TNI AL Siapkan Asistensi Militer untuk Lindungi Riset Tambang RI di Pasifik

Jakarta, IDM – TNI AL berkomitmen mengawal penuh agenda riset strategis nasional di wilayah perairan internasional. Melalui Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal), TNI AL menyiapkan asistensi militer untuk menjamin keamanan kegiatan penambangan laut dalam (deep sea mining) yang diprakarsai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Samudra Pasifik.
Langkah pengamanan ini muncul dalam pertemuan strategis antara Wakil Komandan Pushidrosal Laksda Bambang Irawan yang mewakili Komandan Pushidrosal Laksdya Budi Purwanto, dengan Wakil Kepala BRIN Laksdya (Purn) Amarulla Octavian di Jakarta, Senin (20/4). Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya Indonesia mengejar kemandirian ekonomi melalui eksploitasi sumber daya mineral di dasar laut.
Baca Juga: Cegah Bencana, Pushidrosal dan BRIN Petakan Aktivitas Gunung Api Dasar Laut
Kawal Harta Karun Pasifik
Rencana riset penambangan di Samudra Pasifik membutuhkan perlindungan ketat karena memiliki risiko tinggi dan bersinggungan dengan kepentingan negara lain. Praktik pendampingan militer ini lazim dilakukan oleh negara maju untuk memastikan riset berjalan tanpa gangguan keamanan serta mematuhi hukum laut internasional.
Bambang menjelaskan, Pushidrosal siap mengerahkan personel khusus untuk mendampingi misi tersebut. Dukungan ini mencakup aspek keamanan hingga validasi data hidro-oseanografi atau ilmu pemetaan laut.
"Kegiatan di Pasifik tersebut memerlukan dukungan asistensi militer guna menjamin keamanan serta kepatuhan terhadap kepentingan nasional. Kami menyiapkan personel security officer (perwira pengamanan) dan technical officer (perwira teknis) yang kompeten untuk mengawal misi ini," ujar Bambang, dikutip dari keterangan Dispen Pushidrosal, Kamis (23/4).
Selain di laut lepas, sinergi ini juga mencakup penguatan mitigasi bencana melalui pemetaan gunung api bawah laut di perairan domestik. Bambang menegaskan, seluruh survei dan riset maritim harus memberikan dampak nyata bagi kedaulatan bangsa.
Baca Juga: KSAD Maruli Raih Penghargaan di Bidang Siber dan Persandian
Awasi Kapal Riset Asing
Selain melindungi kepentingan domestik, TNI AL dan BRIN memperketat pengawasan terhadap aktivitas kapal riset asing yang melintasi perairan Indonesia. Koordinasi dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan) terus diperkuat agar setiap kegiatan asing di laut Nusantara tetap berada dalam pemantauan ketat perwira pengaman Indonesia.
"Setiap kegiatan yang melibatkan kapal riset asing wajib melalui pendampingan perwira kita. Hal ini krusial untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan serta melindungi rahasia data keruangan laut Indonesia," ungkap Bambang.
Adapun, sinergi antara Pushidrosal dan BRIN ini nantinya akan berlanjut melalui mekanisme swakelola atau pengelolaan mandiri yang sistematis. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































