Panglima TNI Tinjau Persiapan Satgas Operasi Pemeliharaan Perdamaian Dunia

Jakarta, IDM – Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menekankan pentingnya penyempurnaan standar perlengkapan yang akan digunakan prajurit dalam melaksanakan operasi pemeliharaan perdamaian dunia (OPPD) di luar negeri.
Hal tersebut disampaikan Agus saat meninjau persiapan Satuan Tugas (Satgas) OPPD lewat 'Gelar Bekal Perlengkapan' di Wisma Ahmad Yani, Menteng, Jakarta, Rabu (17/07).
Baca Juga: Tingkatkan Kolaborasi Pertahanan, Prabowo Terima Kunjungan Dubes Arab Saudi
Sejumlah hal seperti kelayakan perlengkapan menjadi salah satu aspek yang dipastikan. Dalam agenda tersebut, para personel juga menerima saran Agus terkait efektivitas bekal yang akan digunakan selama melaksanakan operasi.
"Gelar Bekal Satgas OPPD ini bertujuan untuk meminta saran dan masukan dari Panglima TNI dalam memastikan tingkat standarisasi, efektivitas dan kelayakan perlengkapan," bunyi keterangan resmi dari Puspen TNI, Jumat (19/07).
Baca Juga: Marinir Kerahkan 53 Prajurit hingga 4 Ranpur untuk HUT RI di IKN
Adapun beberapa perlengkapan yang ditinjau kelayakannya oleh Agus meliputi tutup kepala; tutup badan; tutup kaki; atribut dan tanda pangkat, serta perlengkapan kesehatan lapangan. (un)
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































