pemerintah Indonesia memegang tanggung jawab menjaga perairan tempat peristirahatan terakhir kapal-kapal tersebut dari tangan jahil penjarah besi tua.

Peringatan ini memperkuat ikatan pertahanan maritim trilateral antara Amerika Serikat, Australia, dan Indonesia. Ketiga negara sepakat menghadapi tantangan keamanan maritim di Indo-Pasifik sekaligus melindungi situs warisan sejarah seperti di Teluk Banten.

Sejumlah langkah konkret pun berjalan. Kedutaan Besar Amerika Serikat menggelontorkan dana hibah melalui program Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP) untuk pelestarian situs. Tak hanya itu, angkatan laut kedua negara merencanakan survei bersama di lokasi bangkai kapal pada tahun ini.

Di Amerika Serikat, kenangan akan USS Houston tak pernah pudar. Hingga kini, asosiasi penyintas dan keturunan awak kapal tersebut rutin menggelar pertemuan tahunan di Houston, Texas. Mereka merawat ingatan tentang keberanian para pelaut yang bertempur hingga akhir di perairan Indonesia. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.