Mata Senyap di Ujung Cakrawala: Mengupas Kekuatan Baru Puspenerbal Skuadron 700

Di tengah deru mesin pesawat konvensional yang membelah langit, sebuah revolusi telah lahir di tubuh Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal). Tanpa awak, tanpa suara bising, namun memiliki ketajaman pandangan yang menembus batas cakrawala. Inilah Skuadron 700, satuan termuda sekaligus penjaga masa depan kedaulatan maritim Indonesia.
Jakarta, IDM – Perkembangan teknologi militer modern telah mengubah wajah medan tempur secara drastis. Kebutuhan akan data intelijen yang secara berkala (real-time), akurat, dan berisiko rendah bagi personel menjadi prioritas utama. Menjawab tantangan tersebut, TNI Angkatan Laut (TNI AL) tidak tinggal diam. Berdasarkan Peraturan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Nomor 10 Tahun 2016, dibentuklah Skuadron 700 Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA) di bawah naungan Wing Udara 2 Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal), yang bermarkas di Landasan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur.
Kehadiran satuan ini bukan sekadar pelengkap, melainkan sebuah lompatan strategis. Pejabat sementara (Pjs) Komandan Skuadron 700, Letkol Laut (P) Iwan Purwanto, menegaskan pembentukan satuan operasional ini adalah respons mutlak terhadap tuntutan zaman.
“Pembentukan Skuadron 700 dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi militer modern. Pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) terbukti efektif dalam melaksanakan fungsi intai taktis dan pengamatan laut dengan risiko keselamatan yang sangat rendah bagi prajurit kita,” ujar Iwan kepada Indonesia Defense Magazine, Selasa (9/12).

Elang Pengintai dari Amerika hingga Karya Anak Bangsa
Sejarah Skuadron 700 tidak lepas dari kedatangan 14 unit ScanEagle melalui program hibah pemerintah Amerika Serikat. UAV jenis ini menjadi tulang punggung awal operasional skuadron, lengkap dengan sistem peluncur (launcher) dan penangkap (skyhook).
Baca Juga: Cerita Letda Inf Joko dan Prada Abraham Pertama Kali Terjun Tempur
Namun, seiring berjalannya waktu, hanggar Skuadron 700 kini telah bertransformasi menjadi rumah bagi berbagai jenis “burung besi” canggih. Selain ScanEagle X-200 yang memiliki daya tahan terbang (endurance) hingga 15 jam, satuan ini juga mengoperasikan Camcopter S-100 (VTOL), helikopter nirawak asal Austria yang mampu lepas landas tegak lurus dari geladak kapal perang sempit.
Tak hanya mengintai, skuadron ini juga menjadi ujung tombak latihan tempur armada melalui pengoperasian target drone TN-70M dan SCRAB II. Kedua drone ini bertugas menjadi “musuh simulasi” berkecepatan tinggi untuk menguji ketajaman peluru kendali (rudal) dan meriam kapal perang (KRI).

Lebih membanggakan lagi, hanggar di Skuadron 700 juga diisi oleh Multicopter AI V-400 dan Ambara, drone canggih karya anak bangsa yang membuktikan bahwa teknologi pertahanan buatan dalam negeri kian mandiri.
Keistimewaan satuan ini terletak pada fleksibilitasnya. Berbeda dengan skuadron konvensional, Skuadron 700 memiliki kemampuan tak bergantung pada landasan pacu (runway independent).
“Keunggulan utama kami adalah kemampuan beroperasi dari mana saja, baik berbasis darat maupun on board di atas kapal perang. Sistem kami modular, efisien, senyap, dan memiliki endurancejauh lebih lama dibanding pesawat konvensional,” jelas Iwan dengan antusias.
Baca Juga: Penanggulangan Bencana dalam Negeri hingga Penugasan Internasional
Mata dan Telinga Armada
Dalam doktrin peperangan laut modern, informasi adalah senjata yang paling mematikan. Di sinilah peran vital Skuadron 700 dimainkan. Mereka adalah mata yang tak pernah berkedip di angkasa, melaksanakan misi intelijen atau ISR (Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) baik dalam Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Dari dukungan operasi pemahaman situasi wilayah maritim atau Maritime Domain Awareness, pengawasan perbatasan, hingga pemantauan lokasi bencana alam, data citra udara yang dihasilkan oleh Skuadron 700 menjadi referensi vital bagi para pengambil keputusan di lapangan. Kemampuan mereka untuk berintegrasi langsung dengan kapal perang menjadikan jangkauan mata armada tempur TNI AL semakin luas dan tajam.
Di Balik Kendali: 33 Kesatria Langit
Masih bertajuk “tanpa awak”, jiwa dari skuadron ini tetaplah manusia-manusia terpilih. Saat ini, Skuadron 700 diawaki oleh sekitar 33 personel elite yang terdiri dari penerbang UAV, teknisi mesin penerbangan (flight engineer), teknisi avionik, hingga tim pendukung darat (ground crew).
Mereka bukan prajurit sembarangan. Para pengawak ini telah ditempa melalui seleksi ketat dan pendidikan khusus, mulai dari kursus dasar (basic UAV course), pelatihan teknis bersama Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy), hingga sertifikasi industri. Setiap misi dikendalikan dengan presisi tinggi oleh tim yang terdiri dari koordinator misi, pilot penerbang, dan teknisi mesin.
Baca Juga: Ditempa Latihan Fisik hingga Mengenal Karakteristik Payung Udara
Menatap Masa Depan
Visi Skuadron 700 ke depan sangat jelas: menjadi pusat kekuatan UAV maritim TNI AL yang mandiri dan disegani. Rencana strategis mencakup moderni sasi sistem komunikasi data (data link) berbasis satelit untuk jangkauan tak terbatas, serta kolaborasi erat dengan industri pertahanan dalam negeri, seperti PT Dirgantara Indonesia dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk pengembangan UAV Nasional.

Menutup perbincangan, Iwan menyampaikan optimismenya terhadap peran strategis satuannya di masa depan.
“Ke depan, Skuadron 700 diarahkan untuk terintegrasi penuh dengan kapal perang untuk patroli jarak jauh. Kami optimis, kehadiran kami akan memperkuat kemampuan Puspenerbal sebagai mata di langit (eyes in the sky) dan kepanjangan tangan (fleet arm) bagi Armada TNI AL dalam menjaga setiap jengkal kedaulatan wilayah laut Indonesia,” pungkasnya.
Di hanggar Lanudal Juanda, para teknisi kembali sibuk mempersiapkan bird untuk misi berikutnya. Senyap, tak terlihat, namun selalu waspada. Skuadron 700 telah siap lepas landas, memastikan laut Nusantara tetap aman di bawah sayap pelindung mereka.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































