HISTORY

Kenang Peran Pewarta dan IPPHOS Saat Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Kenang Peran Pewarta dan IPPHOS Saat Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Pertemuan tokoh pendiri IPPHOS, Justus Umbas (depan kanan) dan Alex Mendur (kanan belakang) dengan Soekarno di Pegangsaan Timur 56, tahun 1946. FOTO/IPPHOS, Indonesian Press Photo Service, Remastered Edition. Galeri Foto Jurnalistik Antara

Ada sejarah kuat sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya melalui teks proklamasi yang disusun Presiden Soekarno dan wakilnya, Mohammad Hatta. Dibantu tokoh perjuangan Ahmad Soebardjo, kemerdekaan Indonesia menempuh jalan yang panjang.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada 17 Agustus 1945, melalui proses yang tidak mudah. Upaya sekutu menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945 serta kota Nagasaki 3 hari kemudian, menjadi awal mulanya. Hingga akhirnya Kaisar Hirohito menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945.

Bersumber dari laman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Ristek, golongan muda yang mengetahui kabar tersebut dari siaran BBC Radio milik Inggris, lantas mendesak Soekarno dan Hatta untuk memanfaatkan situasi dengan menyatakan proklamasi.

Namun keinginan itu ditolak karena pemerintah Jepang belum mengeluarkan pernyataan resmi. Golongan tua pun berpendapat agar dwitunggal menunggu hingga tanggal 24 Agustus. Hari dimana Marsekal Terauchi menetapkan waktu kemerdekaan Indonesia berdasarkan pertemuan dengan Soekarno-Hatta-Radjiman di Dalat.

Ingin kemerdekaan disegerakan, golongan muda pimpinan Sukarni, Chairul Saleh dan Wikana sepakat menculik Soekarno dan Hatta. Ibu Fatmawati dan Guntur pun ikut diboyong ke Rengasdengklok, sebuah kota kecil dekat Karawang, dengan harapan keinginan golongan muda dituruti oleh dwitunggal.

Nyatanya, sepanjang 16 Agustus 1945 tidak terjadi kesepakatan apapun. Ahmad Soebardjo yang datang kala itu, membujuk para pemuda untuk melepaskan pimpinan negara. Sebagai gantinya, Soebardjo menjadi jaminannya agar proklamasi keesokan hari.

Rumah Laksamana Maeda di Meiji Dori No. 1 menjadi tujuan membahas desakan golongan muda. Malam hari, Soekarno dan rombongan berangkat ke Jakarta. Di ruang makan rumah inilah, penyusunan teks proklamasi dibahas mendalam. Tepat pukul 03.00 Wib di tanggal 17 Agustus 1945, naskah proklamasi disusun oleh Soekarno, Hatta dan Soebardjo. Maeda tak turut campur dan memilih berdiam di dalam kamar tidurnya.

Dua jam kemudian, naskah berisi dua alinea yang menjadi buah pemikiran tiga tokoh itu selesai dibuat. Sayuti Melik menjadi yang menerima tulisan tangan Soekarno untuk kemudian diketik. Didampingi BM Diah, Sayuti mengetik naskah proklamasi dan diserahkan kembali pada Soekarno guna ditandatangani.

Kepada mereka yang hadir, Soekarno menyarankan agar bersama-sama menandatangani naskah proklamasi selaku wakil bangsa Indonesia. Saran itu diperkuat oleh Mohammad Hatta dengan mengambil contoh pada Declaration of Independence Amerika Serikat. Sukarni lalu mengusulkan agar penandatangan naskah proklamasi cukup dua orang saja, yakni Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia. Usul Sukarni diterima.

Dikutip dari laman Sekretariat Negara (Setneg), kalimat pertama dari teks Proklamasi merupakan saran Soebardjo yang diambil dari rumusan Dokuritsu Junbi Cosakai, sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan pikiran Mohammad Hatta. Hatta menganggap kalimat pertama hanyalah merupakan pernyataan dari kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri. Menurutnya, perlu ditambahkan pernyataan mengenai pengalihan kekuasaan (transfer of sovereignty). Maka dihasilkanlah rumusan terakhir dari teks proklamasi itu.

17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, di halaman rumah Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, naskah proklamasi dibacakan dalam suasana khidmat. Prosesi yang sebenarnya tanpa protokol nyatanya tidak menghalangi gelora euforia rakyat dalam merayakan dan menyebarluaskan berita luar biasa ini.

Peran para pewarta sangat penting dalam peristiwa ini, antara lain Frans dan Alex Mendoer dari IPPHOS yang mengabadikan momen pembacaan proklamasi, BM Diah dan Jusuf Ronodipuro yang membantu penyebaran berita proklamasi lewat berbagai cara, seperti radio, surat kabar, telegram, serta melalui lisan.

