OPINI

Perang Nuklir di Depan Mata? (Bagian I)

ilustrasi IDM
ilustrasi IDM

Jakarta, IDM – Mungkin masih banyak dari antara pembaca setia Indonesia Defense Magazine, yang tidak tahu akan hal ini, kecuali usia Anda sudah sangat sepuh seperti penulis. Beruntung, pernyataan Soekarno tersebut tidak pernah menjadi kenyataan. Indonesia tidak membutuhkan senjata atom maupun beban berat yang akan ditanggung sehubungan dengan kepemilikan tersebut, karena pada akhirnya rakyat sendiri yang akan menjadi target “utama”. 

Sifat Dasar Manusia 

Sepanjang sejarah manusia dan bahkan jauh sebelum ada catatan tertulis, manusia telah berperang satu sama lain untuk mendapatkan sumber daya, mempertahankan ideologi, atau bahkan sekadar untuk hiburan. Para arkeolog yang menggali reruntuhan telah menemukan senjata prasejarah yang dibuat dari batu api, rijang, kuarsit, dan obsidian, serta tulang hewan dan manusia, tanduk hewan, kayu, dan kerang. 

Umat manusia selalu membutuhkan persenjataan, baik untuk membunuh mangsa agar bisa memberi makan keluarganya dan memungkinkan kelompoknya bertahan hidup, atau untuk membela kelompok sendiri ketika beberapa komunitas tetangga mulai tampak mengancam. Begitu keluarga bersatu menjadi klan, klan menjadi suku yang dipimpin panglima perang. Kemudian raja dan pasukan dengan rantai komando, persenjataan berevolusi menjadi teknik-teknik yang lebih canggih dan efektif untuk membunuh dari jarak jauh. 

Setiap tahap peperangan telah meningkatkan agresi yang impersonal. Dalam pertarungan jarak dekat, Anda dapat menatap mata musuh yang ketakutan dan melihatnya berdarah sampai mati; ketika Anda melemparkan batu atau menembakkan anak panah, musuh terlihat di kejauhan, dan mungkin sedang menyerang Anda. Dengan gerombolan pemanah bersenjata busur panjang yang menembakkan panahpanah yang mematikan, musuh Anda mungkin tidak terlihat, dan Anda mungkin terkejut ketika panahpanahnya menghujani sisi Anda. Musuh menjadi sekadar momok yang mengancam. 

Pada masa kini, para computer geek berjerawat yang duduk di ruangan berAC yang nyaman di Nevada, dapat dengan santai mengoperasikan pesawat nirawak yang dipersenjatai ke pesta pernikahan warga Afghanistan, karena mereka “...terlihat seperti teroris”. 

Teknologi Militer Mengubah Wajah Perang 

Di era mesin uap, kita menyaksikan metalurgi dan kimia peledakan dengan cepat beralih dari senapan laras pendek dan senapan angin ke senapan flintlock, persenjataan berat di atas kapal, dan ledakan yang lebih dahsyat. Produksi masal teknologi militer yang brutal dan mematikan memungkinkan kekuatan kolonial mencapai masa keemasan pada abad ke-19. Salah satu peristiwa penting selama Perang Inggris-Zulu pada tahun 1879 adalah Pertempuran Rorke’s Drift, di mana perbedaan jumlah yang mencolok tampaknya menjadi malapetaka bagi orang asing: pasukan Inggris yang hanya berjumlah sekitar 120 tentara menghadapi sekitar 4.000 prajurit Zulu yang ganas. 

Meskipun kalah dari segi jumlah, Inggris berhasil mempertahankan posisi mereka berkat senapan gatling– versi awal senapan mesin yang akan menentukan pertempuran dalam perang dunia abad ke-20. Hujan tembakan dari Inggris meluluhlantakkan pasukan Zulu, membuat mereka lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Teknologi menang atas tenaga manusia. 

“Singa yang Dipimpin Keledai” 

Para perwira yang bertempur di Eropa selama Perang Dunia I tampaknya tidak sepenuhnya menghargai kekuatan teknologi modern, karena mereka menerjunkan gelombang pasukan infanteri melintasi medan perang ke dalam tembakan senapan mesin Jerman, dengan hasil yang dapat diprediksi. Tak heran, seorang perwira Jerman menyindir bahwa tentara Inggris yang gagah berani dikomandoi oleh perwira yang tidak kompeten, lembek dan tidak berguna, seperti “singa dipimpin keledai”. 

Dalam pidatonya di Kongres Muhammadiyah ke-36 di Bandung pada tanggal 24 Juli 1965, Presiden Sukarno, Bapak Proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia secara terbuka menyatakan bahwa, Indonesia akan mengembangkan bom atomnya sendiri. Dia menyatakan dukungannya terhadap pengembangan senjata nuklir di Indonesia sebagai strategi untuk melindungi kedaulatan nasional dan mencegah campur tangan asing.

Perang darat sebelumnya telah menyebar ke lautan, dengan armada kapal perang dan bajak laut kekaisaran; sekarang perang telah melanda udara, karena pesawat dwi sayap ringkih yang mampu melakukan pengintaian yang efektif, memberikan supremasi udara. Saya menyebut abad ke-20 sebagai “Era Ironi” karena Perang Dunia I, yang pecah sebagian besar dipicu oleh kesalahpahaman dan blunder, secara luas dan ironis dikenal sebagai “Perang yang Akan Mengakhiri Semua Perang” oleh penulis Inggris terkenal H.G. Wells di bukunya yang diterbitkan tahun 1914. 

