HANKAM

Sulitnya Mendaratkan Drone di Kapal Perang, Alasan TNI AL Bangun Simulasi Geladak

drone
Ilustrasi drone Bayraktar Akıncı. (Foto: Dok. Baykar)

Jakarta, IDM – TNI AL mengakui operasional pesawat tanpa awak atau drone (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) di atas kapal perang memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi daripada di daratan. Keterbatasan ruang ancang-ancang dan guncangan dek akibat turbulensi udara laut menjadi tantangan utama bagi para operator.

Untuk menaklukkan hambatan teknis tersebut, Skuadron Udara 100 Wing Udara 2 Puspenerbal membangun media simulasi geladak helikopter yang dirancang secara fleksibel. Fasilitas ini berfungsi sebagai wahana berlatih bagi penerbang helikopter maupun operator drone untuk mengasah ketepatan pendaratan di area yang sempit.

Baca Juga: TNI AL Siapkan Konsep ‘Air Wing Mobile’, Kekuatan Udara Kini Bisa Diproyeksikan ke Mana Saja

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma TNI Tunggul menjelaskan, simulasi ini merupakan bagian dari pengenalan adaptif atau familiarization. Para personel harus memahami karakteristik pendaratan di atas kapal untuk menjamin keselamatan penerbangan dalam berbagai misi maritim.

"Simulasi ini dibuat untuk familiarization kepada para penerbang helikopter dan penerbang UAV TNI AL," ujar Tunggul kepada Indonesia Defense Magazine, Kamis (14/5).

Langkah ini mempertegas evolusi doktrin TNI AL yang mulai bergeser dari operasional berbasis darat (land-based) menuju kekuatan udara yang terintegrasi di laut (sea-based). Konsep unit sayap udara (Air Wing) yang bersifat dinamis atau mobile memungkinkan kekuatan udara diproyeksikan langsung dari atas KRI.

Baca Juga: Menhan, Ka BIN, dan Panglima TNI Rapat bersama Badan Industri Mineral, Bahas Pengamanan Objek Strategis

Persiapan teknis ini juga menjadi fondasi penting bagi rencana transformasi kapal induk masa depan, seperti ITS Giuseppe Garibaldi yang bakal difungsikan sebagai pangkalan drone terapung. Kapal tersebut diproyeksikan mampu mengusung teknologi wahana udara nirawak tingkat lanjut seperti drone TB3 dan Akinci.

Meski persiapan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) terus dipacu, pihak TNI AL menegaskan, identitas resmi kapal perang baru tersebut belum final. Hingga saat ini, proses penamaan unsur KRI baru tersebut masih dalam tahap pembahasan serta pengkajian mendalam di lingkup internal. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.