Faktor Penting Peningkatan Anggaran Pertahanan untuk Persiapan Potensi Terjadinya Konflik

Jakarta, IDM – Saat ini dunia sedang dihadapi beberapa konflik yang beberapa di antaranya adalah konflik Rusia-Ukraina, serangan militer di Gaza hingga Iran-Israel yang menyebabkan ketegangan geopolitik di dunia.
Potensi konflik antarnegara akan selalu ada dan perang bisa kapan saja terjadi di negara manapun, termasuk di Indonesia.
“Hal ini menepis pandangan bahwa pertahanan negara bukan hal yang prioritas, justru sebaliknya, kita harus siap perang karena kita ingin damai,” ujar Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto saat penutupan perwira siswa pendidikan reguler LIII Sesko TNI 2025 di Sekolah Staf Komando TNI, Bandung, Selasa (24/6).
Baca Juga: TNI: Ada Perselisihan di Tubuh OPM Jadi Banyak Anggotanya Ikrar Kembali ke NKRI
Agus mengingatkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa saat ini dunia sedang menghadapi ketidakpastian. Pernyataan Panglima TNI perlu didukung dengan kesiapan anggaran pertahanan yang mumpuni. Apalagi saat ini, anggaran pertahanan Indonesia hanya sekitar 0.8 persen dari PDB.
Kondisi lanskap tersebut, menurut Direktur Eksekutif Human Studies Institute (HSI), Rasminto, peningkatan anggaran pertahan semestinya tidak dipandang sebagai beban fiskal, melainkan sebagai investasi strategis bagi masa depan bangsa.
Pertahanan yang tangguh, terang Rasminto, bukan hanya instrumen perlindungan wilayah, tetapi sekaligus fondasi stabilitas nasional dan ketahanan sosial politik sebuah bangsa.
“Namun di sinilah muncul paradoks pertahanan negara, yakni semakin kuat postur pertahanan suatu negara, semakin kecil kemungkinan negara itu diserang,” terangnya kepada Indonesia Defense Magazine di Jakarta, Selasa (24/6).
Baca Juga: Di Hadapan Pasis, Panglima TNI: Kita Harus Siap Perang Untuk Damai
Ia menambahkan, penguatan postur pertahanan adalah esensi dari kekuatan sebagai deteren strategis dengan kesiapsiagaan menjadi instrumen perdamaian. Maka, penguatan pertahanan bukan tindakan agresif, melainkan langkah preventif yang rasional dan strategis. Indonesia tidak bisa lagi bersikap reaktif dalam menghadapi ancaman, baik militer maupun non militer.
Kondisi dengan dinamika bangsa yang kompleks ini, jelasnya, diperlukan postur pertahanan yang modern, adaptif, profesional, dan didukung oleh anggaran yang proporsional serta berkelanjutan.
“Seperti dikatakan dalam pepatah Latin, si vis pacem, para bellum, jika menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang. (nhn)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