Gagasan Wells yang terlalu muluk dan optimis adalah bahwa Perang Dunia Pertama begitu mengejutkan sehingga konflik itulah yang akan mengakhiri semua perang. Hampir 15 juta orang tewas, banyak di antaranya karena penyakit, kelaparan, dan genosida, dan 25 juta lainnya – sebagian besar warga szpil menderita luka fisia dań psikologis.

Sayangnya, Hitler, Tojo, Mussolini dan Franklin D. Roosevelt tidak pernah menerima pesan tersebut, karena pada tahun 1930-an negara-negara bangsa yang agresif mempercepat pengembangan teknologi militer yang semakin mematikan: bom yang lebih baik dan cara yang lebih cepat untuk mengirimkannya. 

Pada perkembangan selanjutnya, ini memunculkan Perang Saudara Spanyol, agresi Kekaisaran Jepang di Manchuria dan Tiongkok, dan invasi Hitler ke Cekoslowakia dan Polandia, dalam upaya mendapatkan lebih banyak lebensraum (“ruang tamu”, frasa yang digunakan saat ini untuk perluasan wilayah “Israel Raya”, dengan menggunakan taktik genosida yang sama). 

Byron Black
Byron Allen Black adalah seorang profesional komunikasi yang telah tinggal di Indonesia sejak 1988. Putra perwira Angkatan Udara AS (USAF), dia telah mempelajari pengembangan dan pengerahan senjata nuklir taktis sejak awal 1960-an. Dia pernah bekerja di proyek-proyek yang diinisiasi oleh The Rockefeller Foundation dan bertanggung jawab mengelola program Vietnamese Scholarship for Leadership yang disponsori oleh USAID di Fresno State College.

Lahirnya Bom Atom 

Perang Dunia II yang melibatkan Inggris Raya, Uni Soviet, Kanada, AS, dan Australia di pihak Sekutu, melawan Blok Poros Jerman, Jepang, dan Italia, menjadi konflik paling mematikan dalam sejarah. Korban diperkirakan berjumlah antara 70 hingga 85 juta jiwa – sekitar 3-3,7% dari populasi dunia saat itu (ingatlah angka tersebut untuk pembaruan selanjutnya). 

Sekitar 21 hingga 25 juta tentara dan 50 hingga 55 juta warga sipil tewas, termasuk mereka yang meninggal karena kelaparan, penyakit, dan genosida akibat perang. Uni Soviet dan Tiongkok menderita jumlah korban tertinggi, dengan perkiraan 20 hingga 27 juta kematian di Uni Soviet, dan 15 hingga 20 juta di Tiongkok (tetapi televisi memberi tahu Anda bagaimana Amerika menderita dan memenangkan perang). 

Sebenarnya efek ledakan besar dari reaksi berantai yang tak terkendali dari isotop uranium secara teoritis sudah diketahui pada awal abad ini, namun tidak seorang pun mampu membangun perangkat tersebut – meskipun pasukan Jerman menyita cadangan air berat Norwegia, dan Werner Heisenberg, ilmuwan utama Reich mengusulkan gagasan tersebut kepada Hitler. 

“Satu bom dapat meratakan sebuah kota,” kata Heisenberg. 

“Teruskan. Aku mendengarkan,” jawab Heisenberg. 

Namun Heisenberg sempat ragu. “Hanya saja…kami tidak yakin…karena reaksi berantai itu bisa lepas kendali dan menghancurkan planet ini.” 

Kesal, Hitler menghardik, “Siapa ilmuwan-ilmuwan idiot ini? Keluarkan mereka dari sini!” 

Di seberang Atlantik, sekelompok fisikawan dan ilmuwan lainnya bekerja di fasilitas super rahasia di New Mexico, pada bola logam besar dan kasar yang dipasang di atas tanah, berisi 6,1 kg plutonium yang diharapkan akan meledak. Sebagai perbandingan, ledakan bom “gempa bumi” yang dinamakan “Grand Slam” dan “Tallboy” yang digunakan selama Perang Dunia II setara dengan 10 ton TNT. Uji coba Trinity pada perangkat atom pertama di New Mexico menghasilkan ledakan berkekuatan 20.000 ton! Bisakah Anda membayangkan skala kehancuran yang akan disebabkannya? 

Membuka Tabir 

Perang di wilayah Eropa berakhir pada bulan Mei 1945 (Italia telah menyerah hampir dua tahun sebelumnya), beberapa bulan sebelum bom atom berhasil diledakkan. Ketika ilmuwan Amerika Robert Oppenheimer ditanya apakah ia menyesal telah membangun bom atom pertama di dunia, ia tersenyum. 

“Satu-satunya penyesalan saya adalah kami tidak memiliki kesempatan untuk mengujinya di Jerman,” katanya. Ia adalah seorang Yahudi dan mengetahui tentang Holocaust. Jepang tidak seberuntung itu; Hiroshima dan Nagasaki rata dengan tanah. Kaisar Hirohito yang berwajah datar akhirnya terpaksa menghadapi kenyataan dan mengumumkan penyerahan diri Jepang. 

Sementara Amerika larut dalam eforia kejayaan karena berhasil menjadi satu-satunya negara besar yang memiliki senjata atom, mata-mata yang simpatik dengan Soviet juga ikut terlibat dalam proyek di Los Alamos tersebut dan hanya dalam beberapa tahun Uni Soviet melakukan uji coba bom atom pertama mereka di atmosfer. Perlombaan senjata baru pun dimulai, yang kemudian memicu Perang Dingin antara Timur dan Barat. (Bersambung)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.