Mengutip tulisan Soerjoatmodjo, Yudhi. 2013. IPPHOS, Indonesian Press Photo Service, Remastered Edition, yang diterbitkan Galeri Foto Jurnalistik Antara menerangkan bahwa indonesian press photo ( IPPHOS) didirikan tanggal 2 oktober 1946 oleh Mendur bersaudara: Alex dan Frans Mendur, Umbas bersaudara: Justus dan Frans “Nyong” Umbas, kemudian Alex Mamusung, Oscar Ganda, dan Malvin Jacob.

Mereka adalah pemuda-pemuda dari Minahasa dan tergabung dalam KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi), organisasi yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Alex Mendur sebelum mendirikan IPPHOS adalah fotografer harian “Merdeka” dan kantor berita Jepang “Domei”. Sementara Frans adalah fotografer Koran “Asia Raya”. Alex dan Frans juga telah malang melintang di harian “Java Bode” dan majalah berita bergambar “Wereld Nieuws en Sport in Beeld” di tahuan 1930-an.

(kiri ke kanan) Frans “Nyong” Umbas, Alex Mendur, Frans Mendur, Alex Mamusung

Ada cerita menarik ketika mereka mengabadikan Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Frans mendapatkan cerita dari wartawan Jepang di “Djawa Shimbun Sha” pada malam 16 Agustus 1945 kalau besok kemerdekaan akan diumumkan. Alex kakaknya juga mendengar berita yang sama dari Zahrudi, kawannya di Domei. Frans kemudian berangkat jam 5 pagi tanggal 17 agustus bersama wartawan Dal Bassa Pulungan dan pergi ke kediaman Soekarno dengan mengendarai mobil pinjaman, berbekal kamera Leica dan satu rol film yang ia “serobot” dari persediaan kantor Djawa Shimbun Sha. Frans dan Alex berangkat terpisah, dan bertemu di Jalan Pegangsaan Timur 56.

Frans dan Alex Mendur adalah satu-satunya fotografer yang hadir pada peristiwa Proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Coba bayangkan kalau mereka tidak punya rasa ingin tahu dan tidak lekas bergerak keesokannya. Apakah penduduk Indonesia dan dunia pada saat itu meyakini bahwa RI telah merdeka? Seluruh rakyat di penjuru nusantara waktu itu hanya bisa menduga-duga saja.

Foto ini diambil oleh Frans Mendur. Bersama kakaknya Alex Mendur adalah fotografer pertama yang meliput peristiwa bersejarah tersebut. Bukti sahih RI telah Merdeka

Di bulan-bulan berikutnya Alex dan Frans Mendur harus mempertahankan negatif film itu dari sensor Jepang dengan menguburkannya di kebun. Baru 6 bulan kemudian setelah pasukan Jepang mulai melemah karena kekalahan perang dunia 2 dan pemberontakan di tanah air, foto proklamasi kemerdekaan itu dapat disaksikan secara perdana kepada seluruh rakyat Indonesia tanggal 19 Februari 1946, melalui Koran harian “Merdeka’.

Sebagai pemasok foto-foto untuk berita, IPPHOS mengambil posisi yang unik. Disaat kantor sejenis seperti Antara dan BFI (kelak berubah menjadi Perusahaan Film Negara di bawah naungan Kementerian Penerangan RI) mengikuti arus yang lebih mapan dengan mengikuti pemerintah. IPPHOS memilih menjadi independen. Artinya mereka tidak dibiayai oleh pemerintah dan tidak punya kewajiban mengikuti agenda dan kepentingan pemerintah. Namun dari situlah nilai kelebihannya, IPPHOS bisa memotret apa saja baik dari kacamata Republik maupun penjajah. Kita bisa melihat IPPHOS memotret semangat patriotik para pejuang dalam mempertahankan Republik yang bau kencur ini. Tapi disisi lain IPPHOS juga bisa memotret betapa sengsaranya orang-orang Belanda dan Indo (keturunan) yang harus terusir dari tanah Indonesia. Suatu hal yang tidak dilakukan fotografer kolonial saat itu, dimana gambar yang disajikan selalu berpihak kepada Belanda dan tidak mempunyai sensitivitas terhadap penderitaan rakyat yang dijajah.

Mereka adalah interniran Belanda dan Indo (keturunan) yang harus terusir dari Indonesia. Mereka kehilangan hak-haknya di masa pendudukan Jepang dan Indonesia setelah proklamasi Kedekatan IPPHOS dengan Soekarno, Bung Hatta, SJahrir, dan Hamengku Buwono IX membuat IPPHOS bolak-balik masuk ke dalam ruang privat dan mendokumentasikan perjanjian penting di masa revolusi kemerdekaan seperti perjanjian Renville, Linggarjati, dan Roem-Royen.

