KRI Belati-622, KCR Pertama dengan Teknologi Hybrid
Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali memberikan cenderamata kepada Direktur PT Tesco Indomaritim Jamin Basuki saat acara pemberian nama Kapal Cepat Rudal (KCR) KRI Belati-622 di Dermaga Pantai Mutiara, Jakarta, Rabu (1/10). KRI Belati-622 merupakan kapal perang multifungsi yang dapat difungsikan sebagai kapal patroli maupun kombatan.
Kapal ini nantinya akan memperkuat jajaran Koarmada III dengan peran strategis untuk meningkatkan kemampuan operasi laut, baik dalam Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP), termasuk pengamanan perbatasan dan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR).
Baca Juga: Menhan Sjafrie Beri Pengarahan kepada Kadet Unhan Asal Palestina
Kapal ini didesain dengan konsep Hybrid Mechanical Propulsion System, yaitu kombinasi antara mesin konvensional dengan bahan bakar biofuel. KRI Belati-622 menjadi kapal cepat rudal pertama di Indonesia yang mengusung teknologi hybrid ramah lingkungan. Pembangunan kapal dilakukan oleh perusahaan dalam negeri yaitu PT Tesco Indomaritim dan juga dengan dukungan penuh dari Kementerian Pertahanan. (IDM/Faisal Ramadhan)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.
























































































