Letnan Kolonel Abundjani, Pahlawan Jambi yang Ahli Militer dan Berbisnis

Jakarta, IDM - Jambi memiliki sejarah tokoh pejuang yang piawai berperang pada zaman kemerdekaan, pun pandai berbisnis. Ia adalah Letnan Kolonel Abundjani, lahir pada 24 Oktober 1918 di Batang Asai, Kabupaten Sarolangun-Bangko (sekarang dipecah menjadi Kabupaten Sarolangun dan Merangin).
Dikutip dari laman resmi Pemprov Jambi, Sabtu (11/6), Abundjani anak seorang demang di Rantau Panjang, Batang Asai, bernama Demang Makalam dan ibu bernama Siti Umbuk. Lahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara, Abundjani sedari kecil mencicipi bangku sekolah formal. Pada 1931 Abundjani berhasil tamat di Hollandsc-Inlandsche School (HIS) selama tujuh tahun dan 1934 ia tamat di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Bandung.
Lalu, pada masa penjajahan Jepang, Abundjani tamat pendidikan militer di Shonan Kao Kun Renjo (Sionanto) Singapura, selama setahun. Ia meneruskan pendidikan militer ke akademi Giyugun di Pagaralam, Lahat dengan pangkat tamatan Letnan Dua (Shoi). Alumni pendidikan Angkatan Darat (Kanbu Kyoyiku tai) Jepang ini ialah cikal bakal tentara nasional di masing-masing daerahnya.
Pascakemerdekaan 22 Agustus 1945, Abundjani merintis karir militer dengan membentuk Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bagian dari BKR (Badan Keamanan Rakyat), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). API bertugas menjaga ketertiban, keamanan, membela, dan mempertahankan kemerdekaan. Kemudian, Abundjani menjadi Komandan BKR (Kodam Garuda Putih Jambi) Jambi dengan pangkat Kolonel hingga 1949.
Namun, pada Februari 1950 Abundjani mengundurkan diri dari TNI. Pangkat Kolonel Abundjani pun turun menjadi Letnan Kolonel karena kebijakan rasionalisasi di kalangan TNI kala itu. Kemudian, ia beralih profesi menjadi seorang pengusaha di Jambi dan Jakarta. Kemampuan bahasa Belanda, Inggris, dan Jepang yang dimiliki Abundjani sangat berguna dalam kiprahnya di dunia bisnis.
Abundjani mendirikan Badan Keuangan Perjuangan, yaitu memobilisasi pedagang karet ke Singapura dengan menyisihkan 10 persen keuntungan untuk perjuangan pemerintah pusat, sewa-beli pesawat Catalina (RI 05) sebagai pesawat penghubung ke Sumatera Barat maupun Yogyakarta dalam jaringan pemerintahan, memasok perlengkapan dan perbekalan pasukan dengan sistem barter komoditi lada, vanili, karet.
Tak hanya itu, Abundjani juga berperan dalam pemindahan pusat pemerintahan dan pertahanan militer saat Agresi Belanda pada 29 Desember 1948. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Jambi Hilir ke Jambi Ulu, sebagai Residen Pemerintah Darurat Keresidenan Jambi. Selain itu, Pusat Komando Militer dipindahkan ke Bangko. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.















































































