Sebanyak 350 Perwira Prajurit Karier TNI Dilantik pada Upacara Prasetya Perwira
Jakarta, IDM – Sejumlah prajurit perwira prajurit karier TNI mengikuti upacara pelantikan Prasetya Perwira (Praspa) di Lapangan Mabes TNI, Jakarta, (22/7). Praspa merupakan acara pelantikan bagi para remaja TNI yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan mereka dan kini menyandang pangkat letnan dua (letda).
Upacara tersebut dihadiri sejumlah pejabat tinggi TNI dan keluarga para perwira baru. Sebanyak 350 perwira prajurit karir TA 2024 dilantik, yang terdiri dari 141 personel matra Darat, 108 personel matra Laut, dan 101 personel matra Udara. Setelah resmi dilantik menjadi perwira, mereka akan diserahkan ke masing-masing matra, yaitu Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU), untuk menerima pembekalan dan orientasi sebelum menjalankan tugas mereka yang baru.
Baca Juga: Kejuaraan Menembak Tanfoglio Cup 2024
Sebelum menjadi perwira, mereka menjalani Pendidikan Pertama (Dikma) di Magelang selama 7 bulan. Pendidikan ini terbagi dalam 3 tahap: Pendidikan Dasar Prajurit (Diksarit) selama 3 bulan; Pendidikan Dasar Golongan (Diksargol) selama 2 bulan: dan Pendidikan Matra (Dikmatra) selama 1 bulan.
(IDM/Faisal Ramadhan)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.
























































































