TNI AL Lepas Keberangkatan Mudik Gratis dengan KRI Banda Aceh-593
Jakarta, IDM - Sejumlah peserta mudik gratis nampak beraktivitas di dalam KRI Banda Aceh-593 yang bersandar di Dermaga Mako Kolinlamil, Jakarta Utara, Jumat, (5/4). TNI Angkatan Laut (AL) kembali mengadakan program mudik gratis bagi warga yang akan pulang kampung, dengan menggunakan KRI Banda Aceh-593.
Mudik gratis ini tidak hanya memfasilitasi perjalanan warga dari Jakarta menuju Semarang dan Surabaya, tetapi juga mengantar mereka kembali ke Jakarta, khusus pemudik yang menggunakan sepeda motor.
Mudik gratis kali ini, KRI Banda Aceh-593 mengangkut 1019 orang; dan 273 unit sepeda motor. Selain itu, TNI AL juga menyediakan 10 bus dengan kapasitas 461 orang. Bus-bus tersebut akan mengantar penumpang ke berbagai daerah di Jawa, seperti Yogyakarta, Jombang, dan Surabaya.
Baca Juga: Pascakebakaran Gudmurah Kodam Jaya, Damkar Lakukan Penyisiran dan Bantu Warga Mengungsi
Program mudik bersama TNI AL bukan sekadar pelayanan pulang kampung gratis, melainkan juga untuk mengurangi beban ekonomi; menekan kemacetan lalu lintas; serta meminimalisir risiko kecelakaan.
(IDM/Faisal Ramadhan)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.
























































































