Pengiriman 800 Ton Bantuan Kemanusiaan ke Gaza dengan Pesawat C-130J Super Hercules
Jakarta, IDM – Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto memimpin upacara pelepasan bantuan kemanusiaan untuk Palestina yang berlangsung di Apron Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, (13/8).
Bantuan tersebut dikirim oleh pemerintah Indonesia sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina yang terdampak konflik berkepanjangan. Pengangkutan bantuan dilakukan menggunakan dua pesawat C-130J Super Hercules milik TNI Angkatan Udara.
Sebanyak 66 personel dilibatkan dalam misi ini, terdiri dari unsur TNI, perwakilan kementerian dan lembaga pemerintah, serta awak media nasional. Mereka tergabung dalam Satuan Tugas Garuda Merah Putih II yang akan bertugas menyalurkan bantuan kemanusiaan secara langsung ke wilayah Gaza. Bantuan yang dibawa meliputi 800 ton logistik, termasuk bahan makanan, obat-obatan, perlengkapan medis, dan selimut.
Baca Juga: Presiden Prabowo Pimpin Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer
Seluruh bantuan akan disalurkan melalui operasi airdrop dari Pangkalan Aju di Yordania, mengingat kondisi keamanan dan akses darat yang terbatas di Gaza. (IDM/Faisal Ramadhan)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.
























































































