Dentuman Tiga Sistem Peluncur Roket Warnai Super Garuda Shield 2026
Sumsel, IDM – Dentuman keras artileri roket memecah kesunyian Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Baturaja, Sumatra Selatan, Jumat (4/9). Dari sejumlah titik peluncuran, kekuatan gabungan TNI dan Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) memperagakan aksi penembakan terintegrasi atau land joint strike. Dalam skenario tersebut, sejumlah sistem peluncur roket artileri bergerak dalam satu rangkaian operasi untuk melancarkan serangan secara terkoordinasi terhadap sasaran yang telah ditentukan.
Latihan ini memadukan tiga jenis sistem peluncur roket artileri multilaras atau Multiple Launch Rocket System (MLRS). Korps Marinir mengerahkan RM-70 Vampire, TNI AD mengoperasikan Astros II MK6, sedangkan US Army menggunakan M142 High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS). Ketiganya merupakan kendaraan tempur yang berfungsi meluncurkan roket artileri ke sasaran dari jarak jauh, dengan karakteristik, kapasitas peluncuran, dan sistem pengoperasian yang berbeda.
Dalam latihan land joint strike, ketiga sistem persenjataan tersebut tidak bekerja secara sendiri-sendiri. Penembakan dilakukan melalui rangkaian koordinasi yang melibatkan penentuan sasaran, pengolahan data, penyampaian perintah tembak, pengaturan waktu peluncuran, hingga pelaksanaan tembakan secara terpadu. Sinkronisasi itu menjadi bagian penting untuk menguji kemampuan pasukan dari berbagai satuan dalam menyatukan sistem komando dan prosedur operasi di medan pertempuran.
Baca Juga: Langit Martapura Satukan Lima Negara dalam Airborne Super Garuda Shield 2026
Setiap peluncuran roket menjadi bagian dari simulasi dukungan tembakan jarak jauh untuk menghantam sasaran di wilayah operasi. Karena itu, latihan tidak hanya menguji daya gempur masing-masing sistem peluncur, tetapi juga ketepatan koordinasi antarsatuan dan kemampuan mengintegrasikan berbagai platform persenjataan dalam satu rencana serangan. Kecepatan pengambilan keputusan, akurasi data sasaran, dan ketepatan waktu menjadi unsur penting dalam memastikan seluruh rangkaian serangan dapat dilaksanakan secara efektif.
Aksi penembakan roket terintegrasi tersebut menjadi salah satu rangkaian Latihan Gabungan Bersama Multinasional Super Garuda Shield 2026 yang berlangsung hingga 11 September mendatang. Memasuki penyelenggaraan edisi kelima, latihan multinasional ini melibatkan 4.743 personel dari 21 negara. Dentuman tiga sistem peluncur roket yang menggema di Puslatpur Baturaja pun menjadi gambaran bagaimana berbagai satuan, negara, dan sistem persenjataan diuji untuk bekerja dalam satu kesatuan operasi tempur terpadu.
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.
























































































