Letkol Dhomber, Putra Asli Dayak Penguasa Perang Udara di Kalimantan

Jakarta, IDM - Selama ini, kita sering mendengar sejarah tokoh besar TNI AU seperti Adi Sutjipto, Halim Perdanakusuma, R Soerjadi Soejardarma hingga Abdulrachman Saleh. Namun, adapula salah satu tokoh kebanggaan TNI AU yang tak boleh kita lupakan, yakni Letnan Kolonel (Letkol) Psk Dhomber.
Dikutip dari laman resmi TNI AU, Sabtu (30/7), Dhomber yang lahir pada 2 Februari 1924, adalah putra asli suku Dayak dari Pulang Pisau Kalimantan Tengah. Kiprah Dhomber dalam perjuangan dimulai ketika berumur 15 tahun. Dhomber merantau ke Pulau Jawa untuk bergabung dengan para pemuda asal Kalimantan lainnya, dan berjuang bersama rakyat Surabaya mengusir penjajah.
Pada 1945, Kalimantan jatuh ke tangan Amerika. NICA turut ikut membonceng dan memperkuat kedudukannya di Kalimantan. Namun, pada 24 Oktober 1945, Amerika menyerahkan Kalimantan kepada Tentara Belanda (NICA). Rakyat Kalimantan yang tidak menyukai tentara Belanda mulai mengadakan perlawanan terhadap NICA dan meminta bala bantuan dari Pulau Jawa.
Gubernur Kalimantan yang saat itu bernama Ir Mohammad Noor, berkesimpulan alternatif untuk mendatangkan bantuan dari Pulau Jawa lewat udara, yaitu menerjunkan pasukan payung ke pedalaman Kalimantan. Niat baik Noor disetujui Komodor Udara Suryadi Suryadarma. Dibentuklah Staf Khusus Pasukan Payung Republik Indonesia di bawah Komando Panglima Angkatan Udara Suryadi Suryadarma, dan sebagai Komando Pasukan ditunjuklah Mayor Tjilik Riwut.
Suryadi segera melaksanakan persiapan menerjunkan pasukan payung ke Kotawaringin Kalimantan Timur. Diseleksi 60 orang sebagai pasukan payung yang semuanya berasal dari Kalimantan, termasuk Dhomber. 12 orang lainnya berasal dari Sulawesi dan beberapa orang dari Jawa. Setelah diadakan seleksi, terpilihlah 12 personel yang berasal dari Kalimanatan, yaitu Iskandar, Dachlan, J Bitak, C Willems, J Darius, Achmad Kosasih, Bachri, Ali Akbar, M Amiruddin, Emanuel, Morawi dan Djarni.
Awalnya, Dhomber tidak ikut dalam pasukan terjun payung yang dilepas oleh Suryadi, namun sehari kemudian pada 18 Oktober 1947, Dhomber disusupkan ke Kalimantan menggunakan pesawat Dakota C-47 RI-002 melalui Filipina dan menyusup ke Kalimantan Timur menggunakan kapal laut. Ia ditugaskan memandu rombongan memasuki Kalimantan Timur yang dikuasai NICA dan membangun jaringan mata-mata sekaligus mengorganisasi gerakan gerilyawan di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Timur, wilayah Kesultanan Bulungan yang berbatasan langsung dengan Sabah (British North Borneo) dan Filipina Selatan sekitar Kepulauan Sulu dan Mindanao.
Keberhasilan operasi militer pertama pasukan payung AURI dalam penerjunan ke pedalaman Kalimantan pada 17 Oktober 1947 dan keberhasilan rombongan pejuang Republik Indonesia menembus blokade Belanda hingga akhirnya mendarat di Manila, Filipina pada 18 Oktober 1947, telah membuka mata dunia, Kalimantan adalah salah satu bagian dari RI yang tidak dapat terpisahkan.
Dhomber yang menjadi bagian dari sejarah perjuangan rakyat Indonesia di Kalimantan Timur semakin mendapat tempat di Angkatan Udara. Kiprahnya yang gemilang memposisikan Dhomber menjadi penguasa perang udara di Kalimantan, yaitu ketika menjadi Komandan Detasemen AURI Balikpapan pada 1958. Kemudian pada 1961-1963, Dhomber juga dipercaya sebagai Komandan Lanud Iskandar Muda (Pangkalan Bun) Kalimantan Tengah.
Dhomber meninggal pada 5 November 1997 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Indra Pura Pangkalan Bun. Jasa-jasa Dhomber dikenang dengan diabadikan menjadi nama Pangkalan Udara (Lanud) di Kalimantan Timur. (at)
Hankam

TNI AL Sikat Penyelundupan Rp26 Miliar: 36 Ton Konsentrat Emas dan Kayu Ilegal Digagalkan
TNI Angkatan Laut mengamankan 36 ton konsentrat emas tanpa dokumen sah dan 23 kontainer kayu merbau ilegal dengan total nilai barang bukti mencapai Rp26,4 miliar dalam operasi di Jawa Timur.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.















































































