Kedatangan Kapal Perang Baru TNI AL KRI Brawijaya-320 di Jakarta
Jakarta, IDM – Kapal perang baru milik TNI Angkatan Laut, KRI Brawijaya-320 tiba di Dermaga 107, Tanjung Priok Jakarta, (8/9).
Kapal jenis fregat ini tiba di Tanah Air setelah menempuh pelayaran selama 44 hari dari Italia. Sebelum berlabuh di Jakarta, KRI Brawijaya sempat berlabuh di Lampung.
Kedatangan kapal perang TNI Angkatan Laut yang dikomandani oleh Kolonel Laut (P) John David Nalasakti Sondakh dan diawaki sebanyak 160 prajurit tersebut disambut oleh upacara jajar kehormatan.
Sepanjang perjalanan, kapal singgah di Turki, Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Sri Lanka, menunjukkan ambisi Indonesia untuk mengembangkan kemitraan maritim di berbagai wilayah maritim utama.
Baca Juga: Culture Day Tutup Rangkaian Super Garuda Shield 2025
Demi keamanan selama pelayaran, satu tim pasukan khusus TNI AL disiagakan di atas kapal.
Sebagai kapal perang multifungsi, KRI BWJ-320 dilengkapi dua geladak modular yaitu Amid Modular (Geladak Modular Tengah) dan Aft Modular (Geladak Modular Buritan). Kapal ini memiliki panjang 143 meter yang dapat melaju dengan kecepatan maksimum hingga 32 knot. (IDM/Septo Kun Wijaya)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.
























































































