Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang diapit oleh dua benua dan dua samudera, Indonesia dianugerahi posisi silang geopolitik dan geostrategis yang luar biasa. Karakteristik geografi maritim kita yang membentang melintasi perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), hingga batas Landas Kontinen, ibarat sebuah pedang bermata dua. Di satu sisi, hamparan perairan yang luas ini menempatkan Indonesia pada titik tumpu jalur perdagangan laut global yang masif dan menyimpan potensi kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun di sisi lain, anugerah geografi ini menjadikannya arena terbuka yang rentan terhadap spektrum ancaman yang terus bergerak dinamis setiap detiknya.
Ketika berbicara tentang kekuatan laut, perhatian publik biasanya tertuju pada kapal perang, kapal selam, atau rudal. Padahal, sebelum seluruh alutsista tersebut dapat beroperasi secara efektif, ada satu fondasi yang sangat penting namun sering luput dari perhatian, yaitu data hidro-oseanografi.
Komando Armada (Koarmada) RI menorehkan catatan gemilang dalam menjaga kedaulatan maritim Indonesia. Sepanjang tahun 2025 hingga Mei 2026, jajaran TNI AL sukses menyelamatkan potensi kerugian negara dengan angka fantastis mencapai lebih dari Rp14,86 triliun dari berbagai praktik ilegal di perairan Nusantara.
Sebagai bentuk upaya menjaga kedaulatan maritim Indonesia, terlebih di daerah rentan konflik seperti di wilayah Laut Cina Selatan (LCS), penambahan alutsista menjadi faktor esensial untuk menjawab kondisi keamanan yang dinamis di LCS.