Mereka membagi kantor menjadi 2 yaitu di Jakarta dan Yogyakarta supaya lebih fleksibel dalam melakukan liputan. Pada saat itu Ibukota RI sempat pindah ke Yogyakarta dari Jakarta. Di IPPHOS Jakarta ada Alex Mendur dan Justus Umbas untuk mengikuti gerak politik dari Sjahrir dkk. sementara di IPPHOS Yogyakarta ada Frans Mendur, Oscar Ganda, Alex Mamusung, dan Melvin Jacob untuk mengikuti Soekarno-Hatta, Jenderal Soedirman, dan beberapa pejabat pusat yang pindah ke Yogya. Sedangkan pesaingnya Antara dan BFI karena mengikuti pemerintah harus memindahkan seluruh resource-nya ke Yogya. Di Jakarta ruang gerak mereka dalam melakukan liputan amat terbatas.

Keberadaan Antara yang terikat dengan RI juga menjadi rawan penggeledahan oleh tentara Belanda. Itu yang membuat dokumen foto berkarung-karung lenyap di bawa penjajah dan tak pernah kembali. Sedangkan BFI (Berita Film Indonesia) yang dibawah naungan Kementerian Penerangan berubah menjadi Kementerian Penerangan RI semakin tenggelam dalam labirin birokrasi dan tidak pernah berjaya lagi.

IPPHOS sebagai kantor berita independen makin tersohor di tahun 1950-an dengan meliput peristiwa perang di Sulawesi. IPPHOS juga mendapat julukan raja kertas karena menjadi penyalur surat kabar, fotografi ilford, tinta cetak “tjemani”, dan lampu pijar.

Untuk bisa mencapai kemakmuran itu IPPHOS harus melalui proses yang tak mudah. Mereka tetap mendapat sedikit fasilitas dari pemerintah dan pengusaha pada saat itu tapi tidak sebesar Antara dan BFI. Bahkan Justus dan “Nyong” Umbas sempat berjualan sayur mayur demi kelangsungan bisnisnya. IPPHOS juga membuka jasa foto untuk perkawinan, pesta, dokumentasi keluarga, dan perayaan warga Pro-RI di Jawa Tengah dan Keluarga Belanda di Jakarta. Pragmatisme mereka lakukan demi menghidupi usaha tanpa harus mengorbankan prinsip membela tanah air.

Sikap IPPHOS yang selalu ingin mandiri, punya jiwa entrepreneurship, berani berpikir beda, tapi luwes dalam menyiasati perjuangan justru menjadi kekuaran mereka. Ini yang membuat IPPHOS bertahan, sementara Antara dan BFI terus tenggelam.

Akan tetapi waktu dan perubahan di level kepemimpinan nasional yang membuat kejayaan IPPHOS makin meredup. Kantor mereka yang pertama di Hayam Wuruk harus berpindah ke Kampung Melayu karena kesulitan dana. Pemerintah orde baru seakan melupakan peran Alex Mendur dkk dalam menghadirkan Republik Indonesia yang muda belia ke dalam imaji-imaji sehingga seluruh dunia bisa tahu bahwa Indonesia berdiri karena jerih payah keringat dan darah sendiri. Barangkali kedekatan IPPHOS dengan Soekarnolah yang tidak dikehendaki era orde baru. Karena jika IPPHOS terus berdiri maka bayang-bayang Soekarno akan terus muncul.

Diakhir acara pameran tersebut, hadir pula istri pendiri IPPHOS alm. Alex Mamusung, Emmy Mamusung yang sudah berumur 86 tahun dengan kursi roda bersama anaknya yang ketujuh Louis Z. Mamusung. Louis bercerita kepada hadirin yang datang bahwa Dia sangat bangga dengan adanya acara ini. waktu sekolah dasar dia pernah berkata kepada teman-temannya bahwa foto yang ada di buku sekolah itu adalah foto karya papanya.  Dia sangat senang. Tapi hanya sebatas itu pikirannya. Dia tidak mengira proses di balik foto itu punya kisah perjuangan tersendiri. Louis berkata mengapa Papanya meninggal. Dari diagnosa dokter papanya meninggal karena adanya bahan kimia yang terlalu banyak di paru-parunya. Hampir separuh hidupnya alm. Alex berada di bilik kamar yang gelap dan lembab untuk mencetak foto-foto. Dan diantara foto-foto itu sudah bisa kita nikmati di bangku sekolah sebagai bahan dalam menghayati perjuangan para founding fathers (juga mothers) Republik Indonesia tercinta. Semoga jasa dan amal baik para awak IPPHOS mendapatkan kebaikan di sisi-Nya. Amin

Keberadaan Antara yang terikat dengan RI juga menjadi rawan penggeledahan oleh tentara Belanda. Itu yang membuat dokumen foto berkarung-karung lenyap di bawa penjajah dan tak pernah kembali. Sedangkan BFI (Berita Film Indonesia) yang dibawah naungan Kementerian Penerangan berubah menjadi Kementerian Penerangan RI semakin tenggelam dalam labirin birokrasi dan tidak pernah berjaya lagi.

