OPINI

Pengamat Sebut Dua Matra Perlu Mendapat Perhatian Khusus untuk Hadapi Tantangan di LCS

KRI Alugoro-405
KRI Alugoro-405. (IDM/Septo Kun Wijaya)

Jakarta, IDM - Sebagai bentuk upaya menjaga kedaulatan maritim Indonesia, terlebih di daerah rentan konflik seperti di wilayah Laut Cina Selatan (LCS), penambahan alutsista menjadi faktor esensial untuk menjawab kondisi keamanan yang dinamis di LCS.

Hal tersebut diungkapkan oleh pengamat militer Tasha Imansyah saat dihubungi Indonesia Defense Magazine, Jumat (15/3).

“Selain penambahan alutsista dapat menambah daya gentar TNI, penambahan tersebut juga menjadi bukti komitmen Republik Indonesia untuk menjaga kedaulatan negara,” kata Tasha.

Menurut Tasha, secara umum terdapat dua matra yang perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah, yakni matra laut dan udara.

Baca Juga: Pengamat Sebut 3 Nama yang Berpeluang Menjadi KSAU, Suksesor Marsekal TNI Fadjar Prasetyo

“Keduanya memerlukan atensi khusus mengingat peran mereka sebagai first responder dalam menghadapi tantangan di LCS,” jelasnya.

Secara khusus, lanjutnya, salah satu alutsista yang memerlukan perhatian adalah pengadaan kapal selam bagi TNI AL. Menurutnya, dengan cakupan maritim Indonesia yang luas, jumlah kapal selam yang sekarang dimiliki TNI AL belum cukup untuk menjangkau daerah-daerah terluar.

“Kekurangan ini menjadi tantangan tersendiri bagi TNI,” lanjut Tasha.

Kapal selam dinilainya menjadi salah satu alutsista yang mendesak, terutama untuk membantu TNI AL menjalankan tugasnya menjaga laut Indonesia. Tasha melanjutkan, penguatan postur pertahanan merupakan bukti komitmen pemerintah dalam hal ini soal anggaran dan pendanaan.

Baca Juga: Pengamat Sebut Penguatan TNI Diperlukan untuk Hadapi Konflik di LCS

Menurutnya, paradigma bahwa belanja alutsista merupakan expense harus diubah menjadi paradigma investasi, karena investasi pertahanan merupakan kunci kedaulatan Indonesia.

Sementara itu, terkait dengan keterbatasan fiskal yang saat ini dihadapi Indonesia, Tasha mengatakan jika salah satu opsi yang bisa dilakukan adalah dengan penambahan pinjaman luar negeri untuk pembelian alutsista.

“Perlu dipertimbangkan, terutama melihat profil ancaman yang semakin meningkat. Selain itu penggunaan SBSN/sukuk negara juga dapat dipertimbangkan untuk membiayai pembangunan infrastruktur pendukung alutsista,” kata Tasha. (nhn)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Prajurit Denjaka

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut

Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.