HANKAM

Cegah Bencana, Pushidrosal dan BRIN Petakan Aktivitas Gunung Api Dasar Laut

Bambang Irawan dan Amarulla Octavian
Wakil Komandan Pushidrosal Laksda Bambang Irawan dan Wakil Kepala BRIN Laksdya (Purn) Amarulla Octavian di Jakarta, Senin (20/4) membahas penguatan riset, terutama pemetaan gunung api bawah laut RI. (Foto: Dok. Dispen Pushidrosal)

Jakarta, IDM – Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) memperkuat sinergi riset maritim bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi strategis ini berfokus pada pemetaan aktivitas gunung api bawah laut untuk memperkuat mitigasi bencana di perairan Indonesia.

Wakil Komandan Pushidrosal Laksda Bambang Irawan mewakili Komandan Pushidrosal Laksdya Budi Purwanto menerima audiensi Wakil Kepala BRIN Laksdya (Purn) Amarulla Octavian di Ancol, Jakarta, Senin (20/4). Pertemuan tersebut membahas agenda besar bertajuk "Ekspedisi dan Eksplorasi Keanekaragaman Hayati serta Sumber Daya Geologi Maritim."

Baca Juga: KSAD Maruli Raih Penghargaan di Bidang Siber dan Persandian

Minim Kajian Global

Riset mengenai gunung api bawah laut menjadi prioritas karena fenomena alam ini masih sangat minim kajian secara global. Padahal, wilayah perairan Indonesia memiliki aktivitas vulkanik yang sangat dinamis dan berpotensi memicu bencana alam jika tidak terpantau secara rutin.

Bambang menjelaskan, survei dan riset ini bersifat komplementer atau saling mengisi. Data yang terkumpul nantinya bakal menjadi landasan ilmiah dalam memetakan titik rawan di dasar laut.

"Penelitian gunung api bawah laut ini sangat strategis. Kami tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga menyiapkan landasan kuat dalam memperkuat mitigasi bencana di wilayah perairan kita," ujar Bambang, dikutip dari keterangan Dispen Pushidrosal, Kamis (23/4).

Bambang menambahkan, sinergi ini bertujuan untuk mewujudkan kemandirian nasional di bidang teknologi kelautan. "Melalui riset yang berorientasi pada inovasi, kita meningkatkan kapabilitas pertahanan sekaligus kesiapsiagaan dalam menghadapi fenomena alam kelautan," lanjutnya.

Baca Juga: TNI AD: Batalion Teritorial Beri Kontribusi Besar untuk Pemerintah Daerah

Eksplorasi Hayati dan Geologi

Selain urusan vulkanologi atau ilmu tentang gunung berapi, ekspedisi bersama ini juga menyasar eksplorasi keanekaragaman hayati dan sumber daya geologi. Pushidrosal menyiapkan dukungan data hidro-oseanografi atau ilmu pemetaan laut untuk memastikan riset berjalan akurat.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya besar Indonesia dalam mengamankan kedaulatan informasi maritim. Seluruh hasil penelitian akan dihimpun dalam ensiklopedia nasional fitur bawah laut agar data dokumentasi terintegrasi secara sistematis.

"Penguatan riset ini juga sejalan dengan arahan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali, yang menginstruksikan pengembangan kompetensi teknologi hidro-oseanografi mendukung kejayaan maritim nasional dan keselamatan pelayaran dunia," tutup Bambang. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.