Diplomasi Global di Bawah Bayang-bayang “Kehancuran Bersama”Akibat Perang Nuklir (Bagian II)

Jakarta, IDM – Kekuatan misterius dan hampir mistis dari unsur-unsur tertentu telah diketahui sejak tahun 1896, ketika fisikawan Prancis Henri Becquerel menemukan bahwa garam uranium memancarkan sinar tak kasat mata yang aneh - suatu gaya yang dapat menembus logam dan menghanguskan pelat fotografi.
Hanya dua tahun berselang, dua rekan senegaranya Marie dan Pierre Curie mengidentifikasi polonium dan radium, menciptakan istilah "radio-aktif. Marie Curie, seorang ilmuwan yang lagi naik daun, begitu cemerlang sampai-sampai dia meninggal karena keracunan zat radioaktif, dan mayatnya begitu "panas" sehingga dia harus di. kubur dalam peti mati berlapis timah. Inilah yang dinamakan dedikasi!
Di seberang Selat Inggris, ilmuwan Inggris terkemuka Ernest Rutherford menemukan inti atom pada tahun 1911, dengan peralatan yang sangat primitif. la adalah orang pertama yang mengusulkan konsep "transmutasi nuklir". Fisikawan Italia Enrico Fermi dan timnya membombardir uranium dengan neutron pada tahun 1934, yang kedengarannya bukan tindakan yang bersahabat. Namun, mereka berhasil menghasilkan unsur-unsur baru, dan dengan demikian mengisyaratkan kemungkinan terjadinya fisi nuklir.
Istri Fermi beragama Yahudi dan dia tidak merasa nyaman dengan kediktatoran fasis Benito Mussolini. Jadi setelah menerima Penghargaan Nobel di Stockholm, dia menapaki jalan yang memutar dan berakhir di AS, di mana pada tahun 1942 dia memimpin tim yang berhasil memicu reaksi berantai nuklir pertama yang terkendali dan mandiri: "Chicago Pile-1 (CP-1)" di Universitas Chicago -bagian dari Proyek Manhattan yang sangat rahasia.
Pemerintah Amerika sangat takut bahwa Nazi akan mengembangkan senjata atom sebelum mereka dan itu akan mengubah keseimbangan secara drastis. Meskipun Wehrmacht mengamankan pabrik air berat di Norwegia, penelitian dan pengembangan senjata nuklir tidak pernah maju di Reich Ketiga. Penemuan dan percobaan ini menjadi dasar pengembangan energi atom dan senjata nuklir.
Bertahun-tahun setelah Perang Dunia II, seorang reporter bertanya kepada ilmuwan Robert Oppenheimer apakah ia menyesal telah menciptakan senjata nuklir. la menjawab, "Satu-satunya penyesalan saya adalah Perang di Eropa berakhir sebelum kami sempat menggunakannya di Jerman." Tidak diragukan lagi pada saat itu dia sedang mengenang perlakuan mengerikan terhadap sesama orang Yahudi oleh rezim Nazi.
Pada awal tahun 1945, wilayah yang diduduki Kekaisaran Jepang menyusut dengan cepat hingga hanya menyisakan pulau-pulau awal akibat blokade yang dijalankan oleh Angkatan Laut Amerika. Orang-orang Jepang yang berjuang melawan maut hampir mati kelaparan, tetapi sebagai salah satu bangsa yang paling keras kepala di muka bumi, mereka menolak untuk menyerah.
Invasi darat akan menewaskan jutaan orang dari pihak Sekutu dan Jepang. Dengan demikian, "terapi kejut berupa dua bom atom yang meluluhlantakkan kota-kota strategis Hiroshima dan Nagasaki sudah cukup untuk menyadarkan Kaisar Hirohito dari khayalannya dan memutuskan bahwa bunuh diri nasional bukanlah cara yang tepat untuk mengakhiri kekuasaannya di era Showa.
Pihak berwenang Amerika berusaha keras untuk menyembunyikan foto-foto dan film tentang kehancuran yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki... mayat-mayat gosong terbakar atau bahkan berubah menjadi bayangan di atas batu... blok-blok kota rata dengan tanah menjadi puing-puing... diikuti tahun-tahun penuh siksaan dan kematian akibat keracunan radiasi, leukemia, cacat lahir bawaan, dan penderitaan berat lainnya, yang sering kali dialami oleh wanita dan anak-anak.
Tidak lama kemudian Uni Soviet mengumumkan mereka juga memiliki bom tersebut, berkat mata-mata licik seperti Dr. Klaus Fuchs, yang telah mencuri rahasia bom atom saat ia terlibat dalam eksperimen senjata nuklir pertama di Los Alamos. Ini disusul oleh bom hidrogen yang lebih dahsyat, mengerikan dan menghancurkan.
