HANKAM

Taifib Turunkan 16 Peterjun untuk Infiltrasi pada Latopsla Aspek Udara 2024

Latopsla Aspek Udara
Prajurit Taifib 2 Marinir melaksanakan latihan terjun bebas (free fall) di langit Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (4/7). (Foto: Dok. Pasmar 2)

Jakarta, IDM – Sebanyak 16 prajurit dari Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) 2 Marinir melaksanakan latihan terjun bebas (free fall) di langit Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (4/7).

Dikutip dari keterangan Pasmar 2, kegiatan terjun bebas tersebut dalam rangka persiapan menjelang materi infiltrasi pasukan khusus (Rubber Duck Operation) pada latihan kesiapan operasi laut aspek udara Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) 2024.

Komandan Yontaifib 2 Letkol (Mar) Sandi Varikta yang memimpin langsung latihan tersebut, mengatakan kegiatan terjun bebas ini bertujuan menyiapkan prajurit Taifib 2 Marinir yang terlatih dengan baik dan memiliki combat readiness tinggi.

Baca Juga: Wing Udara 3 Biak Terima Tambahan 2 Pesawat dari Sidoarjo

Dalam latihan itu, belasan peterjun dari Taifib 2 Marinir melakukan penerjunan dalam satu sortie dan dua putaran (round) di ketinggian 8.000 kaki, menggunakan pesawat Cassa dari Skadron 600 Wing Udara 2 Puspenerbal.

Latopsla Aspek Udara
(Foto: Dok. Pasmar 2)

"Saya tekankan kepada seluruh peterjun agar selalu berhati-hati dalam melaksanakan kegiatan penerjunan dengan memperhitungkan setiap perubahan angin dan tetap memperhatikan prosedur keamanan (zero accident)" ujar Sandi.

Sebelumnya, Wakil Komandan Puspenerbal Laksamana Pertama Bayu Alisyahbana membuka latihan kesiapan operasi laut aspek udara 2024 di Lanudal Juanda, Sidoarjo, Selasa (2/7).

Baca Juga: Kondisi Makam Cut Meutia Tak Terurus, Akses Jalan Memprihatinkan

Latihan tersebut akan berlangsung selama dua pekan, yakni 2-14 Juli dengan melibatkan 365 peserta dari Wing Udara 1 dan Wing Udara 2, Lanudal Juanda, Rumah Sakit TNI AL (RSAL) Soekantyo Tjaha, unsur kapal perang jajaran Koarmada II, dan Taifib 2 Marinir.

Latopsla Aspek Udara
(Foto: Dok. Pasmar 2)

Bayu menyampaikan, latihan ini penting untuk membina kekuatan penerbangan TNI AL, termasuk pengintaian maritim, antikapal selam, antikapal permukaan, pendaratan pasukan lintas helikopter, dukungan logistik cepat, pengamanan laut serta dukungan pesawat udara.

"Latihan ini bertujuan meningkatkan kesiapan dan kinerja dalam menjalankan tugas pokok Puspenerbal sebagai Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) TNI AL serta dalam rangka penegakan kedaulatan dan hukum di laut," terang Bayu, dikutip dari keterangan Dispen Puspenerbal.

Baca Juga: Pangkoopsudnas Tinjau Kesiapan Delegasi TNI AU Jelang Latihan Operasi Udara “Pitch Black ‘24”

Selama dua minggu ke depan lanjutnya, peserta latihan akan menggali lebih dalam mengenai hakikat dan pentingnya latihan serta kaitannya dengan tujuan utama organisasi.

"Kita harus bersinergi dalam membina kemampuan, mengasah naluri tempur, dan meningkatkan kerja sama seluruh awak pesawat secara periodik," ujar Bayu. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.