HANKAM

Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kemlu: Korea Selatan Mitra Strategis Indonesia di Indo-Pasifik

Pesawat KF-21
Pesawat KF-21 (Foto: Dok. ROKAF)

Jakarta, IDM – Dirjen Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri, Santo Darmosumarto, mengatakan Korea Selatan merupakan mitra strategis Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.

Ia mengatakan hal tersebut saat sosialisasi lomba menulis yang digelar Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) dengan tema “Kemitraan Strategis RI-Korsel 2026: Pertahanan, AI, dan Pengembangan SDM” di Jakarta, Minggu (17/5).

Santo menyebut, Indonesia-Korea Selatan memiliki hubungan strategis yang semakin signifikan, tidak hanya soal industri pertahanan, tetapi juga ekonomi hingga penguatan stabilitas kawasan.

“Korea Selatan selalu menjadi negara strategis bagi Indonesia. Tidak hanya karena investasi dan perdagangan, tetapi juga kerja sama yang bersifat historis, termasuk pengalaman demokratisasi, governance, hingga pembelajaran pembangunan ibu kota baru,” jelas Santo dalam rilis yang diterima, Senin (18/5).

Indonesia-Korsel dalam arsitektur geopolitik Indo-Pasifik yang semakin kompetitif memiliki posisi sebagai kekuatan menengah yang berperan menjaga keseimbangan kawasan.

Baca Juga: Penembakan Prajurit, TNI AD Tangkap 2 Orang Pelaku

Kedua negara, lanjut Santo, bersama dengan Australia pernah dikenal dalam konsep kerja sama negara menengah dengan akronim KIA (Korea, Indonesia, Australia), kelompok negara yang sejalan dalam perspektif menjaga stabilitas regional.

“Negara-negara middle power dapat menjadi motor kerja sama kawasan sekaligus penyeimbang di tengah dinamika kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, maupun Jepang,” jelas Dubes RI untuk Kamboja tahun 2023-2026 ini.

Pascakunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Seoul beberapa waktu lalu, pemerintah menegaskan tidak ada perubahan dalam cara Indonesia memandang Korea Selatan. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Indonesia untuk memastikan Korea Selatan tetap berada di “halaman pertama” diplomasi ekonomi dan strategis Indonesia.

“Kunjungan Presiden membawa sinyal yang sangat jelas bahwa Korea Selatan tetap menjadi destinasi penting bagi Indonesia, baik dalam investasi, perdagangan, industrialisasi, maupun kerja sama pertahanan,” katanya.

Salah satu simbol penting kemitraan strategis kedua negara adalah proyek pengembangan pesawat tempur bersama KF-21 Boramae. Menurut Santo, kerja sama tersebut memiliki arti strategis bagi kemandirian industri pertahanan Indonesia, namun harus dilihat dalam kerangka integrasi yang lebih luas.

Baca Juga: Hadiri PACS 2026, Pangkoopsudnas dan Pimpinan AU Negara Pasifik Bahas Isu Keamanan Regional

Indonesia saat ini menjalin kerja sama pertahanan dengan berbagai negara, termasuk Prancis, Turki, dan Tiongkok. Karena itu, tantangan utama bukan sekadar memiliki banyak mitra, tetapi memastikan seluruh sistem pertahanan nasional dapat terintegrasi.

“Yang penting adalah bagaimana berbagai kerja sama dari banyak sumber itu bisa menjadi satu sistem yang integratif dan berfungsi secara keseluruhan bagi pertahanan nasional,” tegas Santo yang menjadi salah satu juri Lomba Menulis ISDS ini.

Dia menilai penyelenggaraan lomba menulis strategis memiliki relevansi yang semakin besar di tengah era informasi digital yang serba cepat dan minimalis. Santo juga menyoroti bahwa kreativitas intelektual manusia tetap memiliki peran penting di tengah berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, pemikiran yang tidak selalu linear atau bahkan terlihat tidak logis justru sering melahirkan terobosan besar dalam sejarah strategi dan keamanan global.

Ia mencontohkan konsep nuclear deterrence, yang pada awal kemunculannya dianggap paradoksal karena gagasan bahwa kepemilikan senjata nuklir dapat menciptakan perdamaian tampak bertentangan dengan logika umum.

“Dulu konsep deterrence nuklir terasa tidak masuk akal, bagaimana senjata pemusnah massal justru menciptakan stabilitas? Tapi sejarah menunjukkan konsep itu menjadi salah satu faktor pencegah konflik besar antarnegara,” jelasnya.

Baca Juga: Di Papua, TNI AD Ketuk Rumah Warga Periksa Kesehatan Gratis

Karena itu, Santo menilai lomba menulis strategis bukan sekadar kompetisi akademik, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun kapasitas pemikiran strategis nasional.

Sementara itu, CEO sekaligus Co-Founder Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), Dwi Sasongko, menilai penyelenggaraan lomba menulis tersebut merupakan bagian dari pendekatan diplomasi publik yang relevan di era hubungan internasional modern.

“Melalui kompetisi menulis ini, kami ingin membuka ruang partisipasi publik agar masyarakat dapat memahami dinamika kerja sama strategis tersebut secara lebih kritis, sekaligus ikut berkontribusi dalam membangun gagasan yang konstruktif bagi kepentingan nasional,” ujar Dwi.

Lomba menulis ISDS berlangsung sejak 17 April hingga 7 Juni 2026 dan terbuka bagi masyarakat berusia di atas 17 tahun. Pengumuman 18 pemenang dijadwalkan pada pertengahan Juni 2026. (nhn)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.