Cerita Letda Inf Joko dan Prada Abraham Pertama Kali Terjun Tempur

Jakarta, IDM – Walaupun tidak mudah, bagi Prajurit Dua (Prada) Abraham Jikakolondam dan Letnan Dua (Letda) Inf Joko Widodo terjun tempur adalah impian mereka. Apalagi jika Wing Para tersemat di seragam mereka, itu merupakan kebanggaan. Mereka mengaku rela ditempa, dididik agar cita-cita menjadi prajurit Lintas Udara (Linud) tercapai.
“Saya amat bangga, soalnya salah satu orang timur yang bisa rasakan masuk satuan pasukan lintas udara (Linud). Jadi kebanggaan tersendiri bagi saya,” ujar Abraham ditemui di Malang, Desember 2025 lalu.
Abraham yang berdinas di Yonif 501 Kostrad, Madiun ini mengaku awal terjun tempur tidak terlalu susah. Walaupun terbesit rasa takut namun ketika tekad dan keberanian terbentuk akan jadi lebih mudah.
“Rasa penasaran saat terjun perdana itu tinggi, soalnya belum pernah rasakan. Dan ketika sudah keluar dari pesawat itu rasanya segar banget dan pengen ulang lagi, pengen lagi,” kata Abraham.
Baca Juga: Penanggulangan Bencana dalam Negeri hingga Penugasan Internasional
Lebih lanjut, kata Abraham bekal pelatihan yang mereka ikuti jadi sangat berguna. Terutama latihan fisik di kaki dan perut. “Jadi ketika diterapkan saat penerjunan, semua jadi terasa ringan karena fisik sudah ditempa sebelumnya,” kata Abraham.
Berbeda dengan Abraham, Letnan Dua (Letda) Inf Joko Widodo mengaku walaupun sudah lama berdinas di satuan tapi baru kali ini mendapatkan kesempatan terjun perdana. “Dulu satuan infanteri biasa, sekarang di Linud. Jadi suatu kebanggaan. Dulu cuma lihat orang terjun, sekarang sudah merasakan lagi melayang, “lahir di udara”,” kata Joko.

Menurut Pria asal Trenggalek ini, ada perbedaan ketika prajurit berdinas di satuan Linud. Tantangan yang ia rasakan lebih menantang. “Kalau satuan yang lain mungkin kita pertempuran di darat, tapi kalau di Linud itu kita merasakan sensasi luar biasa. Bisa bertempur di darat, bisa terjun pula,” kata Joko.
Walaupun begitu, Joko mengaku tetap was-was karena ini adalah terjun perdananya. Di dalam pesawat rasa ketakutan itu muncul namun semuanya sirna ketika sudah melayang di udara. “Di dalam pesawat itu rasa deg-degan ada. Tapi setelah payung mengembang, itu rasanya luar biasa. Menikmati nikmat Tuhan yang tak terhingga, alhamdulillah saya bisa melayang dan menikmati dari atas,” kata Joko yang sekarang berdinas di Yonif 501 Bajra Yudha.
Baca Juga: Terjun Perdana Divisi Infanteri 2 Kostrad: Jejak Keberanian Para Prajurit
Ia memastikan penerapan ilmu yang diberikan pelatih efektif, jika diikuti secara seksama. Misalnya bagaimana teknik atau cara keluar dari pesawat. Kemudian cara operasionalkan payung agar bisa melawan arus angin dan bagaimana teknik pendaratan.
“Saat awal keluar dari pesawat, ilmu dari pelatih itu harus kaki rapat. Kemudian bagaimana mengendalikan payung, yang utama kita harus melihat arah angin. Kita harus melawan arah angin. Karena kalau mengikuti arah angin, kecepatan payung susah dikendalikan karena meluncur kencang,” kata Joko.
Bagaimana teknik mengetahui arah angin? Joko membeberkan cara otodidak yang ia terapkan yaitu dengan menggunakan pita. Jika berada di atas, pita ini akan bergerak sesuai arah angin jadi seorang peterjun akan mengetahui arah angin dari pita tersebut.
“Kalau teknik pendaratan, doktrin dari pelatih, posisi apapun yang penting posisi kaki dan tangan rapat. Apapun kondisi pendaratan, insyaallah selamat,” tutup Joko.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































