HANKAM

Kunci Pergerakan Lawan, TNI AL Integrasikan Satelit dan Siber dalam Operasi Multi-Domain

Multi-Domain Operations
Paparan Asops KSAL Laksda Yayan Sofiyan mengenai transisi doktrin TNI AL menuju Multi-Domain Operations. (Foto: Dok. YouTube Semar Sentinel)

Jakarta, IDM – TNI AL mulai meninggalkan pola pertempuran tradisional yang hanya mengandalkan kekuatan kapal perang di permukaan laut. Kini, TNI AL melakukan lompatan besar dengan mengadopsi strategi Multi-Domain Operation, sebuah sistem tempur yang mengintegrasikan lima dimensi sekaligus, yaitu darat, laut, udara, siber, hingga ruang angkasa.

Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops KSAL) Laksda Yayan Sofiyan menegaskan, penguasaan strategi ini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan syarat mutlak bagi eksistensi pertahanan Indonesia. Menurutnya, TNI AL harus mampu mengunci pergerakan lawan bahkan sebelum mereka melancarkan serangan fisik.

"Kita sudah masuk ke era Multi-Domain Operation. Integrasi antara satelit, kekuatan siber, dan data intelijen menjadi kunci untuk mendominasi pertempuran masa depan," ujar Yayan dalam diskusi strategis di Jakarta, Rabu (25/2).

Baca Juga: Belajar dari Iran, TNI AL Harus Mampu Deteksi Kapal Selam Asing di Choke Point

Menang Adu Cepat Ambil Keputusan

Poin utama dari strategi modern ini adalah penguasaan "siklus keputusan" (decision cycle). Artinya, TNI AL harus mampu mendeteksi, mengolah data, dan mengambil tindakan jauh lebih cepat daripada pemahaman situasi lawan.

Melalui ekosistem pertahanan yang terpadu, TNI AL memanfaatkan teknologi data fusion untuk menyatukan informasi dari berbagai sensor dan satelit pertahanan. Dengan begitu, komandan di lapangan memiliki gambaran medan tempur yang sangat jernih dan akurat dalam hitungan detik.

"Tujuannya adalah bagaimana kita bertindak lebih cepat daripada lawan. Sebelum musuh memahami situasi, kita sudah lebih dulu mengunci posisi dan menentukan langkah balasan," tegas Yayan.

Baca Juga: Targetkan Internet-Energi Musuh Drop 90%, TNI AL Siap Perang Sabotase Dasar Laut

Siber dan Satelit Jadi Senjata Baru

Penggunaan teknologi C6ISR (Command, Control, Communications, Computers, Cyber-Defense, Combat Systems, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) menjadi tulang punggung dalam doktrin baru ini. Yayan menyebutkan, kekuatan siber dan satelit bukan sekadar alat bantu, melainkan senjata strategis untuk membungkam lawan.

Dengan konektivitas antarmatra yang solid, TNI AL bisa melakukan penetrasi strategis yang presisi. Hal ini menciptakan daya tawar (bargaining power) yang tinggi bagi Indonesia di mata dunia, karena mampu meredam niat buruk pihak asing tanpa harus selalu melibatkan kontak senjata besar-besaran.

"Integrasi lima domain ini menjamin kita memiliki kesiapan tempur yang relevan dengan perkembangan zaman. Kita tidak boleh tertinggal dalam adu teknologi informasi di medan perang," pungkasnya. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.