TNI AL Siap Operasikan KRI Canopus-936 untuk Survei Laut Dalam
Jakarta, IDM – KRI Canopus-936 bersandar di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta, Senin (11/5). KRI Canopus-936 merupakan kapal bantu hidro-oseanografi ocean going (BHOD-OG) berteknologi modern yang dirancang untuk memperkuat kemampuan survei, pemetaan, serta pengelolaan data kelautan nasional.
Kapal sepanjang 105 meter tersebut memiliki daya jelajah hingga 60 hari dan mampu beroperasi mulai dari perairan dangkal hingga laut dalam dengan kedalaman mencapai 11.000 meter. Kehadiran kapal ini diharapkan dapat mendukung penguatan riset kelautan, pemetaan bawah laut, serta pengumpulan data oseanografi strategis di wilayah perairan Indonesia.
Baca Juga: Museum Vira Cakti Yudha Divif 2 Kostrad, Jejak Patriotisme dan Sejarah Militer di Malang
Selain fungsi ilmiah, KRI Canopus-936 juga memiliki kemampuan mendukung operasi militer dan keamanan laut, seperti pemetaan jalur kapal selam, deteksi ranjau laut, patroli keamanan, hingga dukungan intelijen maritim. Dalam operasi kemanusiaan, kapal ini mampu melaksanakan misi pencarian dan pertolongan (SAR), termasuk mendeteksi sinyal darurat dan melakukan pencarian objek di dasar laut. (IDM/Faisal Ramadhan)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.
























































































