OPINI

Sosok Mayjen TNI Bangun Nawoko yang Dianugerahi Bintang Yudha Dharma Pratama dari Presiden Prabowo

Prabowo Ubianto dan Bangun Nawoko
Presiden Prabowo Subianto menyematkan tanda kehormatan Bintang Yudha Dharma Pratama kepada Pangdivif 3, Mayjen TNI Bangun Nawoko pada Kamis (2/10). (Foto: Dok. Penkostrad)

Jakarta, IDM – Dalam sebuah momen penuh makna di atas geladak KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara langsung menyematkan Tanda Kehormatan Bintang Yudha Dharma Pratama kepada Panglima Divisi Infanteri 3 Kostrad, Mayor Jenderal TNI Bangun Nawoko. Upacara ini berlangsung dalam rangkaian kegiatan Presidential Inspection pada Kamis, (2/10).

Bintang Yudha Dharma Pratama merupakan salah satu tanda kehormatan tertinggi yang dianugerahkan oleh negara kepada prajurit yang telah menunjukkan pengabdian luar biasa, melampaui panggilan tugas, serta menghasilkan karya nyata yang berdampak luas bagi bangsa dan negara.

Baca Juga: Prabowo vs Trump di PBB: Harapan Disambut Tepuk Tangan, Sinisme Menuai Sunyi

Penyematan ini menjadi simbol pengakuan negara atas dedikasi, integritas, dan kontribusi strategis Mayjen TNI Bangun Nawoko dalam memperkuat pelaksanaan tugas TNI Angkatan Darat.

Jejak Pengabdian

Lahir di Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah, pada 10 Februari 1969, Bangun Nawoko meniti karier militernya sejak lulus dari Akademi Militer tahun 1992. Selama lebih dari tiga dekade, ia telah mengemban berbagai posisi penting di tubuh TNI AD, menunjukkan kapasitas kepemimpinan dan komitmen terhadap stabilitas nasional.

Sebelum menjabat sebagai Panglima Divisi Infanteri 3 Kostrad, ia dipercaya sebagai Wakil Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Darat (Waasops Kasad) Bidang Perencanaan Operasi. Kariernya mencerminkan perjalanan panjang seorang prajurit yang tumbuh dari satuan tempur hingga ke jajaran strategis.

Baca Juga: Prabowo Pidato Urutan Ketiga di Sidang Umum PBB, Apa Maknanya?

Riwayat Jabatan Mayjen TNI Bangun Nawoko:

  1. Komandan Batalyon Infanteri 631/Antang (2008–2009)
  2. Komandan Kodim 1008/Tanjung (2009–2012)
  3. Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 18/Trisula Kostrad (2012–2013)
  4. Komandan Brigade Infanteri 13/Galuh Kostrad (2013–2014)
  5. Asisten Operasi Kasdivif 1 Kostrad (2014)
  6. Asisten Operasi Kasdam XVII/Cenderawasih (2014–2015)
  7. Perwira Menengah Denma Mabesad (2015–2017)
  8. Komandan Korem 083/Bhaladika Jaya (2017–2018)
  9. Paban II/Binlat Sopsad (2018–2020)
  10. Komandan Korem 174/Anim Ti Waninggap (2020–2022)
  11. Waasops Kasad Bidang Renops (2022–2024)
  12. Pangdivif 3 Kostrad (2024–sekarang)

Dengan penyematan ini, Mayjen TNI Bangun Nawoko bergabung dalam jajaran perwira tinggi yang telah menerima penghargaan tertinggi dari negara, sekaligus menjadi teladan bagi generasi penerus TNI dalam menjaga kedaulatan dan kehormatan bangsa. (nhn)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.