Solidaritas Kemanusiaan, TNI AD Kirimkan Bantuan untuk Palestina
Jakarta, IDM - Prajurit TNI Angkatan Darat mengangkat bantuan kemanusian untuk Palestina di Markas Besar TNI Angkatan Darat, Jakarta Pusat, Rabu, (8/11).
Bantuan tersebut merupakan aksi nyata kepedulian TNI AD, terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di tengah konflik Israel-Palestina.
TNI AD berkolaborasi dengan beberapa pihak untuk menghimpun dana kemanusiaan untuk masyarakat Palestina. Di antaranya uang tunai dari komunitas dakwah Ustaz Adi Hidayat (UAH) dan Baznas, senilai 10 miliar rupiah dan 50 truk yang berisikan bantuan kemanusiaan berupa pakaian layak pakai, selimut, obat-obatan, dan sembako.
Baca Juga: Pemerintah Indonesia Kirim Bantuan Kemanusiaan untuk Palestina
Bantuan-bantuan tersebut dikumpulkan di Mabesad, Jakarta lalu dikirimkan ke perbatasan Gaza di Mesir melalui udara dengan pesawat Hercules C-130.
Bantuan kemanusiaan kloter pertama TNI AD ini merupakan hasil penggalangan dari satuan-satuan TNI AD yang tersebar di Jabodetabek. Diharapkan dengan bantuan tersebut bisa membantu memenuhi kebutuhan untuk warga berada di Gaza, Palestina.
(IDM/Faisal Ramadhan)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.
























































































