Panglima TNI Yudo: Angkatan Laut Indonesia Harus Lebih Pede

Jakarta, IDM - Panglima TNI Laksamana Yudo Margono, menegaskan Angkatan Laut Indonesia harus lebih percaya diri dalam setiap latihan bersama dengan negara lain.
Hal tersebut diucapkan Yudo saat menghadiri exit briefing kepada 500 prajurit TNI AL, menjelang serah terima jabatan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) di Balai Samudra, Jakarta, Rabu (21/12).
“Kalau kita sudah diakui setara secara universal dengan angkatan laut negara lain, kita jangan minder dan takut lagi,” tegasnya di hadapan ratusan prajurit Jalasena.

Yudo menekankan, TNI AL harus pede dan jangan minder saat diajak ikut program latihan negara lain, baik itu sifatnya latihan mandiri, latihan bersama, bahkan gabungan.
“Tidak ada negara manapun apabila ada angkatan lautnya yang mempunyai program latihan tidak mengundang TNI AL. Itu belum pernah ada,” kata Yudo.
Baca: 17 KRI TNI AL Dilibatkan dalam Multilateral Naval Exercise Komodo 2023
Sebelumnya, 500 prajurit TNI AL yang hadir dalam exit briefing terdiri dari para pejabat utama Mabesal, Pangkotama TNI AL prajurit Koarmada RI, Pushidrosal, Kolinlamil, Kormar, Puspomal Seskoal, Lantamal III, Koarmada I, dan Lanudal Pondok Cabe. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































