Laksamana Achmad Sutjipto, Mantan KSAL yang Pernah jadi Danjen Akabri Tercepat Hanya 27 Hari

Jakarta, IDM – Mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) ke-16 Laksamana TNI (Purn) Achmad Sutjipto meninggal dunia. Almarhum mengembuskan napas terakhirnya pada usia 81 tahun di Rumah Sakit (RS) Medistra, Jakarta.
Pihak Korps Marinir mengonfirmasi langsung kabar duka terkait berpulangnya sang pelaut senior. Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Korps Marinir Kolonel (Mar) Rana Karyana membeberkan detail waktu dan tempat berpulangnya sang purnawirawan bintang empat tersebut.
"Telah meninggal dunia pada Kamis, 18 Juni 2026 pukul 07.00 WIB di RS Medistra Jakarta karena sakit," ujar Rana dalam keterangannya, dikutip Kamis (18/6).
Achmad Sutjipto meninggalkan warisan pengabdian yang panjang di matra laut. Mundur jauh ke belakang, lini masa sejarah sempat membawa sang jenderal maritim mencetak sebuah anomali unik berupa rekor kilat yang sulit tertandingi dalam sejarah militer tanah air.
Baca Juga: Kisah Ryamizard Ryacudu Bersama Marinir Bebaskan Tawanan di Kamboja
Pecah Rekor Kilat 27 Hari di Akabri
Momen langka itu terjadi pada 2 Juni 1998. Atmosfer politik Indonesia kala itu sedang mendidih pascaruntuhnya rezim Orde Baru. Di tengah fase transisi reformasi yang penuh ketidakpastian tersebut, Achmad Sutjipto menerima mandat krusial untuk menakhodai Komandan Jenderal Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Danjen Akabri).
Namun, roda organisasi militer bergulir begitu cepat.
Ia hanya menduduki posisi puncak lembaga pendidikan gabungan TNI-Polri tersebut selama 27 hari saja. Tepat pada 29 Juni 1998, jabatannya langsung bergeser kembali. Waktu yang sangat singkat ini menobatkan dirinya sebagai Danjen Akabri dengan masa jabatan tercepat dalam sejarah.
Awal Karier di Korps Pelaut
Jauh sebelum rekor kilat itu tercipta, Achmad Sutjipto memulai perjalanan militernya dari bawah. Lahir di Bondowoso pada 12 Mei 1945 tepat saat masa pendudukan Jepang, ia memantapkan hati memasuki Akademi Angkatan Laut (AAL) pada 1965. Mendiang kemudian menyelesaikan studinya pada 1969 dan menyandang pangkat letnan dua dari kecabangan Korps Pelaut.
Kariernya di laut lepas melesat tajam saat memasuki jenjang perwira menengah. Pada medio 1989 hingga 1991, ia mendapatkan mandat penting untuk menakhodai berbagai kapal perang utama milik TNI AL.
Dunia militer tanah air mencatat prestasi besarnya saat ia mengemban tugas sebagai Komandan Satuan Tugas Pengalihan Kapal Bekas Jerman Timur pada 1992 sampai 1995. Misi strategis berskala besar ini bertujuan memboyong puluhan armada kapal perang asing demi memperkuat fondasi pertahanan laut yurisdiksi Indonesia.
Sukses memimpin misi pemindahan armada kapal, performa gemilang sang perwira pelaut berbuah promosi bintang. Ia resmi menjabat sebagai Kepala Staf Komando Armada RI Kawasan Timur dengan pangkat laksamana pertama pada 1995. Setahun berselang, ia naik pangkat menjadi laksamana muda kala memegang tongkat komando sebagai Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar).
Setelah menyelesaikan masa dinas di Armada Barat, Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal) menariknya untuk menduduki kursi Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) KSAL.
Puncak Komando Era Gus Dur
Setelah merampungkan tugas di barisan armada dan sempat melewati masa singkat di Akabri, takdir membawanya ke puncak tertinggi komando matra laut. Pada awal 1999, ia terlebih dahulu mengemban tugas sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Laut.
Hanya dalam hitungan bulan, tepatnya pada Juli 1999, Presiden Republik Indonesia saat itu, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), resmi melantik Achmad Sutjipto sebagai KSAL ke-16.
Ia memimpin jalannya roda organisasi TNI AL selama 14 bulan hingga memasuki masa pensiun pada Oktober 2000 dengan pangkat tertinggi laksamana bintang empat. Pengabdian tanpa batasnya membuat Korps Baret Ungu mengukuhkan nama Achmad Sutjipto sebagai Warga Kehormatan Korps Marinir ke-11 pada 1999 sebagai bentuk penghormatan tertinggi.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Akebono Jatinegara 1944 Ternyata jadi Alat Propaganda Jepang
Penghormatan Terakhir dan Pemakaman di TMP Kalibata
Otoritas TNI AL bersama pihak keluarga telah merancang seluruh rangkaian penghormatan terakhir untuk mendiang Laksamana (Purn) Achmad Sutjipto.
Upacara persemayaman berlangsung pada sore ini pukul 15.30 WIB. Prosesi penghormatan tersebut mengambil tempat di rumah duka, Jalan Gading 10 Blok D No. 45 Kodamar, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Selepas persemayaman, rombongan bakal langsung bertolak menuju tempat peristirahatan terakhir. Pihak keluarga menggelar upacara pemakaman militer pada pukul 16.30 WIB di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta Selatan.
KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali memimpin langsung kedua prosesi tersebut dengan bertindak sebagai inspektur upacara, baik saat persemayaman di Kodamar maupun prosesi penguburan di TMP Kalibata.
Sederet perwira tinggi bintang tiga matra laut juga dikerahkan untuk mengiringi kepergian sang senior menuju liang lahat. Barisan jenderal ini bertindak sebagai pengantar kehormatan serta perentang bendera di atas peti jenazah, meliputi Wakil KSAL Laksdya TNI Edwin, Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) RI Laksdya TNI Denih Hendrata, Inspektur Jenderal Angkatan Laut (Irjenal) Laksdya TNI Achmad Wibisono, Komandan Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Danpushidrosal) Laksdya TNI Budi Purwanto, serta Panglima Korps Marinir (Pangkormar) Letjen TNI (Mar) Endi Supardi.
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