IPPHOS sebagai kantor berita independen makin tersohor di tahun 1950-an dengan meliput peristiwa perang di Sulawesi. IPPHOS juga mendapat julukan raja kertas karena menjadi penyalur surat kabar, fotografi ilford, tinta cetak “tjemani”, dan lampu pijar.

Untuk bisa mencapai kemakmuran itu IPPHOS harus melalui proses yang tak mudah. Mereka tetap mendapat sedikit fasilitas dari pemerintah dan pengusaha pada saat itu tapi tidak sebesar Antara dan BFI. Bahkan Justus dan “Nyong” Umbas sempat berjualan sayur mayur demi kelangsungan bisnisnya. IPPHOS juga membuka jasa foto untuk perkawinan, pesta, dokumentasi keluarga, dan perayaan warga Pro-RI di Jawa Tengah dan Keluarga Belanda di Jakarta. Pragmatisme mereka lakukan demi menghidupi usaha tanpa harus mengorbankan prinsip membela tanah air.

Sikap IPPHOS yang selalu ingin mandiri, punya jiwa entrepreneurship, berani berpikir beda, tapi luwes dalam menyiasati perjuangan justru menjadi kekuaran mereka. Ini yang membuat IPPHOS bertahan, sementara Antara dan BFI terus tenggelam.

Akan tetapi waktu dan perubahan di level kepemimpinan nasional yang membuat kejayaan IPPHOS makin meredup. Kantor mereka yang pertama di Hayam Wuruk harus berpindah ke Kampung Melayu karena kesulitan dana. Pemerintah orde baru seakan melupakan peran Alex Mendur dkk dalam menghadirkan Republik Indonesia yang muda belia ke dalam imaji-imaji sehingga seluruh dunia bisa tahu bahwa Indonesia berdiri karena jerih payah keringat dan darah sendiri. Barangkali kedekatan IPPHOS dengan Soekarnolah yang tidak dikehendaki era orde baru. Karena jika IPPHOS terus berdiri maka bayang-bayang Soekarno akan terus muncul.

Diakhir acara pameran tersebut, hadir pula istri pendiri IPPHOS alm. Alex Mamusung, Emmy Mamusung yang sudah berumur 86 tahun dengan kursi roda bersama anaknya yang ketujuh Louis Z. Mamusung. Louis bercerita kepada hadirin yang datang bahwa Dia sangat bangga dengan adanya acara ini. waktu sekolah dasar dia pernah berkata kepada teman-temannya bahwa foto yang ada di buku sekolah itu adalah foto karya papanya.  Dia sangat senang. Tapi hanya sebatas itu pikirannya. Dia tidak mengira proses di balik foto itu punya kisah perjuangan tersendiri. Louis berkata mengapa Papanya meninggal. Dari diagnosa dokter papanya meninggal karena adanya bahan kimia yang terlalu banyak di paru-parunya. Hampir separuh hidupnya alm. Alex berada di bilik kamar yang gelap dan lembab untuk mencetak foto-foto. Dan diantara foto-foto itu sudah bisa kita nikmati di bangku sekolah sebagai bahan dalam menghayati perjuangan para founding fathers (juga mothers) Republik Indonesia tercinta. Semoga jasa dan amal baik para awak IPPHOS mendapatkan kebaikan di sisi-Nya. Amin. (wan/man)

Yogyakarta, April 1947. Pak Kamid petani dari Sumedang berjalan kaki ke Ibukota RI untuk membawakan buah tangan ubi talas hasil kebunnya untuk presiden Soekarno. (Bukti kecintaan rakyat kecil kepada pemimpinnya)
4 Oktober 1945. kabinet pertama RI berpose untuk pers asing di kediaman presiden sokarno di jalan pengangsaan timur no. 56. Menteri penerangan Amir Sjarifuddin yang baru dua hari keluar dari penjara Jepang mengenakan jas kedodoran, celana pendek, sambil merokok. Anjing kecil yang secara tak sengaja melintas menambah kesan pilu tentang Republik yang menentang Belanda dengan penuh semangat tapi bermodalkan dengkul

Bandung, 23 Maret 1946. Satuan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan pemuda menjaga pos-pos pemeriksaan saat pertempuran di Bandung. (Lihat mereka masih remaja, kalau anak sekolah mungkin mereka adalah para murid SMP yang “terseret” arus perang mempertahankan kemerdekaan RI)
PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.