Bahas Alutsista, Panglima AL Belanda Soroti Poros Kapal Selam RI-Belanda ke Prancis

Jakarta, IDM – Panglima Angkatan Laut Kerajaan Belanda Laksamana Madya Harold Liebregts, menonjolkan terbentuknya poros baru kekuatan bawah laut antara Indonesia dan Belanda yang kini sama-sama berkiblat ke Prancis. Harold secara khusus mengaitkan kemiripan pilihan strategis kedua negara yang memercayakan proyek kapal selam masa depan mereka kepada galangan kapal Naval Group.
Hal tersebut terlontar saat Harold melihat visual kapal selam yang menjadi latar belakang simposium maritim internasional di Jakarta, Senin (18/5). Ia menyebut armada bawah laut kedua negara memiliki kemiripan arsitektur karena mengadopsi rancang bangun dari raksasa industri pertahanan yang sama.
Baca Juga: Panglima AL Belanda Peringatkan Ancaman Sabotase Kabel Bawah Laut dan Celah Hukum UNCLOS
"Kapal selam yang beroperasi di wilayah Indonesia dan kapal selam kami memiliki kemiripan, karena keduanya sama-sama menggunakan rancangan porsi Prancis," ujar Harold di hadapan para delegasi pertahanan.
Pernyataan Harold merujuk pada fenomena keterikatan Prancis (French connection) yang tengah melanda lini alutsista bawah air kedua negara. Kementerian Pertahanan RI resmi memesan dua unit kapal selam Scorpène Evolved bertenaga baterai litium-ion pada April 2024 untuk memperkuat armada pemukul TNI AL di kawasan regional.
Langkah senada ternyata telah diambil oleh Pemerintah Belanda lebih dulu. Melalui pengumuman resmi pada Maret 2024, Amsterdam memenangkan Naval Group untuk menggantikan kapal selam uzur kelas Walrus milik mereka dengan empat unit kapal selam kelas Orka, yang merupakan varian konvensional dari kapal selam serbu bertenaga nuklir kelas Barracuda.
Baca Juga: KSAD Maruli Buka Suara Soal Film “Pesta Babi”
Meskipun memprioritaskan tipe yang berbeda, adopsi teknologi dari satu pabrikan yang sama ini otomatis mendekatkan interoperabilitas atau kemampuan operasi gabungan antarangkatan laut kedua negara. Kesamaan poros teknologi bawah air tersebut mempermudah pertukaran doktrin taktis serta pemeliharaan armada di masa depan.
Poros baru ini sekaligus memicu kerja sama pertahanan yang lebih dinamis di kawasan Indo-Pasifik. Terlebih, kehadiran kapal perang fregat Belanda HNLMS De Ruyter yang sempat bersandar di Surabaya beberapa waktu lalu, menjadi bukti kesamaan visi alutsista mampu mempererat diplomasi maritim dan penegakan hukum laut internasional antara TNI AL dan Angkatan Laut Belanda. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































