Pengamat: Percepatan Pendidikan Sesko Angkatan Perlu Diimbangi Pembinaan Lanjutan

Jakarta, IDM – Pendidikan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) masing-masing angkatan diperpendek setelah terbitnya Surat Telegram Panglima TNI Nomor ST/239/2025 tertanggal 19 Maret 2025 tentang perubahan lama pendidikan.
Pendidikan Sesko angkatan yang awalnya 10 bulan, kini dipersingkat menjadi hanya empat bulan.
Terbaru, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menutup Pendidikan Reguler (Dikreg) Sekolah Staf dan Komando AL (Seskoal) Angkatan ke-63 TA 2025 di Markas Komando Seskoal, Jakarta Selatan, Selasa (3/6). Pendidikan berlangsung empat bulan atau dimulai sejak 5 Februari silam.
KSAL Ali mengatakan, penyingkatan lama pendidikan Seskoal untuk menghindari pengulangan materi. Selain itu, juga untuk efisiensi anggaran.
“Jadi program pendidikan Sesko angkatan ini semuanya sama, di darat, laut, udara, polisi, juga akan menjadi lebih singkat karena dianggap ada beberapa materi-materi yang diulang,” kata Ali.
Ali mengatakan, bimbingan penyelesaian tesis Perwira Siswa (Pasis) bisa dilaksanakan secara daring atau online. Namun, saat ujian harus tetap secara tatap muka.
“Untuk yang di tempat jauh, di mancanegara misalnya, itu juga bisa dilaksanakan secara online. Jadi semua ini menjadi lebih efektif dan efisien,” ujar Ali.
Sejalan dengan itu, TNI AL juga akan membuat skema pendidikan Seskoal menjadi dua gelombang dalam satu tahun.
Baca Juga: Usai Resmikan Sumur Bor di Jambi, KSAD: Kita Siapkan Generasi Penerus
“Ini nantinya akan dibuat dua gelombang. Jadi dalam satu tahun bisa mendidik dua gelombang dari perwira siswa. Itu tujuan utamanya,” kata KSAL.
Hal sama juga terjadi pada pendidikan di Sesko Angkatan Darat (Seskoad) dan Sesko Angkatan Udara (Seskoau) yang diperpendek menjadi empat bulan.
Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak telah memimpin wisuda pertama Seskoad versi empat bulan di Gedung Profesor Doktor Satrio Seskoad, Bandung, Kamis (22/5).
Komandan Seskoad Mayjen Edwin Adrian Sumantha mengatakan, Dikreg Seskoad Angkatan LXV itu telah berlangsung selama 16 minggu, dimulai sejak 21 Januari 2025.
“Diikuti oleh 270 Perwira Siswa (Pasis) yang terdiri dari 237 Pasis TNI AD, empat Pasis TNI AL, empat Pasis TNI AU, 14 Pasis Polri serta 11 Pasis negara sahabat dari 10 negara, di antaranya Singapura, Arab Saudi, Filipina, Pakistan, Vietnam, Thailand, Malaysia, Timor Leste, Australia, dan Amerika Serikat,” kata Edwin.
Terbitnya Surat Telegram Panglima TNI Nomor ST/239/2025 juga memperpendek lama pendidikan di akademi angkatan masing-masing, dari semula empat tahun menjadi tiga tahun.
Baca Juga: Rencana Latma Orruda 2026 Digelar di Perairan Rusia
Perlu diimbangi pembinaan lanjutan
Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menyebut, percepatan pendidikan Sesko angkatan akan berdampak pada kuota lulusan yang makin banyak. Selain itu, pengisian jabatan komando atau staf bisa dilakukan lebih cepat.
“Ini dinilai penting, apalagi ketika struktur organisasi berkembang dan kebutuhan akan pemimpin baru semakin tinggi. Di tengah proses modernisasi dan pembaruan postur pertahanan, langkah ini terkesan rasional,” kata Fahmi saat dihubungi Indonesia Defence Magazine, Selasa (3/5).
