KRI Frans Kaisiepo-368 Kembali Ke Indonesia Setelah Tuntaskan Misi Perdamaian Dunia
Jakarta, IDM - Kapal KRI Frans Kaisiepo-368 bersandar di Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Jakarta, setelah melaksanakan misi perdamaian dunia, Selasa (6/2).
KRI Frans Kaisiepo-398 meninggalkan Indonesia sejak 1 Desember 2022. Selama 14 bulan kapal ini bertugas, dalam misinya berhasil menyelamatkan dan mengevakuasi 232 pengungsi kapal yang tenggelam di perairan Laut Mediterania.
Awak KRI Frans Kaisiepo-368 merupakan pasukan satuan tugas Maritime Task Force (MTF) dengan jumlah 199 personel yang terdiri dari kru heli; perwira intelijen; perwira hukum; perwira psikologi; perwira kesehatan/dokter; perwira penerangan; penyelam, dan Kopaska.
Baca Juga: Dari Super Hercules Hingga Panther, Alutsista Modern yang Perkuat Tiga Matra TNI
Atas keberhasilan penugasan misi perdamaian dunia ini, sejumlah prajurit TNI AL dianugerahi penghargaan medali United Nation, Letter Of Commendation, LAF Medal; dan Letter of Outstanding. Letter of Commendation merupakan penganugerahan yang diberikan oleh Force Commander of Mission Major General, Aroldo Lazaro atas penyelamatan ratusan pengungsi tersebut.
(IDM/Faisal Ramadhan)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.
























































