Bom tersebut diledakkan oleh ledakan atom, dan daya ledak atau daya rusaknya meningkat dari sebelumnya "kiloton" menjadi "megaton" di versi yang lebih baru: satu bom yang diluncurkan oleh pesawat terbang atau melintasi atmosfer luar dari belahan lain bumi dapat meluluhlantakkan kota seukuran Dallas, Shanghai atau Berlin, sehingga kota tersebut menjadi radioaktif dan tidak dapat dihuni selama ribuan tahun.
Sistem peluncuran berkembang seiring dengan kekuatan senjata. Dari B-29 dan B-36 hingga B-52, di satu sisi, dan pesawat turboprop TU-95 milik Soviet yang kuno namun andal, hingga rudal balistik antarbenua (ICBM). Tak terhentikan, hipersonik, dan membawa muatan megaton atau bahkan beberapa hulu ledak; itulah lingkungan yang dihadapi oleh mereka yang memasuki usia dewasa pada tahun 1950-an dan 1960-an.
Singkatnya, itu adalah era yang dikenal sebagai "Keseimbangan Teror", atau "Kepastian Kehancuran Bersama" (Mutually Assured Destruction/MAD). Tidak peduli seberapa kuat pertahanan sebuah negara, jika dianggap layak menjadi sasaran maka negara tersebut akan lenyap bersama sebagian besar warganya, dengan cara yang sangat mengerikan.
Perlombaan senjata tahun 1950-an menyaksikan sejumlah negara berinvestasi besar-besaran dalam produksi persenjataan nuklir mereka sendiri: Inggris dan Prancis segera memiliki arsenal mereka, meskipun dalam skala yang jauh lebih kecil daripada kekuatan besar. Ini kemudian diikuti oleh era proliferasi, dimana India dan Pakistan memperoleh nuklir dari sekutu mereka; Afrika Selatan menjadi yang pertama secara sukarela menghentikan program senjata nuklirnya, menjadi contoh yang baik bagi negara-negara lain.
Pada tahun 1970-an, negara-negara nuklir secara terang-terangan saling menakut-nakuti, dan membuat penduduk mereka ketakutan setengah mati dengan kemungkinan perang termonuklir, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Senjata nuklir bersifat unik karena hanya berguna sebagai pemberi efek getar; "memenangkan" perang nuklir menjadi diskusi akademis segera setelah senjata itu tersebar luas di gudang senjata negara lain.
Seorang mata-mata israel mencuri teknologi nuklir Amerika dan kini Israel memiliki beberapa ratus bom hidrogen. Pembelot dan pejuang perdamaian Mordechal Vanunu mengklaim bahwa jika Israel dimusnahkan, angkatan udara Israel akan mengebom ibu kota Eropa: Roma, London, Paris, Berlin dengan senjata atom.
Perang nuklir habis-habisan hampir terjadi ketika Pemerintah AS bereaksi terhadap penempatan senjata nuklir Uni Soviet di pulau Kuba, yang dipimpin oleh seorang tokoh berjanggut panjang yang bernama Fidel Castro, yang berjuang mati-matian untuk mempertahankan pulau tersebut dari invasi Amerika berikutnya (tonton film "Godfather II"). Kedua belah pihak dalam keadaan siaga tinggi: pangkalan pembom ditutup dan siap lepas landas untuk melintasi wilayah musuh; silo ICBM dalam keadaan darurat.
Presiden John F. Kennedy, yang dihadapkan dengan prospek mengerikan untuk mundur dan membiarkan Soviet memiliki rudal sejauh 150 km dari daratan Amerika, atau berperang melawan Uni Soviet, secara terbuka merenung, "Bisakah saya kehilangan 20 juta pemilih?" Itu adalah perkiraan konservatif tentang berapa banyak orang Amerika yang akan tewas dalam serangan pertama.

Kakak laki-laki saya, seorang perwira Angkatan Udara AS dan pilot pesawat tanker, bercanda, "Satu-satunya bahaya dari serangan kita terhadap Rusia adalah pesawat kita saling bertabrakan." Memang, Uni Soviet tidak sekuat atau militernya tidak seperkasa seperti sebelumnya di tahun-tahun berikutnya. Tiongkok hanya memiliki sedikit senjata ini dan tidak ada yang bisa digunakan untuk mengirimkannya.
Duta Besar Soviet Anatoly Fyodorovich Dobrynin sangat berjasa sebagai penasihat Presiden Kennedy, karena "saluran telepon" antara Washington dan Moskow dipenuhi ancaman, tawaran, dan tawaran balasan. Diplomat terkemuka tersebut sangat dipercaya dan efektif sehingga ia terus menjabat sebagai Duta Besar Uni Soviet untuk Amerika Serikat hingga 1986.