Namun, hal yang perlu diingat, pendidikan Sesko angkatan merupakan fase penting transisi cara pandang seorang perwira, dari pemimpin lapangan menjadi pemikir strategis.
Para perwira didorong memperluas wawasan dan kembali belajar lintas sektor bahkan matra, serta memahami bahwa urusan pertahanan negara tidak lepas dari politik, ekonomi, teknologi, hingga komunikasi dan persepsi publik.

“Ketika waktu pendidikan dipangkas, tentu ada hal-hal yang tak bisa lagi dibahas secara mendalam. Interaksi dan diskusi lintas latar belakang bisa kehilangan kedalaman. Studi kasus dan simulasi operasi gabungan bisa berubah menjadi sekadar pengenalan. Ruang untuk refleksi dan dialog strategis bisa menyempit. Inilah kekhawatiran utama jika perubahan ini tidak dibarengi dengan solusi memadai,” tutur Fahmi.
Fahmi kemudian mencontohkan sekolah staf dan komando di Amerika Serikat yang dijaga lama pendidikannya agar perwira punya cukup ruang untuk belajar dari berbagai perspektif, termasuk dari sipil dan dunia internasional.
Di Singapura dan Australia, pendidikan semacam Sesko dirancang sebagai ajang bertemunya militer dengan birokrat, akademisi, dan pelaku industri.
“Karena mereka sadar, tantangan keamanan masa depan tak bisa dihadapi dengan pola pikir lama,” kata Fahmi.
Oleh karena, menurut Fahmi, percepatan pendidikan Sesko angkatan ini perlu diimbangi pembinaan lanjutan.
Baca Juga: Pendaftaran Calon Tamtama TNI AD Tahun 2025 Capai 107.365 Orang
“Salah satunya dengan menyiapkan sistem pelatihan tambahan yang bersifat modular, tematik, dan berkelanjutan,” kata Fahmi.
Pelatihan atau pembinaan lanjutan itu bisa menyasar topik-topik strategis yang tak sempat didalami di dalam Sesko, misalnya kepemimpinan di tengah krisis, pengelolaan sumber daya pertahanan, pemanfaatan teknologi informasi, komunikasi strategis, relasi sipil-militer hingga pemahaman lebih mendalam terhadap ancaman non-tradisional seperti perang informasi dan kejahatan siber.
Fahmi menyarankan agar pelatihan itu tidak hanya dikhususkan pada satu matra, melainkan bisa juga dirancang sebagai program lintas matra dan lintas instansi.
“Pendekatannya pun bisa fleksibel. Materi dasar bisa dipelajari secara daring, sementara sesi tatap muka difokuskan untuk diskusi dan simulasi. Bahkan kalau perlu, pelatihan ini bisa dibuka kerja samanya dengan universitas, lembaga sipil, atau mitra luar negeri,” kata Fahmi.
Selain itu, lanjut Fahmi, harus ada pengakuan dan integrasi dalam sistem karier.
“Artinya, setiap kursus atau pelatihan yang diikuti perwira harus dihargai dalam proses promosi, penugasan, atau penilaian kinerja. Kalau tidak, semangat belajar bisa turun dan pelatihan hanya akan jadi formalitas tambahan,” ucap Fahmi.
Fahmi mengatakan, yang diperlukan TNI bukan memperpanjang atau mempertahankan waktu secara fisik, tetapi memperpanjang proses pembinaan secara strategis.
Terlebih, dalam situasi dunia yang makin rumit dan penuh ketidakpastian, perwira TNI tidak hanya dituntut untuk bisa memimpin di medan tempur.
“Mereka harus mampu membaca konteks, menyusun strategi, dan beradaptasi dengan cepat. Untuk itu, efisiensi dalam pendidikan memang penting, tapi tidak boleh mengorbankan substansi,” kata Fahmi. (nma)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































