Kapal Induk Prancis Charles de Gaulle (R91) Bersandar di Lombok
Jakarta, IDM – Kapal induk "Charles de Gaulle (R91)" milik Angkatan Laut Prancis, bersandar di Pelabuhan Gili Mas, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, (28/1). Kedatangan kapal tersebut merupakan bagian dari Operasi Clemenceau 25.
Membawa lebih dari 1.780 awak kapal, Charles de Gaulle (R91) adalah salah satu kapal perang terbesar dan termodern di dunia. Kapal ini memiliki panjang 262 meter dan dilengkapi dengan berbagai persenjataan canggih serta sejumlah pesawat tempur.
Sebelumnya, Prancis telah menyelenggarakan latihan gabungan multinasional La Perouse ke-5 bersama sejumlah negara yang berbatasan dengan Samudra Pasifik.
Baca Juga: Pembukaan Wisata Edukasi “Lorong Sejarah” di Kementerian Pertahanan
Dalam latihan tersebut negara peserta melakukan operasi keselamatan maritim di Selat Malaka, Selat Sunda dan Selat Lombok, yang meliputi perdagangan ilegal, imigrasi ilegal/TPPO, bencana lingkungan yang disebabkan oleh kecelakaan pelayaran serta mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami.
Sebagai negara yang berbatasan dengan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, Prancis dan Indonesia secara teratur bekerja sama untuk keamanan maritim di kawasan ini. (IDM/Muhammad Hidayat)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.
























































