Proliferasi berarti bahwa meskipun negara-negara yang lebih kecil dan kurang kaya mungkin ingin bergabung dengan "klub nuklir", langkah seperti itu harus dibayar dengan harga yang mahal. Bapak Proklamator dan pendiri bangsa Indonesia Soekarno pernah mengklaim bahwa Indonesia akan memiliki senjata atomnya sendiri, tetapi untungnya hal itu tidak pernah terjadi. Sehingga bahkan jika terjadi perang nuklir, Indonesia kemungkinan akan diabaikan dan terhindar dari kehancuran.
Ingat bagaimana Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger pernah berkomentar, tentang kemungkinan Presiden Thieu dari Vietnam Selatan mengalami nasib yang sama seperti Presiden Ngo Diem Dinh yang tragis-dibunuh dengan keterlibatan Amerika-bahwa "...menjadi musuh Amerika mungkin berbahaya, tetapi menjadi teman Amerika adalah hal yang fatal."
Australia tidak memiliki senjata atom tetapi mungkin masih menjadi sasaran jika terjadi perang nuklir habis-habisan. Berikut ini adalah apa yang direnungkan oleh seorang warga Australia yang sangat berwawasan, tentang aliansi canggung negaranya dengan AS, di internet:
"Sering disebut sebagai 'Kota Paling Layak Huni di Dunia', Melbourne yang terletak di tenggara Australia mungkin menjadi target utama serangan rudal taktis dibandingkan kota-kota lain di Australia mengingat peran pentingnya dalam sistem keamanan defensif/ofensif antariksa AS."
"Fasilitas-fasilitas sipil maupun militer berikut mungkin menjadi sasaran: terminal bahan bakar minyak Garden Island, kilang minyak yang sedikit lebih jauh, markas besar departemen pertahanan di St. Kilda Road (dekat Art Centre dan pusat budaya tinggi lainnya) dan pusat pelatihan intelijen di Watsonia."
"Kota paling layak huni suatu hari. Rata dengan tanah di hari berikutnya."
"Memang dapat ditegaskan bahwa dalam perang antara AS vs Rusia atau AS vs Tiongkok, pertempuran untuk supremasi terjadi di negara-negara bawahan yang dapat dikorbankan (maksud saya sekutu, atau istilah yang lebih tepat "para idiot yang berguna")"
"Yang menjadi paradoks, protagonis utama tetap tidak terdampak, setidaknya untuk sementara. Washington, jika diibaratkan individu (atau korporasi) menunjukkan ciri-ciri dan perilaku seorang psikopat yang paranoid."
Baca Juga: Perang Nuklir di Depan Mata? (Bagian I)
"Di antara ilmuwan politik Amerika yang paling terkemuka, dua orang menggambarkan konstruksi Partai Republik saat ini sebagai pemberontakan radikal, sebuah istilah yang sering mereka lekatkan pada musuh-musuh mereka di Timur Tengah."
"Sedikit demi sedikit negara Amerika terjerumus ke dalam fantasi paranoid tentang ancaman asing dan zombi domestik, sambil melancarkan perang yang dibenarkan untuk mendapatkan sumber daya yang dibutuhkan."
Perang di Ukraina, yang kini sedang sekarat karena tentara Rusia yang tak terbendung semakin dekat dengan ibu kota, adalah "perang proksi": NATO (dimana AS adalah "bos besar") bermaksud melemahkan militer Rusia, menghancurkan ekonominya, dan mendorong "Revolusi Warna" untuk menggulingkan pemerintahannya. Sayangnya, semua itu gagal. Terakhir kali AS memenangkan perang adalah di tahun 1945, tetapi itu sebagian besar merupakan upaya Rusia.
Amerika punya ide gila untuk menempatkan rudal nuklir mereka di perbatasan timur Ukraina, yang dapat menjangkau Kremlin dalam tiga menit. Tentu saja, Moskow tidak terima dengan ide "serangan pemenggal" (istilah favorit Pentagon).
Mereka berargumen bahwa jika pusat saraf Federasi Rusia mengalami kehancuran dalam serangan mendadak, sistem pembalasan otomatis akan meluncurkan senjata nuklir ke AS dari kapal selam, pangkalan darat, dan bahkan dari orbit, yang memastikan kehancuran bersama umat manusia.
Bagian yang tidak masuk akal adalah bahwa beberapa orang di Pentagon tampaknya tidak masalah dengan ide tersebut, selama Rusia dapat dihancurkan. Mungkin radiasi nuklir-atau balkan terobsesi dengan persenjataan nuklir - telah membuat mereka gila. Semoga saja tidak!
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































