Parade Kapal Perang Jelang Puncak HUT ke-80 TNI
Jakarta, IDM – KRI Makassar-590 melaju saat parade kapal perang dan alutsista TNI Angkatan Laut di perairan Teluk Jakarta, Kamis (2/10). Dalam kegiatan ini, TNI AL mengerahkan pasukan khusus laut (Passusla) serta 51 unsur kapal perang, yang terdiri atas enam fregat, 10 korvet, dua kapal selam, kapal jenis LST dan LPD, 16 kapal cepat, dua kapal pemburu ranjau, enam kapal patroli, empat kapal bantu, serta dua kapal latih taruna AAL, yakni KRI Dewaruci dan KRI Bima Suci.
Selain kapal perang TNI AL, parade laut juga diikuti unsur dari instansi lain seperti ADRI, Bakamla, Basarnas, Polairud, KKP, KPLP, serta perhimpunan kapal nelayan yang berlayar di belakang formasi kapal perang TNI AL.
Baca Juga: Kementerian Pertahanan Luncurkan Bantuan Obat-Obatan untuk Koperasi Merah Putih
TNI AL turut memamerkan kekuatan udara dengan mengerahkan sejumlah pesawat, di antaranya Bonanza, Piper, CN-235, Cassa NC-212, helikopter Bell-412, serta tiga pesawat tanpa awak (UAV).
Sebagai bagian dari atraksi, turut dilakukan penembakan roket meriam kapal perang, RBU-6000 anti-kapal selam, serta Multi Launcher Rocket System (MLRS) RM-70 Grad dari KRI Teluk Amboina-503. (IDM/Faisal Ramadhan)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.
























































































